Ilustrasi persiapan lahan oleh petani garam. (Antara-Saiful Bahri)

<p><strong>Solopos.com, PATI &mdash;</strong> Petani garam di Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah berharap bantuan geomembran demi meningkatkan kualitas serta kapasitas produksi mereka. Saat ini, petani garam setempat dituntut bersaing dengan garam impor yang merembes ke pasar konsumsi.</p><p>Askun, salah seorang petani garam di Desa Pecangaan, Batangan, Pati, Jateng, Selasa (17/4/2018), mengakui hingga kini dirinya masih mengolah lahan tambak garam secara konvensional dan belum tersentuh teknologi modern. Akibatnya, lanjut dia, kualitas garam yang dihasilkan tidak sebaik dengan garam yang diolah menggunakan teknologi modern, seperti menggunakan geomembran.</p><p>Ia mengaku sangat berharap bisa mendapatkan bantuan plastik yang bisa digunakan sebagai lapisan pembuatan garam tersebut karena diklaim prosesnya lebih cepat dan lebih putih, dibandingkan ketika masih menggunakan lahan tanah. Untuk membeli sendiri, dia mengaku belum mampu karena harga plastiknya untuk satu rol bisa mencapai Rp2 juta.</p><p>"Sebelumnya banyak petani garam menggunakan geomembran, harganya masih cukup murah karena berkisar Rp500.00-an/rol," ujarnya. Sementara luas lahan miliknya, kata dia, berkisar 1 hektare.</p><p>Sukirno, petani garam lainnya mengakui belum merasakan hasil pembuatan garam menggunakan geomembran karena masih menggunakan cara konvensional. "Mudah-mudahan pemerintah bersedia memberikan bantuan karena di daerah lain sudah banyak petani yang mendapatkan bantuan geomembran untuk meningkatkan kapasitas produksinya," ujarnya.</p><p>Kedua petani garam tersebut, saat ini, mulai mempersiapkan tambak garam mereka untuk memproduksi garam menyusul cuaca yang cukup cerah. Selama satu musim produksi garam, ketika tidak terkendala cuaca, dia mengaku bisa menghasilkan 100 ton garam. "Jika ada hujan, maka hasil produksinya hanya separuhnya," ujarnya.</p><p>Untuk saat ini, lanjut dia, mulai mempersiapkan lahan sebelum memproduksi garam. Ia memperkirakan jika tidak ada hujan, maka pertengahan Mei 2018 sudah bisa mulai memproduksi garam karena mempersiapkan lahan memang membutuhkan waktu antara tiga pekan hingga lima pekan. Selain itu, sambung dia, masih harus mempersiapkan airnya dan menunggu hingga siap diolah menjadi garam.</p><p><a href="http://semarang.solopos.com/"><strong><em>KLIK</em></strong></a><em><strong> dan </strong></em><a href="https://www.facebook.com/SemarangPos"><strong><em>LIKE</em></strong></a><em><strong> di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya</strong></em></p>


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten