Petani bersama elemen masyarakat Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, melakukan gropyokan tikus, Minggu (20/1/2019) pagi. (Solopos-Indah Septiyaning W.)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Kalangan petani bersama elemen masyarakat di Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, serentak melakukan gropyokan tikus, Minggu (20/1/2019) pagi. Aksi itu digelar guna membasmi serangan dari hewan pengerat tersebut di sawah milik warga.

Gropyokan tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat mulai pukul 07.00 WIB. Mereka disebar di seluruh area persawahan seluas 135 hektare dengan membawa berbagai peralatan seperti cangkul, alat pemukul dan lainnya.

Pagi tadi, Cokro Raharjo, 62, petani Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, terlihat serius mengamati gerakan di saluran air lahan pertaniannya. Dengan berbekal alat berupa pentungan dari bambu, dia menunggu setiap gerakan di dalam air.

Dia bersama ratusan petani Desa Pranan dan aparat desa, TNI, Karang Taruna, serta ibu-ibu PKK melakukan gerakan gropyokan tikus guna membasmi serangan dari hewan pengerat tersebut.

Begitu terlihat ada gerakan, tangannya dengan membawa pentungan pun spontan langsung memukul tepat disumber gerakan tersebut.
"Bukkkk..." Begitu bunyi pukulan itu sangat keras dan menghujam tepat ke tubuh tikus kecil.

"Nah ki entuk tikuse [Ini dapat tikus]," kata dia sambil bersorak kegirangan. Tubuh tikus dengan berlumur darah langsung diangkat dan dipinggirkan di jalanan. 

Petani lain, Wartono, 56, mengaku beberapa lahan persemaian tanaman padi rusak gara-gara dimakan tikus. Karena itu guna mengatasi serangan hama tikus dilakukan gerakan gropyokan tikus secara massal.

"Tiap hari tikus kami buru, tapi nyatanya belum mampu membasminya. Karena dibutuhkan pembasmian bersama-sama sehingga tidak ada lagi tikus," katanya.

Kepala Desa (Kades) Pranan, Jigong Sarjanto mengatakan serangan tikus meningkat memasuki musim penghujan ini. Bahkan populasinya meningkat hingga dua kali lipat, sehingga diperlukan upaya pemberantasan tikus melalui gerakan gropyokan secara massal.

"Kami pantau semua tikus di lubang-lubang di areal persawahan. Saat ini hama tikus masih menjadi ancaman bagi petani di sini," katanya.

Dia mengatakan dalam gropyokan tersebut berhasil menangkap dan membasmi ratusan tikus. Tikus-tikus ini kemudian dikumpulkan, lalu dikuburkan. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten