Kategori: Sragen

Pesona Masjid Baitussalam Tangen Sragen, Perpaduan Arsitektur Jawa dan Timur Tengah


Solopos.com/Muh Khodiq Duhri

Solopos.com, SRAGEN -- Masjid Baitussalam berlokasi di jantung Kota Kecamatan Tangen, Sragen. Lokasinya berada tak jauh dari Sungai Bengawan Solo. Lokasinya yang berada di jalur alternatif Sragen-Grobogan dan Sragen-Ngawi menjadikan masjid ini kerap jadi jujukan para musafir.

Butuh waktu selama lebih dari tiga tahun untuk membangun Masjid Baitussalam Tangen. Masjid ini mulai dibangun pada awal 2017 dan baru diresmikan pada 1 Maret 2020 lalu. Peresmian masjid ini digelar sebelum pandemi mewabah sehingga bisa dihadiri sekitar 3.500 jemaah.

Baca Juga: Waduh, 179 Siswa SMP di Karanganyar Putus Sekolah Selama Pandemi

Masjid Baitussalam dibangun dengan perpaduan sentuhan arsitektur masjid khas Timur Tengah dan Jawa. Bagian kubah dan menara menggunakan dekorasi dengan elemen geometris. Sementara sentuhan Jawa banyak terlihat pada bagian interior. Pintu masuk masjid itu berupa gebyok layaknya rumah joglo.

Dinding masjid yang berlapis batu alam yang berpadu dengan ukiran kayu khas Jepara. “Ukiran kayu dibuat oleh para pengrajin dari Jepara. Mereka sengaja didatangkan ke sini,” jelas Suwanto, marbot Masjid Baitussalam Tangen Sragen kala berbincang dengan Solopos.com di lokasi, Rabu (21/4/2021).

Pada bagian interior, masjid ini menghadirkan pilar-pilar kokoh yang menjulang tinggi hingga menyentuh kubah. Masjid dengan dua lantai ini didominasi warna monokrom dengan unsur utama warna krem. Di tengah ruang, tergantung lampu yang terbuat dari kuningan.

Halaman Masjid

Pada halaman masjid, tertata rapi sejumlah tanaman bonsai yang berukuran cukup besar. Bonsai itu juga menghiasi bagian luar atau pagar masjid. Keberadaan bonsai itu menjadikan Masjid Baitussalam menjadi lebih memesona.

“Berapa total biaya yang dihabiskan untuk membangun masjid ini, tepatnya kami kurang tahu. Tetapi, kemungkinan menyentuh angka Rp7-10 miliar,” papar Suwanto.

Berbagai kegiatan digelar takmir masjid untuk memakmurkan masjid dengan bangunan berukuran 21 x 21 meter ini. Mulai dari kajian tafsir alquran setiap Sabtu sore, kajian Sirah Nabawi dan Riyadus Solikhin setiap malam Jumat.

Baca Juga: PSSI Antisipasi Suhu Panas Jelang Derbi Indonesia di Final Piala Menpora

“Kami ingin masyarakat tidak sekadar takjub kepada masjid ini. Kami berharap masyarakat bisa datang dan memakmurkan masjid. Kami ingin menjadikan masjid sebagai pelayan umat,” papar Suwanto.

Masjid Baitussalam juga difungsikan sebagai rumah tahfid. Saat ini terdapat 13 santri yang tengah belajar menghafal Alquran di masjid ini. Proses belajar dan menghafal Alquran itu dilaksanakan di lantai II. “Kami juga berencana menggelar iktikaf di masjid secara berjemaah pada 10 hari terakhir di bulan Ramadan,” ujar Kama Anokristi, marbot lain dari Masjid Baitussalam.

Share
Dipublikasikan oleh
Ahmad Baihaqi