Perupa Berkarya Melawan Wabah
Rahmanu Widayat (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Para seniman Indonesia sigap merespons pandemi Covid-19. Koreografer, musikus, perupa, dan seniman lain tetap berkarya. Tidak ketinggalan perupa dan desainer yang tergabung dalam keluarga besar Fakultas Seni Rupa dan Desain Univeritas Sebelas Maret (FSRD UNS).

Para perupa dan desainer yang sekaligus dosen menjalani aktivitas yang sangat padat. Mereka bekerja di rumah dan mengganti perkuliahan di kelas dengan pembelajaran online. Mereka juga disibukkan oleh pertemuan-pertemuan secara online yang banyak menyita waktu.

Para perupa, desainer, yang sekaligus dosen itu tidak sedikit yang mengikuti studi lanjut S3. Mereka mengerjakan tugas kuliah secara online pula. Ketika wabah Covid-19 kian meluas, mereka tidak tinggal diam.

Mereka tergerak dan terpanggil untuk melawan pandemi Covid-19. Mereka bukan dokter, bukan perawat, dan bukan ahli kesehatan. Apa yang bisa mereka lakukan? Tetap ada kesempatan ambil bagian. Mereka memang bukan ahli di bidang kesehatan.

Perupa dan desainer dapat meneruskan imbauan para ahli medis untuk berjuang bersama-sama. Dalam masa krisis ini, para perupa dan desainer tidak pernah berhenti berkarya di rumah maupun studio atau workshop pribadi. Mereka bekerja di tempat tinggal masing-masing.

Tidak sedikit perupa dan desainer yang terpanggil untuk berkarya. Terlibat menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi dalam masyarakat. Hal ini pernah dilakukan Affandi. Pelukis besar Indonesia ini membuat poster ”Boeng Ajo Boeng” (”Bung Ayo Bung”) untuk mengusir penjajah dalam perang kemerdekaan 1945.

Pembuatan poster itu idenya dari Bung Karno yang memberi perintah kepada pelukis S. Soedjojono yang saat itu menjabat Kepala Seksi Kebudayaan di Jawa Hokokai. Gambar di poster itu adalah orang sedang dirantai dan rantainya telah putus.

Soedjojono segera menghubungi rekan-rekannya. Affandi membuat desainnya. Modelnya adalah pelukis Dullah. Kata-katanya dibikin oleh penyair Chairil Anwar. Setelah jadi, poster tersebut dikirim ke daerah-daerah sebagai penyemangat perjuangan.

Poster dengan kata ”Boeng Ajo Boeng” menjadi terkenal. Hal ini mengusik S. Soedjojono  bertanya kepada Chairil Anwar dari mana ide kata-kata dalam poster itu. Chairil Anwar menjawab dengan enteng bahwa kata-kata tersebut terinspirasi begitu saja dari perempuan tuna susila di Jakarta yang menawarkan diri dengan berkata,”Boeng, sini Boeng...”.

Lepas dari proses pembuatannya, apa yang dilakukan Affandi adalah seni sebagai media perjuangan. Indonesia merdeka adalah hasil perjuangan berdarah-darah hasil kerja sama dan ide brilian yang lahir dari banyak orang (Mikke Susanto, 2014).

Para perupa dan desainer masa kini saat menghadapi wabah Covid-19 juga bagian dari perjuangan. Dengan mengurung diri di rumah seolah-olah bertapa, mereka merespons, menginterpretasi, dan mengekspresikan lewat karya seni rupa dan desain.

Melalui lukisan, patung, grafis murni, info grafis, keramik, kriya, karya multimedia, seni instalasi, gambar, ilustrasi, poster, film seni, iklan, komik, dan desain interior, para perupa dan desainer bersama-sama berkarya melawan wabah Covid-19.

Informasi yang disampaikan perupa kondang Tisna Sanjaya melalui grup Whatsapp Pencipta Seni sangat inspiratif. Seorang seniman pematung, sang maestro, Nyoman Nuarta, (dari Bandung) membarter karyanya yang berjudul Borobudur VI dengan pemilik PT Sritex.

Karya yang dihargai Rp1 miliar itu akan ditukar dengan alat pelindung diri dan masker yang dibuat oleh PT Sritex. Alat medis tersebut diserahkan kepada Gubernur Jawa Barat untuk disalurkan ke rumah sakit dan perawat serta dokter yang menangani Covid-19. Sumbangan Nyoman Nuarta ini diorganisasikan oleh Linda Gallery dan Konsulatn Asuransi H.D. Soeryo Indonesia Gemilang.

Pameran Internasional

Beberapa perupa dan desainer dari FSRD UNS dengan semangat seni rupa dan desain sebagai media perjuangan berkarya untuk melawan Covid-19. Sigit Adi Purnomo dari Program Studi Seni Rupa Murni membuat karya dengan judul Lawan Corona Musuh Bersama di kanvas berukuran 150 cm x 110 cm.

Karya yang didominasi warna biru dan oranye itu menghadirkan sosok misterius dengan alat pelindung diri dan segala aksesori yang siap melawan Covid-19. Jazuli Abdin Munib dari Program Studi Desain Komunikasi Visual jauh-jauh hari, hanya dengan intuisi pandemic, bukan prediksi, berkarya dengan judul Cell dan Virus.

Karya ini berbahan acrylic di kanvas berukuran 80 cm x 70 cm. Karya ini telah dipamerkan di Universitas Negeri Padang dan Poh Chang Academic Thailand pada 2019.  Yayan Suherlan dari Program Studi Seni Rupa Murni membuat poster dengan latar belakang warna merah laksana tanda bahaya dengan judul Pencegahan Covid-19 Segera Lapor.

Hermansyah Muttaqin Program Studi Desain Komunikasi Visual mengangkat jargon populer ”Social Distancing, Work From Home” untuk desain T-shirt berwarna hitam. Desy Nurcahyanti dari Program Studi Seni Rupa Murni membuat batik kontemplatif dan doa untuk bangsa dalam karya selendang batik motif Panca Adi Puspa Nusantara berbahan kain katun berukuran 90 cm x 250 cm.

Sarah Rum Handayani dari Program Studi Kriya Seni membuat kalung dari kulit mentah dilengkapi ornamen tatahan dan tanduk kerbau. Karya ini diberi judul Kulawan Corona Dengan Keteduhan, Kelembutan dalam Doa.

Perupa bereputasi internasional Dona Prawita Arissuta dari Program Studi Seni Rupa Murni berekspresi melalui media keramik berukuran 40 cm x 60 cm dengan judul Batara Kala. Raksasa pembunuh dan pemakan manusia dalam dunia pewayangan ini menjadi analogi yang tepat dengan kondisi saat ini.

Tentu menarik menyaksikan karya ekspresi seni rupa dan desain dari negara yang berbeda dalam melawan pandemi Covid-19. Para perupa dan desainer FSRD UNS bersama para mahasiswa terus bergegas, menggairahkan pameran internasional secara online. Pameran diikuti tiga perguruan tinggi seni dari Indonesia, Thailand, Vietnam. Penyelenggaranya adalah FSRD UNS.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho