PERUBAHAN IKLIM : Ganjar Bawa Ilmu Titen ke Konferensi Perubahan Iklim Dunia
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di lokasi bencana tanah longsor Dusun Jemblung, Sabtu (13/12/2014). (JIBI/Solopos/Antara/Anis Efizudin

Perubahan iklim akan dibahas dalam konferensi di Roterdam Negeri Belanda dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo diundang sebagai pembicara.

Solopos.com, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo diundang menjadi pembicara pada konferensi perubahan iklim dunia yang digelar pemerintah Belanda dan Komisi Eropa di Rotterdam, pada 7-14 Mei 2016.

“Saya akan berbicara tentang penanggulangan bencana alam dan adaptasi perubahan iklim di Jateng di hadapan 10 pemimpin dunia lainnya,” katanya di Semarang, Rabu (4/5/2016).

Konferensi tersebut dihadiri para tokoh-tokoh penanganan bencana alam dan iklim dunia dari berbagai kalangan, baik pemerintah, ilmuwan, dan swasta.

Menurut Ganjar, dirinya diundang pada konferensi tersebut karena dinilai berhasil menjadikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng sebagai nomor satu di Indonesia. “Sudah menyiapkan buku saku setebal 120 halaman berbahasa Inggris berjudul Disaster Management and Ilmu Titen. Buku ini berdasarkan pengalaman saya menangani bencana alam di Jateng,” bebernya.

Ilmu titen, imbuh Ganjar, menarik karena masyarakat mempunyai cara meramal akan terjadinya bencana alam lewat tanda-tanda alam yang tidak ada di negara lain di dunia. “Tidak kalah menariknya yakni sistem kekerabatan dan gotong royong masyarakat Jateng sehingga mampu menggerakkan masyarakat untuk saling membantu dalam penanganan bencana alam,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Jateng, Sarwa Pramana mengatakan Gubernur Ganjar Pranowo menerapkan pola penanggulangan bencana alam secara sinergitas melibatkan semua pihak terkait. Bila terjadi bencana alam, bukan hanya  BPBD yang bergerak, tetapi juga satuan kerja perangkat daerah (SKPD) provinsi dan kabupaten/kota, kepolisian, TNI, Pertamina, PLN, Telkom, dan komponen masyarakat lainnya.

“Jateng juga menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang sudah menerapkan manajemen bencana dengan pendekatan kewilayahan,” ungkap Sarwa.

Dengan pendekatan kewilayahan ini, ujar dia, bila terjadi bencana di satu kabupaten, maka kabupaten-kabupaten terdekat harus segara memberikan bantuan logistik dan lainnya. “Jateng menjadi provinsi pertama mendeklarasikan sebagai provinsi tangguh bencana,” imbuh dia.

 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho