Ilustrasi inflasi (JIBI/Harian Jogja/Reuters)

Pertumbuhan ekonomi DIY membaik di triwulan ketiga

Solopos.com, JOGJA- Di tengah perlambatan perekonomian nasional, peningkatan belanja pemerintah serta membaliknya kinerja ekspor justru mendorong pertumbuhan perekonomian di DIY. Pada triwulan kedua 2015, pertumbuhan ekonomi di DIY tercatat sebesar 4,72%.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Arif Budi Santosa mengatakan, pertumbuhan pada triwulan kedua 2015 meningkat dibandingkan triwulan pertama 2015. Pertumbuhannya sebesar 4,16% (year on year).

Dia menyebut, pengeluaran pemerintah untuk proyek-proyek infrastruktur mendorong investasi tumbuh sebesar 3,65% (yoy). “Pertumbuhan ekonomi pada triwulan sekarang ini, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya. Tercatat sebesar 9,44 persen,” ujar Arif melalui rilis yang diterima Harian Jogja, Kamis (27/8/2015).

Sementara, ekspor tekstil ke Amerika Serikat dan tiongkok yang menjadi pendorong utama untuk memperbaikan kinerja ekspor yang sebelumnya menurun -13,49% menjadi -0,47% (yoy). Keberadaan hari libur sekolah mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di sektor jasa pariwisata dan perdagangan.

Perlambatan ekonomi nasional, ujar Arif, memang berdampak pada perlambatan sektor utama di DIY. Sektor industri pengolahan dan sektor penyedian akomondasi dan makan minum mengalami penurunan sejak triwulan sebelumnya. “Perlambatan tersebut juga menurunkan permintaan konsumsi rumah tangga karena kenaikan biaya energi listrik,” ujarnya.

BI DIY memperkirakan, selama triwulan ketiga 2015, kondisi ekonomi DIY di perkirakan semakin membaik. BI memperkirakan ekonomi DIY akan tumbuh sebesar 5.12%+0,5%(yoy) atau mengalami peningkatan dibandingkan triwulan laporan yang tercatat sebesar 4,71% (yoy).

“Pengeluaran pemerintah untuk konsumsi dan investasi di perkirakan akan meningkat, seiring dengan semakin banyak proyek-proyek infrastruktur yang direlisasikan. Belanja rutin pegawai akan menigkat untuk tunjangan Idulfitri,” ujarnya.

Selain itu, konsumsi rumah tangga diperkirakan akan ekspansi atau tumbuh meningkat seiring dengan perayaan Idulfitri, pengeluaran untuk ajaran baru, terutama perguruan tinggi. Secara sektoral, jasa akomodasi dan makanan minuman diperkirakan akan tumbuh lebih baik pada triwula ketiga ini. Sesuai dengan karakter DIY, katanya, kunjungan wisata meningkat selama libur Idulfitri .

“Wisatawan domestik ini diharapkan meningkatkan pertumbuhan sektor industri pengolahan makanan dan minuman. Begitu juga dengan peningkatan industri ekspor tekstil yang menjadi sumber penigkatan industri pengolahan,” katanya.

Arif mengatakan, tingginya tekanan administered price, persiapan menjelang Ramadan dan libur sekolah, berdampak pada meningkatnya inflasi DIY pada triwulan kedua 2015 di bandingkan triwulan sebelumnya. Inflasi DIY triwulan kedua tercatat sebesar 5,68% (yoy), lebih tinggi dari Triwulan pertama 2015 sebesar 5,13% (yoy).

“Menigkatnya inflasi didorong oleh penigkatan harga kelompok administered price yang bersumber dari peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM), elpiji dan tarif listrik,” terang Arif.

Sementara, kenaikan harga bahan pangan juga memengaruhi inflasi kelompok volatile food seiring aktivitas Ramadan dan libur sekolah. Secara keseluruhan, sambungnya, dampak volatile food selama triwulan kedua terbatas karena harga komoditas beras yang mengalami defisi pada bulan pertama triwulan kedua masih terjaga.

“Tekanan inflasi kelompok inti sedikit mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Ini akibat dampak lanjut kenaikan tarif listrik yang mempengaruhi biaya sewa rumah,” kata Arif.

Di sektor perbankan, selama triwulan kedua kinerjanya mengalami pelambatan. Meski begitu, Arif menegaskan, stabilitas sistem keuangan (SSK) tetap Terjaga. Pertumbuhan penyaluran kredit perbankan DIY tumbuh melambat sebesar 10,34% (yoy).

Kondisi tersebut terjadi karena adanya perlambatan pertumbuhan investasi sektor swasta. Pertumbuhan penyaluran kredit di sektor-sektor utama, seperti industri, perdagangan besar dan eceran, serta kontruksi mengalami perlambatan.

“Perlambatan ekonomi nasional juga berdampak pada melemahnya sektor industri pariwisata yang merupakan pergerakan sektor perdagangan, hotel, dan restoran, serta industri olahan makanan dan batik di DIY, Sehingga akhirnya mempengaruhi kinerja perbankan,” kata Arif.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten