Ilustrasi bioskop (Youtube)

Solopos.com, SOLO -- Jalan-jalan ke mal sembari melepas penat mampir menonton film di bioskop mungkin jadi kegiatan spontan sederhana buat para lajang. Lain cerita ketika kita sudah dikarunia buah hati. 

Sejumlah orang tua dihadapkan pada dilema ketika akan membuat keputusan memboyong keluarganya ke bioskop. Satu sisi bisa merasa lebih tenang karena anak berada dalam pengawasan sendiri. Di sisi lain juga khawatir pada dampak fisik dan mental yang ditimbulkan saat mengajak anak nonton layar lebar. 

Sebelum yakin membawa anak-anak ke bioskop, ada baiknya orang tua memperhatikan beberapa aspek berikut seperti dikutip dari sejumlah sumber yakni verywellfamily.com, mother.ly, cinemablend.com:

1. Kesiapan mental dan fisik anak

Pastikan anak dalam keadaan siap fisik dan mentalnya ketika diajak menonton layar lebar. Kebanyakan orang tua membawa putra atau putrinya ke bioskop setelah usianya tiga tahun. Namun ada juga yang lebih terlambat, dengan pertimbangan buah hatinya sensistif pada suara kelewat kencang dan takut gelap.

Pertimbangan tersebut berhubungan dengan tingkat kebisingan suara di bioskop. Center for Hearing and Communication di Amerika Serikat menyebut bioskop setempat acapkali menyetel volume di angka lebih dari 90 desibel. Padahal apa pun di atas level 85 desibel sebenarnya tidak baik dikonsumsi berlebihan. Terlebih bagi anak-anak yang bagian pendengarannya masih berkembang. Mereka disarankan untuk mendengarkan sesuatu di level 45 desibel.

Sebelum membawa si kecil, ada baiknya sedikit repot menyambangi pengelola bioskop untuk memastikan kadar kebisingan di teater yang ditonton. Jika ternyata suaranya kelewat kencang, ada baiknya mengurungkan niat dan menonton film lain di rumah. Atau tunggu sampai masa perkembangan fisik buah hati kita sempurna. 

2. Pilih film yang tepat

Sebagai orang tua tentunya kita ingin memberikan yang terbaik buat si kecil. Biasanya pilihan jatuh pada jenis animasi. Jika tidak, bisa juga menjatuhkan pilihan pada film keluarga untuk semua umur.

Namun setiap keluarga punya patron nilai tertentu yang dianut, termasuk urusan menonton film. Ada yang menganggap film dengan kategori dewasa sah-sah saja ditonton bersama anak asalkan disertai diskusi kecil selepas menonton. Ada juga yang berkukuh anak remajanya belum boleh menonton film di bioskop yang punya rating PG-13.

Aturan sensor mandiri tersebut dikembalikan kepada pola asuh masing-masing. Apakah buah hatinya tidak masalah melihat adegan ciuman, berkelahi, atau sumpah serapah.

Kendati ada sensor mandiri, di beberapa negara maju sudah menerapkan anak-anak dilarang menonton bioskop lewat jam tidur pada pukul sembilan malam, apa pun jenis filmnya. Pilih film yang durasinya tak terlalu panjang. 

3. Masuk ketika film utama siap diputar

Sebelum film utama main, biasanya ada jeda sekitar 10 menit untuk advertorial maupun iklan layanan masyarakat. Waktu tersebut cukup panjang terutama buat anak di bawah delapan tahun. Mereka belum paham pesan yang disampaikan. Terlebih jika waktu pemutaran film cukup lama alias lebih dari dua jam. Ditambah, trailer dan tontonan ekstra di bioskop acapkali dipasang lebih kencang suaranya ketimbang film aslinya. Hal itu kerap membuat anak yang jarang dibawa ke bioskop kaget. 

4. Rencanakan dengan baik

Beberapa orang tua ragu-ragu dengan faktor higienitas dalam ruang publik seperti gedung bioskop. Ada baiknya menyiapkan peralatan mandiri untuk si kecil. Tak ada salahnya mengelap pegangan kursi tangan atau membersihkan ulang tempat duduk untuk anak kita. Pastikan juga orang tua membawa peralatan untuk menenangkan bayi seperti dot, selimut, dan sebagainya.

Jika anak masih bayi, berikan mereka susu sehingga si kecil bisa beristirahat di gedung bioskop. Hal itu juga menguntungkan orang tua karena bisa sejenak rehat dan menikmati tontonan. Jam menonton juga perlu perhatian. Pilih waktu pemutaran yang bukan dekat jam anak mengantuk sehingga mereka tidak rentan rewel.

Untuk anak yang lebih besar, ajarkan soal etike di bioskop. Seperti dilarang berbicara keras, tidak boleh bermain gawai, atau beranjak dari kursi tanpa alasan. Pastikan anak dalam keadaan kenyang sehingga tidak rewel. Bisa juga dengan membeli popcorn sehingga anak punya hiburan lain di dalam bioskop. 

5. Jangan kaku dengan rencana utama

Orang tua tentu berharap keluarganya bisa menonton film sampai tuntas tanpa drama. Namun ada kalanya anak bosan lantas berteriak, menangis, rewel, atau bermain-main dan mengganggu penonton lain di bioskop.

Memang sayang rasanya meninggalkan bioskop ketika film belum berakhir. Namun kita tentu tidak ingin memaksa anak menikmati sesuatu yang mereka belum siap. Sebelum memutuskan meninggalkan bioskop, bisa juga terlebih dulu ajak anak rehat ke lobi bioskop. Jika suasana hatinya membaik, tawarkan apakah anak ingin kembali ke bioskop.

Memang ada beberapa orang yang sinis ketika ada orang tua membawa anaknya ke bioskop. Seperti halnya mengajak anak naik pesawat terbang. Jadikan ini bagian strategi menyusun rencana cadangan ketika rencana utama tidak berjalan mulus alias anak kita sulit dikendalikan. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten