Kondisi Puskesmas Mojosongo Boyolali usai ditabrak truk kontainer, Kamis (25/7/2019). (Solopos-Akhmad Ludiyanto)

Solopos.com, BOYOLALI -- Pertigaan Wika di jalan Solo-Semarang wilayah Mojosongo, Boyolali, kembali menjadi sorotan pascakecelakaan truk tabrak puskesmas yang mengakibatkan hilangnya satu nyawa, Kamis (25/7/2019).

Pertigaan Wika selama ini kerap menjadi jalur maut dengan angka kecelakaan lalu lintas yang cukup tinggi. Sebelum kejadian truk menabrak Puskesmas Mojosongo, Kamis lalu, di pertigaan yang sama pernah terjadi minibus Isuzu Panther bertabrakan dengan bus hingga mengakibatkan tujuh orang meninggal dunia.

Sejak kecelakaan bus versus Panther pada Oktober 2018 lalu itu, berbagai upaya dilakukan pihak terkait seperti Dinas Perhubungan (Dishub) dan Satlantas Polres Boyolali untuk mencegah dan mengurangi risiko kecelakaan di jalur tersebut.

Dishub sempat menutup media jalan di simpang tiga itu untuk mencegah kendaraan berputar balik yang berisiko kecelakaan. Kawasan itu juga sudah dipasangi lampu lalu lintas (traffic light) untuk mengatur arus lalu lintas.

Pertigaan yang mendapatkan sebutan karena dekat dengan kantor PT Wijaya Karya (Wika) itu kini kembali menjadi sorotan. Beberapa usulan muncul untuk mencegah kecelakaan di lokasi itu.

Polres Boyolali melalui Satlantas mengusulkan pemasangan guard rail pada median jalan di kawasan pertigaan Wika, Mojosongo, Boyolali. Penempatan guard rail ini agar tidak terjadi lagi kecelakaan di mana kendaraan masuk lajur berlawanan.

Usulan ini terkait peristiwa kecelakaan di pertigaan tersebut, Kamis. Kasatlantas Polres Boyolali AKP Febriyani Aer mewakili Kapolres AKBP Kusumo Wahyu Bintoro mengatakan guard rail ini diharapkan menahan kendaraan jika oleng atau menyelonong ke lajur lain.

“Usulan kami di median jalan ditambah guard rail. Jadi kalau ada kecelakaan, di mana kendaraan akan menyeberang jalur bisa tertahan guard rail,” ujarnya, Sabtu (27/7/2019).

Mengenai teknis, panjang, tinggi guard rail, serta lokasi penempatannya, Febriyani yang akrab disapa Febby ini belum menjelaskannya lebih lanjut. “Ini usulan dan tentunya akan dibahas lebih dulu dengan stakeholders,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dishub Boyolali Untung Raharjo mengatakan akan melakukan kajian besama pihak terkait mengenai situasi lalu lintas di pertigaan Wika.

“Tetap kami kaji kemungkinan-kemungkinan lain untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Ada beberapa alternatif rekayasa penambahan pengamanan jalur, termasuk meninggikan median atau penutupan median. Tetapi semuanya masih perlu dikaji lebih mendalam,” ujarnya.

Kecelakaan di kawasan pertigaan Wika di mana kendaraan menyeberang ke lajur lawan hingga menabrak bangunan di sisi jalan sudah beberapa kali terjadi.

Dalam catatan Solopos.com, di lokasi tersebut telah terjadi tiga kali kecelakaan yang kejadiannya mirip, di mana kendaraan besar dari pada lajur Semarang menuju Solo (dari arah barat) menabrak median jalan lalu masuk lajur berlawanan (arah Semarang menuju Solo).

Pada 2016, truk tronton menabrak pagar Puskesmas Mojosongo. Tidak ada korban jiwa pada peristiwa ini, namun seorang pengendara sepeda motor tertabrak dan mengalami luka.

Kedua, pada Oktober 2018, bus menabrak median jalan kemudian masuk ke jalur berlawanan menabrak mobil Isuzu Panther. Tujuh orang meninggal dunia dalam kecelakaan itu.

Terakhir, truk trailer menyeberang lajur hingga akhirnya menabrak Puskesmas Mojosongo, Kamis (25/7/2019) dan menyebabkan seorang mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo meninggal dunia.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten