Pekerja menyunggi tanaman padi di areal persawahan Pule, Selogiri, Wonogiri, Selasa (20/3/2018). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos)
Petani Wonogiri ogah menanam hortikultura meski hasilnya menguntungkan. Solopos.com, WONOGIRI -- Para petani di Wonogiri ogah menanam tanaman hortikultura meski tahu hasilnya jauh lebih menguntungkan dan bisa menjadi solusi saat kemarau atau musim tanam (MT) III. Alasannya karena terkendala modal, pemasaran, dan tak mau menanggung risiko gagal panen. Petani asal Jendi, Selogiri, Wonogiri, Sukiran, 48, saat ditemui Solopos.com di areal persawahan di Pule, Selogiri, Selasa (20/3/2018), mengaku belum pernah menanam tanaman hortikultura di sawahnya yang seluas 3.000 m2. Dia lebih memilih membiarkan sawahnya kering atau bera saat MT III yang biasanya bertepatan dengan kemarau. Sukiran menyadari sawahnya akan lebih bermanfaat jika ditanami semangka, melon, bawang merah, atau cabai. Terlebih, jika sukses hasilnya cukup besar. Namun, dia enggan mengaplikasikannya karena modalnya yang dibutuhkan juga besar. Dia mengatakan menanam padi hanya membutuhkan dana Rp3 juta/MT dan bisa memeroleh 2 ton gabah. “Setiap tahun saya hanya bisa panen dua kali. Setiap panen bisa dapat laba bersih lebih kurang Rp4 juta. Kecil memang, tapi enggak apa-apa. Hasil panen MT I biasanya saya jual semuanya. Panen MT II saya jual secara bertahap sesuai kebutuhan dan sebagian untuk cadangan pangan selama menghadapi kemarau,” kata Sukiran. Selain membutuhkan modal besar, dia enggan menanam tanaman hortikultura karena tak memiliki pasar tetap. Pada kondisi itu dia bisa rugi meski hasil panen melimpah karena tak bisa habis terjual. Petani lainnya, Sutamin, 60, mengaku pernah tiga kali menanam semangka dan dua kali menanam cabai di sawahnya yang seluas 11.000 m2 atau 1,1 hektare (ha) saat kemarau. Ketika hasil panen dan harga jual bagus, warga Pule itu meraup untung besar. Contohnya, menanam semangka di lahan 5.000 m2 dengan modal Rp35 juta dalam jangka waktu kurang dari tiga bulan bisa meraup laba bersih mencapai Rp15 juta. Namun, dia tak dapat mempertahankan tren itu karena tak bisa menjaga konsistensi permodalan. “Soal pemasaran sebenarnya mudah. Pasti ada bakul yang membeli. Tapi kan harus selalu siap modal besar kalau mau tanam horti [hortikultura],” ucap Sutamin saat ditemui di rumahnya. Dia juga tak mau menanggung risiko gagal panen. Sutamin menyebut tanaman yang terkena penyakit tak bisa ditangani jika penanganan terlambat sebentar saja. Alhasil, tanaman yang siap panen pun akhirnya bisa gagal panen. Sutamin pernah mengalaminya satu kali saat menanam cabai hingga rugi puluhan juta rupiah. “Menanam horti memang butuh banyak tenaga [pekerja] agar tanaman selalu bisa terpantau. Konsekuensinya kembali lagi pada modal. Membayar tenaga juga butuh modal lagi,” ujar Sutamin. Atas pertimbangan itu, dia belum ingin lagi mencoba menanam hortikultura. Dia tetap menanam padi pada MT III meski sawahnya tak mendapat irigasi teknis. Sutamin harus menyedot air dari sumber air di Jaten sejauh 3 km dari sawahnya menggunakan tiga unit disel. Dia tak mempermasalahkan meski hasil panen padi di lahan seluas 5.000 m2 hanya bisa untung kurang dari Rp10 juta/MT. Kasi Hortikultura Bidang Produksi Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Wonogiri, Joko Riyanto, mengatakan modal dan tingginya risiko menjadi faktor utama yang membuat belum semua petani di Wonogiri bersedia menanam tanaman hortikultura saat MT III. Namun, tiap tahun tetap ada petani yang bersedia menanam. Bahkan, luas tanamnya termasuk terbesar keenam se-Jawa Tengah. “Luas tanam cabai di Wonogiri mencapai lebih dari 600 ha/tahun. Ini luasan yang besar dibanding daerah lain di Jateng,” kata Joko.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten