Waduk Dawuhan di Plumpungrejo, Wonoasri, Kabupaten Madiun, kering, Senin (5/10/2015). (JIBI/Solopos/Antara/Siswowidodo)

Pertanian Madiun, tiga waduk di Kabupaten Madiun dalam kondisi memprihatinkan.

Solopos.com, MADIUN -- Volume air tiga waduk di Kabupaten Madiun menyusut drastis sepanjang musim kemarau tahun ini. Operasional ketiga waduk itu terancam dihentikan agar tak membahayakan konstruksi waduk.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Madiun Arnowo Widjaja mengatakan ketiga waduk yang rawan ditutup salurannya akibat penyusutan debit air tersebut adalah Waduk Dawuhan, Notopuro, dan Saradan.

Sesuai data di lapangan, ketinggian air Waduk Dawuhan telah menyusut drastis dari 9,4 meter menjadi empat meter, Notoputo menyusut dari 7,5 meter menjadi empat meter, dan Waduk Saradan dari 8,5 meter menjadi 3,7 meter.

"Debit air di tiga waduk sudah kritis. Jika dipaksa beroperasi normal, volume air akan semakin menyusut dan akibatnya merusak konstruksi waduk," ujar Arnowo, di Madiun, Sabtu (14/10/2017).

Sedangkan kemampuan waduk untuk mengairi sawah petani maksimal dibatasi hingga ketinggian air mencapai dua meter. Dalam kondisi normal, ketiga waduk tersebut dapat mengairi 13.693 hektare sawah.

"Kalau debit air sudah turun sampai dua meter maka pintu air akan ditutup. Air waduk tidak bisa lagi menyuplai kebutuhan petani supaya tanah dasar waduk tidak retak dan rusak," kata Arnowo.

Dia mengatakan pembasahan genangan di dasar waduk harus tetap terjaga dengan tetap menjaga ketinggian debit maksimal dua meter.

Nantinya, bila air waduk tidak mampu lagi beroperasi menyuplai kebutuhan irigasi petani, maka Dinas PU akan menyuplai kebutuhan air petani dengan sumur pompa.

Untuk itu, petani diminta tidak menanam padi, namun menaman palawija yang tidak membutuhkan pasokan air banyak di musim kering.

"Jangan memaksa menanam padi jika tidak ingin merugi. Menanam palawija adalah pilihan terbaik di tengah kondisi kering," kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten