SOLOPOS.COM - Menjual buah Naga

Pertanian Bantul untuk komoditas buah naga banyak dicari konsumen, namun sayangnya tanaman petani malah tidak berbuah

Harianjogja.com, BANTUL-Musim kemarau panjang akibat dampak badai El Nino di tahun ini menyebabkan masa paceklik beberapa komoditas pertanian dan holtikultura. Salah satunya adalah Buah Naga.

Promosi Nusantara Open 2023: Diinisiasi Prabowo, STY Hadir dan Hadiah yang Fantastis

Akibatnya, sejak 3 bulan lalu, buah berwarna merah ini pun sontak menghilang dari pasaran. Padahal permintaan terhadap buah ini terbilang cukup tinggi.

Hal itu diakui Jaelani, pedagang buah asal Proliman, Bantul. Saat ditemui di tokonya, Jumat (28/8/2015) pagi, ia mengakui, buah naga lokal sudah tak dijualnya sejak 3 bulan silam. Lantaram permintaan yang terus meningkat, ia pun terpaksa mendatangkan buah itu dari luar negeri.

“Permintaannya sangat tinggi. Tapi barangnya tidak ada,” ungkapnya.

Akan tetapi, dengan melemahnya nilai tukar rupiah atas dollar, penjualan buah naga yang didatangkannya dari Tiongkok itu pun juga ikut lesu. Diakuinya, penggemar buah naga lebih memilih beralih ke jenis buah-buahan lain yang harganya lebih terjangkau.

“Kalau boleh jujur, permintaan buah lokal [buah naga] sebenarnya lebih tinggi daripada yang impor,” ungkapnya.

Memang, jika dibandingkan harga buah naga lokal jauh lebih murah, yakni sekitar Rp15.000 per kilogram. Sedangkan harga buah naga impor saat ini mencapai Rp30.000 per kilogram.

Selain itu, ia pun membandingkan permintaan kedua jenis buah naga itu. Biasanya, dalam sehari, dirinya bisa menghabiskan lebih dari 50 kilogram buah naga lokal. Sedangkan untuk buah naga impor, dirinya hanya mampu menjual tak lebih dari 10 kilogram saja per harinya.

“Lagipula harga kulakannya juga lebih murah yang lokal. Kebanyakan saya ambil dari petani di daerah Kuwaru,” ucapnya.

Tingginya permintaan terhadap buah naga lokal itu diakuinya cukup masuk akal. Selain harga yang lebih murah, kualitas buah naga lokal jauh lebih baik daripada buah naga impor.

Daging buah naga lokal diakuinya lebih tebal ketimbang  buah naga impor yang lebih buahnya lebih banyak didominasi oleh kulit. “Tapi sayangnya stok buah naga lokal sudah 3 bulan ini tidak ada. Entah sampai kapan stok ini kosong,” tegasnya.

Kekosongan stok itu diakui sendiri oleh pihak petani. Bangkit Sunandar, petani buah naga asal Wonoroto, Desa Gadingsari, Kecamatan Sanden mengakui, musim kemarau panjang yang terjadi di tahun ini menyebabkan panen buah naga mundur setidaknya selama 2 bulan lebih.

Dikatakannya, bulan Agustus-September ini seharusnya tanaman buah naga sudah mulai memunculkan bakal buahnya. Akan tetapi, kemarau berkepanjangan membuat perkembangan buah naga menjadi lambat. “Kemungkinan baru Oktober-November baru terlihat buahnya,” ucapnya.

Ia tak menampik, permintaan buah naga memang selalu meningkat tiap tahunnya. Dari total rata-rata 2 ton buah naga yang dipanennya, pihaknya mampu menjual sekitar 95 persennya.

Selain melayani permintaan untuk Bantul dan DIY, pihaknya juga banyak mendapatkan permintaan dari luar DIY, seperti misalnya dari Bogor, Jakarta, dan Surabaya. “Bantul memang salah satu sentra buah naga terbesar di Pulau Jawa,” tegasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya