Musala darurat di Gang Jalak II, Cinderejo Lor, Gilingan, Solo. Foto diambil pada Minggu (3/11/2019). (Solopos - Adib Muttaqin Asfar)

Solopos.com, SOLO – “Sejak 100 tahun lalu di sini tidak ada masjid, baru di sini dan musala di dalam terminal,” ucap Suratno, Minggu (3/11/2019) siang.

Pria 49 tahun itu menunjuk sebuah lahan kosong di dekat rumahnya, kawasan Gang Jalak II, Cinderejo Lor, Gilingan, Solo, yang akan menjadi calon masjid pertama di kawasan itu. Masjid itu masih dalam proses pembangunan. Namun warga setempat bisa menggunakan musala kecil di bagian depan rumah Suratno. Namanya, Musala Darurat.

Disebut darurat karena memang musala itu hanya berfungsi untuk sementara sembari menunggu pembangunan masjid selesai. Meskipun bernama darurat, musala berukuran sekitar 2,5 x 3 meter itu sudah berlantai keramik, lengkap dengan alas karpet, dinding tembok bercat, dan atap galvalum. Ada pula 1 toilet kecil dan tempat wudu.

Awalnya lahan itu hanya halaman kosong milik keluarga Suratno yang tak berfungsi. Sekitar 2 tahun lalu, datanglah Muhammad Suwono HS alias Mbah Wono, seorang tokoh Gilingan yang berinisiatif membuka tempat ibadah baru di kampung itu.

“Waktu itu Mbah Wono minta izin kepada saya, bagaimana kalau lahan ini dikeramik untuk salat tarawih. Kebetulan waktu itu menjelang Ramadan. Saya bilang 'monggo',” kata Suratno.

Upaya membangun musala pertama di Gang Jalak II itu mendapatkan dukungan dari sejumlah pihak. Suwono meminta bantuan dari beberapa pihak baik dalam bentuk dana maupun tenaga. Bahkan, tutur Suratno, Kapolresta Solo waktu itu, Kombes Pol Ribut Hari Wibowo, mengerahkan satu regu anggota Brimob untuk ikut dalam pembangunan musala dari nol hingga jadi.

Keberadaan musala itu memang istimewa. Selain yang pertama di kawasan itu, musala itu menjadi simbol perubahan wilayah sekitar Terminal Tirtonadi Solo yang selama ini penuh dengan stigma negatif.

Pintu masuk Gang Jalak II tepatnya berada di bawah belokan sky bridge penghubung Terminal Tirtonadi dan Stasiun Solo Balapan. Meski sempit, nama gang itu cukup terkenal bahkan di telinga orang dari luar kota.

“Di sini kan kompleks [pekerja prostitusi], yang bagian sana,” kata Suratno. Dia telah puluhan tahun tinggal bersama istrinya di gang tersebut dan tahu betul perkembangan gang sempit itu dari waktu ke waktu.

"Kalau saya bukan orang sini, mungkin ada yang marah dengar saya azan."

Kawasan itu sejak lama dikenal adalah satu dari beberapa kawasan di Kota Solo yang identik sebagai tempat para pekerja seks komersial (PSK), selain satu kawasan di wilayah Kestalan yang tak jauh dari Gilingan.

“Dulu banyak peminum di sini karena kompleks, tapi pelan-pelan [tak terlihat di jalan]. Mbok-mboknya [para mucikari] sebagian sudah ikut mengaji,” kata Suratno.

Kini perubahan sudah terlihat setidaknya di bagian selatan gang tersebut. Banyak orang atau penumpang bus antarkota yang mampir ke gang tersebut untuk menunaikan salat wajib. Selain itu, aktivitas musala terus berjalan dengan pengajian rutin tiap Jumat malam. Kini jumlah jemaah pengajian mencapai 40-an orang dari berbagai latar belakang.

Suwono, saat berbincang Solopos.com di tempat terpisah pekan lalu, menyebut perkembangan tersebut baru tahap awal. Menurutnya, pekerjaan menata masyarakat setempat masih sangat panjang.

“Karena di Gilingan masih banyak sekali orang masih aktif [di dunia prostitusi]. Enggak usah langsung dilarang, tapi bangun masjid dulu baru menata masyarakatnya pelan-pelan,” tuturnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten