Ardian Nur Rizki/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (19/7/2019). Esai ini karya Ardian Nur Rizki, penulis buku Pustaka Sepak Bola Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah ardianurizki@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Awan mendung terus menggelayut di atas buana persepakbolaan Kota Solo, lebih luas lagi di Soloraya. Centang perenang kondisi Persis Solo dalam mengarungi awal Liga 2 musim 2019/2020 yang menjadi musababnya. Persis Solo kini tengah sakit.

Tidak ada sinergi positif yang terjalin antara manajemen, penggawa, pelatih, pendukung, panitia pelaksana pertandingan, dan Pemerintah Kota Solo. Masing-masing unsur saling mengumbar syak wasangka, tak ada kesatupaduan, dan nihil kerja sama.

Bermula dari respons ”ketus” manajemen terhadap sikap suporter yang mengkritik pemilihan lokasi peluncuran tim Persis Solo di Madiun, Pasoepati dan Surakartans sepakat memboikot laga Persis, kecuali kala bersua PSIM Yogyakarta.

Duka Persis Solo semakin nyata karena harapan untuk menggunakan Stadion Sriwedari — selagi Stadion Manahan direnovasi— harus pupus.  Polresta Solo urung memberikan izin kemanan. Persis selalu ”kesepian” kala menjalani laga kandang maupun tandang.

Kekarutmarutan Persis Solo semakin kentara pada laga kontra Martapura FC pada Minggu (14/7). Gelora semangat yang menggebu-gebu untuk meraih kemenangan perdana dijegal oleh keteledoran–untuk tidak menyebutnya kedunguan— manajerial Persis yang salah mencetak nomor punggung Mochamad Shulton. Versi lain menyatakan kesalahan ada pada penulisan nomor punggung di daftar usulan pemain.

Keteledoran memalukan ini mengakibatkan Persis harus berlaga dengan 10 pemain dari awal hingga akhir laga (Harian Solopos edisi Senin (15/7)). Alhasil, hingga saat ini, Persis Solo menjadi satu-satunya tim di Liga 2 Grup Timur yang belum meraih satu pun kemenangan.

Sejarah sebagai Cermin

Persis Solo jelas bukan tim kemarin sore. Klub ini memiliki hamparan sejarah mahapanjang yang dapat dijadikan pedoman untuk berjuang. Persis tidak boleh lama-lama tersesat arah karena sejarah Persis dapat dijadikan kaca benggala refleksi dalam memapah langkah.

Histori Persis telah membuktikan perpecahan dan nihilnya sinergi antarkomponen adalah hulu bencana. Tentu kita semua masih ingat ”tragedi kematian” Diego Mendieta kala dualisme klub, perseteruan pengurus, dan apatisme Pasoepati terhadap Persis bermuara pada tragedi memilukan–sekaligus memalukan—dalam noktah merah sejarah persepakbolaan Kota Solo dan Soloraya.

Sebaliknya sejarah Persis juga pernah mengukir romansa epik sebagai pengejawantahan sinergi pengurus, penggawa, suporter, dan seluruh pemangku kepentingan. Persis sempat tertatih-tatih pada masa transisi menuju profesionalitas sepak bola tanpa anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).

Kala itu, suporter bahu-membahu menyokong eksistensi Persis, mulai dari menggalang dana, menjadi penyuplai jersey (seragam) pemain, memberi bonus uang tunai untuk pemain, hingga membuat dapur umum untuk pemenuhan nutrisi para penggawa!

Jika sudi menelisik lebih jauh hingga fase awal eksistensi, sinergi dan harmoni yang diwujudkan Persis malah acap kali menembus batas ruang dan bidang. Surat Kabar Darmo-Kondo edidi 31 Maret 1923 mewartakan pada 7-13 April 1923, Komite Pertandingan Sepak Bola Solo menghelat pertandingan amal untuk menyokong gerakan sosial Muhammadiyah.

Di bidang kesehatan, Persis turut memberikan bantuan pengobatan bagi penderita tuberkulosis. Di bidang pendidikan, Persis juga turut serta memberikan bantuan kepada Taman Siswa. Persis tercatat pernah memberikan uluran tangan kepada Yayasan Amal Tiongkok.

Beriring dengan menyeruaknya ikhtiar perjuangan merengkuh kemerdekaan kala itu, Persis mendukung kegiatan sosial yang diinisiasi Partai Indonesia Raya (Berita PSSI, Januari 1940). Persis juga menjalin sinergi dengan Persatoean Djoernalis Indonesia (Perdi) dengan baik.

Kemesraan Persis dan Perdi tidak hanya bergaung pada aktivitas profesional. Persis acap kali bersedia berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang dipelopori Perdi. Selain itu, Persis kerap diminta menyemarakkan seremoni dan kegiatan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Penguasa keraton paham betul bahwa sepak bola merupakan hiburan yang sangat digandrungi rakyat sehingga menghidupi Persis sama dengan menciptakan penghiburan bagi rakyat.

Refleksi

Setelah ”pelengseran” Catur Prasetyo dari ”kursi panas” manajer Persis, suporter seyogianya memberi ”ruang” kepada manajer baru untuk bekerja dan berkarya mencipta perubahan. Suporter pantang menuntut hasil instan! Apalagi, melihat bahtera tim saat ini yang tengah diambang karam.

Simon Kuper dan Stefan Szymanski dalam Soccernomics (2010) secara sarkastis mengutarakan bahwa sepak bola adalah bisnis yang ”menyedihkan”.  Disebut menyedihkan karena banyak klub sepak bola yang merekrut karyawan manajer tim secara serampangan, tanpa menimbang kualifikasi profesional. Demikian juga dengan etos suporter yang selalu menuntut hasil instan.

Ihwal kearifan dalam pemilihan manajer, cara monumental Arsenal dan Manchester United (MU) dapat dijadikan rujukan. Penunjukan Arsene Wenger oleh Arsenal pada 1996 harus melalui proses penimangan matang oleh jajaran direksi The Gunners.

Untuk mendapatkan jasa Wenger, Arsenal harus sabar menunggu masa kontrak kerja Wenger di Jepang habis. Adagium ”proses tidak pernah mengkhianati hasil” sangatlah pas untuk merepresentasikan proses panjang manajemen Arsenal untuk memilih Wenger. Kinerja The Professor terbukti mampu mengangkat prestasi dan finansial Arsenal.

MU juga pernah mengalami gejolak manajerial di klub. Pada 1990, para fans MU menghujat Presiden Klub Martin Edwards karena enggan mendepak Sir Alex Ferguson yang tidak mampu mempersembahkan satu gelar pun sejak ia berkiprah menjadi manajer MU (1986).

Saat itu Martin Edwards tetap yakin dengan kemampuan manajerial Fergie karena proses penunjukannya juga tidak dilakukan dengan serta-merta. Sang Presiden Klub itu yakin bahwa Fergie hanya butuh waktu untuk melabuhkan MU pada dermaga kejayaan. Benar, dalam kiprahnya menukangi MU selama 27 tahun, Fergie berhasil menyulap MU menjadi klub tersukses di Britania Raya.

Persis Solo–baik pengurus maupun suporter—dapat meneladani cara Arsenal dan MU dalam mereformasi manajerial tim.  Episode kelam yang menggelayuti Persis mesti segera dipungkasi. Perlu kebesaran hati dan kedewasaan sejati bagi manajemen, penggawa, suporter, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menunaikan tridarma Pangeran Sambernyawa (julukan Persis) yang luhur.

Tridarma itu adalah rumangsa melu handarbeni,  wajib melu hangrungkebi, mulat sarira hangrasa wani. Sebagaimana khitahnya, Persis semestinya menjadi pangkal hiburan dan muara kebahagiaan bagi kawula alit maupun khalayak elite. Hamparan sejarah Persis yang megah seyogianya dapat menjadi penunjuk arah.

Heroisme dan perjuangan panjang Persis selayaknya dapat menjadi preseden pembangkit muruah demi terciptanya persepakbolaan yang membawa maslahat dan menebar manfaat.  Bukan sepak bola yang malah jadi ajang karya kaum oportunis yang gemar menjilat dan menggasak berkat!


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten