Persediaan Cabai Sret di Wonogiri Terbatas, Harga Terkerek
Cabai rawit merah atau sret dijual di los milik Warni lantai I Pasar Kota Wonogiri, Sabtu (2/1/2021). (Solopos/Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI — Naiknya harga jual eceran cabai rawit merah atau sret di Wonogiri, Jawa Tengah dibarengi dengan naiknya harga jual di tingkat petani. Harga jual petani mencapai Rp80.000/kg. Itu jauh lebih tinggi dari pada ketika kondisi normal.

Penyebab utama naiknya harga cabai di Wonogiri itu adalah persediaan yang terbatas karena produksi turun signifikan. Pada sisi lain permintaan komoditas pertanian itu cenderung stabil. Petani yang memiliki persediaan memiliki daya tawar yang lebih tinggi dari pada bakul.

Petani hortikultura asal Dusun Jimbar, Desa Jimbar, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Rahmad Agus Setiyono, kepada Solopos.com, Senin (1/3/2021), menyampaikan petani menjual cabai sret seharga Rp70.000/kg-Rp80.000/kg kepada bakul sejak 20 Februari lalu.

Baca Juga: Partai Demokrat Jateng Utuh Tolak Hasil KLB

Sebelumnya, petani menjual seharga Rp60.000/kg. Harga tersebut masih tergolong tinggi dari pada akhir 2020 lalu. Lelaki yang akrab disapa Agus itu menginformasikan pada Desember 2020 harga di tingkat petani Rp40.000/kg. “Petani sedang menikmati hasil maksimal saat ini,” kata Agus saat dihubungi.

Dia menjelaskan harga cabai sret naik karena produksi turun signifikan jika dibanding sebelum Covid-19 mewabah. Itu lantaran selama pandemi Covid-19 petani tidak menanam cabai rawit mengingat masih khawatir harga akan anjlok seperti saat awal pandemi Covid-19. Saat itu harga cabai rawit rata-rata hanya Rp6.000/kg-Rp8.000/kg. Petani menduga anjloknya harga ketika itu karena permintaan turun karena masyarakat dilarang menggelar hajatan.

“Permintaan cabai terbesar selama ini dari masyarakat yang menggelar hajatan memang, selain dari para pelaku usaha kuliner,” imbuh Agus.

Baca Juga: Peluang Bisnis Kuliner Ayam, Bebek, Angsa

Dari kondisi itu petani menganggap penyebab permintaan cabai turun adalah pandemi Covid-19. Lalu petani menyimpulkan selama Covid-19 masih mewabah permintaan bakal turun, sehingga membuat harga cabai anjlok. Oleh karena itu kebanyakan petani memilih tidak menanam cabai selama pandemi Covid-19. Sebagian kecil petani masih menanam cabai. Namun, cabai diserang hama lalat buah sehingga produksi tak maksimal.

Produksi Tak Maksimal

“Karena banyak petani tak menanam cabai dan petani yang menanam pun tak mendapat produksi maksimal, sehingga persediaan terbatas. Sementara, permintaan masyarakat berangsur meningkat dan sekarang relatif stabil. Jadi, harga naik,” ulas Agus.

Dalam kondisi seperti sekarang daya tawar petani lebih tinggi dari pada bakul. Petani dapat menawarkan dengan harga maksimal kepada bakul. Petani tak mempermasalahkan jika bakul tak bersedia membeli, karena petani dapat menjualnya kepada bakul lain.

Baca Juga: 4 Zodiak Ini Kata Astrologi Keras Kepala...

Bakul pun tak bisa berbuat banyak mengingat persediaan terbatas. Akhirnya bakul tetap bersedia membeli dari petani. Konsekuensinya, bakul menjual kepada pedagang dengan harga lebih tinggi lagi. Alhasil, harga eceran dari pedagang kepada konsumen melambung tinggi.

Sebagai informasi, pedagang berbagai sayuran di Pasar Kota Wonogiri, Warni, menjual cabai sret dengan harga Rp100.000/kg pada Sabtu (27/2/2021) lalu. Harga hari itu tertinggi dibanding sejak sepekan terakhir.

Sebelumnya harga cabai sret Rp70.000/kg. Lalu naik secara bertahap menjadi Rp85.000/kg, hari berikutnya Rp90.000/kg, kemudian naik lagi menjadi Rp95.000/kg. Sampai akhirnya Sabtu itu mencapai Rp100.000/kg. “Harga pada kondisi normal kurang dari Rp60.000/kg,” ucap Warni.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos



Berita Terkini Lainnya








Kolom