Persaudaraan di Warung Madura 24 Jam

Sejumlah kota besar di Pulau Jawa menjadi basis warung Madura 24 jam. Warung ini muncul di kawasan padat penduduk hingga menjadi pesaing minimarket waralaba.

 Mariyana Ricky PD (Solopos/Istimewa)

SOLOPOS.COM - Mariyana Ricky PD (Solopos/Istimewa)

Solopos.com, SOLO — Sejumlah kota besar di Pulau Jawa menjadi basis warung Madura 24 jam. Warung ini muncul di kawasan padat penduduk hingga menjadi pesaing minimarket waralaba. Kemunculan warung-warung tersebut tak lepas dari migrasi yang jamak dilakukan masyarakat Madura.

Warung Madura 24 jam menjual berbagai barang kebutuhan rumah tangga, layaknya minimarket, namun harganya lebih murah karena berbentuk warung kelontong. Beberapa di antara warung Madura itu dilengkapi stasiun misi pengisian bahan bakar umum di depannya.

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

Rentengan snack, sabun, dan aneka barang digantung di rak kaca yang juga berisi aneka barang kebutuhan harian. Kulkas di pojok sebelah kiri, rak pendingin es krim di sebelah kanan, deretan air minum dalam kemasan galon melengkapi dagangan.

Barang jualan meluber hingga emper warung yang tak mungkin tiap warung ditutup harus dimasukkan dan esoknya dikeluarkan kembali. Hal itulah yang mengharuskan mereka membuka warung 24 jam, sama seperti apotek dan minimarket.

Di tengah perkembangan masif minimarket yang kadang saling berhadapan, warung Madura bertahan dengan ketradisionalan. Etos kerja tinggi, termasuk filosofi abantal omba asapo angin, yang artinya berbantal ombak dan berselimut angin alias berani dalam hal apa pun, menjadi faktor pendorong ketangguhan mereka.

Lembaga Analis Risiko dan Penyelesaian Politik berbasis di Kota Jogja, Pares, bersama Departemen Politik dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, membahas eksistensi warung Madura 24 dalam program Insight Indonesia, Kamis (19/5/2022).

Dalam tayangan berjudul Rahasia di Balik Warung Madura 24 Jam itu Pares membahas fenomena warung Madura 24 jam yang menjamur. Fenomena itu tak lepas dari kebiasaan migrasi orang Madura.

Warsono dalam tesis di Program Pascasarjana Universitas Indonesia berjudul Strategi Adaptif Migran Madura di Surabaya bagi Golongan Kenek (1992) menyebut fenomena migrasi yang dilakukan orang Madura berlangsung sejak beberapa abad lalu.

Sejak zaman penjajahan masyarakat Madura dikenal sebagai perantau (migran) ke berbagai daerah di Indonesia. De Jonge dalam buku berjudul Madura dalam Empat Zaman, Pedagang, Perkembangan Ekonomi, dan Islam (Gramedia Pustaka Utama, 1989) menjelaskan hampir 2,5 juta orang Madura pada 1930 bertempat tinggal di Jawa Timur.

Pola Afiliasi

Sedangkan Suhanadji dalam Migrasi dan Adaptasi Orang Madura di Surabaya (1998) menyebut orang Madura meninggalkan tanah kelahiran mereka sejak awal abad ke-19, terutama ke wilayah Jawa Timur.

Pola afiliasi menjadi ciri migrasi yang dilakukan orang Madura, yakni melalui ikatan kekerabatan yang didukung akses informasi dan ekonomi. Faktor geologis Pulau Madura yang kurang menguntungkan untuk mengembangkan usaha pertanian menjadi salah satu faktor kuat orang Madura bermigrasi ke daerah lain yang dianggap dapat meningkatkan taraf kehidupan ekonomi keluarga.

Kondisi Pulau Madura yang gersang dan kering menjadi pendukung motif ekonomi untuk bermigrasi. Dalam perkembangannya, migrasi orang Madura menunjukkan gejala yang bersifat cultural. Bahwa migrasi menjadi pola kebiasaan yang setiap hari terus mengalir melalui relasi, famili, teman dekat, maupun kerabat sekampung.

Pemilik warung kelontong Madura 24 jam di Kota Jogja, Achmad Syaifullah, dalam program Insight Indonesia itu membenarkan hasil penelitian itu. Dia menyebut faktor utama yang membuat orang Madura merantau adalah uang, kekurangan di daerah sendiri, kesulitan mencari nafkah, dan lowongan pekerjaan yang minim.

Perputaran uang di kampung halaman sangat stagnan. Orang-orang yang minim modal atau orang-orang yang tidak disubsidi orang tua atau mertua ini akan susah melakukan lompatan-lompatan ekonomi. Achmad mengatakan Pulau Madura memiliki tambang garam yang besar dan salah satu penghasil tembakau terbaik di Indonesia.

Dua komoditas tersebut masuk dalam kategori pasar monolistik. Pembelinya satu, penjualnya banyak. Pasar seperti ini sangat tidak sedap dipandang. Alih-alih mendapatkan kesejahteraan, masyarakat malah  sengsara.

Di tanah rantau, mereka bisa memiliki pekerjaan baru, seperti tukang cukur, penjual satai, pengumpul besi rongsokan, penjual bubur kacang hijau, dan yang terbaru adalah membuka warung kelontong 24 jam.

Achmad mengatakan rasa persaudaraan yang tinggi antarperantau Madura membuat mereka sama-sama bisa berhasil di perantauan. Saling mendukung adalah kredo orang-orang Madura di perantauan. Ia pernah mendapatkan permintaan bantuan dari sesama perantau Madura yang tinggal di Jakarta yang ingin pindah ke Jogja.

Temannya itu minta dicarikan tempat agar bisa membuka usaha. Sesama orang Madura akan membantu pinjaman modal, mencarikan kios, menjamin utang barang di agen, dan sebagainya. Prinsip dasarnya adalah tidak tega melaihat saudara sedaerah membuka warung dan berpindah-pindah lokasi tetapi omzet tidak menggembirakan.

(Esai ini terbit di Harian Solopos edisi 17 September 2022. Penulis adalah jurnalis Solopos Media Group)

Daftar dan berlangganan Espos Plus sekarang. Cukup dengan Rp99.000/tahun, Anda bisa menikmati berita yang lebih mendalam dan bebas dari iklan dan berkesempatan mendapatkan hadiah utama mobil Daihatsu Rocky, sepeda motor NMax, dan hadiah menarik lainnya. Daftar Espos Plus di sini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Solopos.com - Panduan Informasi dan Inspirasi

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Berita Terkini

      Eksistensi Santri Bermartabat

      Identitas santri mencakup aspek intelektual, sikap, tingkah laku, dan religiositas. K.H. M. Dian Nafi’ yang meninggal pada 1 Oktober 2022 layak menjadi rujukan pembentukan karakter seorang santri.

      Kecemasan Matematika Pascapandemi Covid-19

      Kembali ke sekolah setelah menjalani pembelajaran daring selama masa pandemi Covid-19 menjadikan emosi bercampur aduk di kalangan siswa.

      Dampak Eksploitasi Nikel pada Lingkungan

      Nikel adalah salah satu mineral yang tengah diminati banyak pihak, apalagi kini nikel menjadi bahan penting dalam promosi energi hijau karena sebagai komponen produksi kendaraan listrik.

      Mencegah Kekerasan untuk Menjaga Muruah Pesantren

      Sangat disayangkan kasus kekerasan di lembaga pendidikan, dalam hal ini pesantren, masih juga terulang. Pesantren menjadi salah satu pilihan orang tua dalam memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya.

      Keagungan Olahraga

      Tentara Jerman dan Inggris saling bunuh di area sengketa di Belgia atau kawasan Nonman Land pada 1918. Mereka berbalas tembakan dan melempar bom. Kematian selalu membayangi setiap tentara.

      Citra Solo The Spirit of Java

      Sejak masih menjadi calon Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka melihat The Spirit of Java masih relevan sebagai city branding Kota Solo. Visi dan misi dia sebagai Wali Kota Solo juga terkait erat dengan tagline Solo The Spirit of Java.

      Pendidikan Agama untuk Generasi Z

      Menghadapi kenyataan yang demikian, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi. Salah satunya peluncuran Kurikulum Merdeka yang memiliki kekhasan penguatan profil pelajar Pancasila.

      Tragedi Itaewon dan Filsafat Kerumunan

      Kerumunan massa yang begitu antusias dan gembira merayakan Halloween setelah dua tahun sebelumnya ditiadakan akibat pandemi justru berujung tragis.

      Perekrutan Anggota Badan Ad Hoc Pemilu 2024 Lebih Mudah

      Secara umum penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 sama dengan Pemilu 2019 karena berdasarkan regulasi yang sama, yaitu Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.

      Ingat, Kendalikan Jempolmu!

      Kita harus bisa mengendalikan jempol, menjaga perilaku dan etika, memberikan komentar positif yang membangun saat menggunakan media sosial.

      Kompleks Pemusatan Latihan, Investasi, dan Industri Sepak Bola

      Selain mengasah sekaligus menjajal kemampuan tim selama berlatih di Kota Solo, salah satu target utama Persis Solo ke Johor adalah menimba ilmu tentang pengelolaan klub sepak bola profesional.

      Politik Kebahagiaan

      Saya membayangkan ketika tiap manusia, tiap individu, adalah Sisifus, tentu membutuhkan ruang yang cukup demi mencapai kebahagiaan. Demi mencapai bagian terindah ”semuanya baik-baik saja”.

      Melayani dengan Hati

      Saya mencoba menata kata-kata agar tidak terlalu berlebihan memberikan apresiasi. Saya ingin tetap sesuai koridor bahwa apresiasi adalah penghargaan atas sikap positif melayani konsumen.

      Intelektualisme Awal Muhammadiyah Kota Solo

      Kebesaran pergerakan Muhammadiyah selalu dinilai dari kuantitas/jumlah amal usaha yang berhasil didirikan. Penilaian demikian bukan keliru, tetapi kurang tepat.

      Pertaruhan Nama Baik

      Ini tentu sebuah kehormatan karena kota yang hanya seluas 40-an kilometer persegi ini menjadi lokasi penyelenggaraan acara yang mendatangkan jutaan orang dalam satu waktu.

      ASO dan Perlawanan Konglomerat Media

      Kebijakan migrasi siaran TV analog ke TV digital atau analog switch off (ASO) telah dilakukan pada Rabu (2/11/2022). Ini membuat siaran TV analog tidak bisa berfungsi lagi.