Peroleh Rp54 Juta dari Sekaten, Keraton Sindir Pemkot Soal Dana Hibah
Ilustrasi Sekaten Solo. (JIBI/Solopos/Dok)
Pengunjung Sekaten memadati jalan masuk menuju Alun-alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta di Bundaran Gladak, Solo, Kamis (24/1/2013). (Burhan Aris Nugraha/JIBI/SOLOPOS)

SOLO -- Panitia penyelenggara Sekaten 2013 menganggap even tahunan tersebut lancar dan sukses. Hal itu diketahui makin bertambahnya jumlah pengunjung dibanding tahun sebelumnya.

“Jumlah pengunjung Sekaten yang kami hitung hanya selama tujuh hari yakni mulai gamelan ditabuh hingga acara kirab gunungan Sekaten (bertepatan 12 Rabiul Awal 1434 H). Ya sekitar 54.000 pengunjung sesuai penjualan tiket, kalau tahun sebelumnya lebih sedikit, angkanya saya lupa,” jelas Ketua Panitia Pelaksana Sekaten 2013, Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Satryo Hadinagoro, saat ditemui, di kantornya, Kamis (31/1/2013).

Satryo menjelaskan tiket pengunjung yang terjual selama penyelenggaraan Sekaten sebanyak 54.000 lembar. Dalam satu lembar tiket dijual Rp1.000/ orang. Total pemasukan mencapai Rp54 juta. Penjualan tiket, kata Satryo, tidak semata memertimbangkan pemasukan uang dari pengunjung. Namun untuk mendata antusias pengunjung selama Sekaten berlangsung.

“Terkait pendapatan keseluruhan kami tidak bisa matur. Karena anggaran even Sekaten di Solo dari pihak keraton, tidak menggunakan dana APBD pemerintah, jadi kami tidak perlu melaporkan seperti penyelenggaraan Sekaten di Jogja yang menggunakan anggaran APBD pemerintah setempat,” jelas Satryo.

Kendati menggunakan dana keraton, Satryo menegaskan acara Sekaten berjalan lancar. Bahkan dia menyindir Pemerintah Kota (Pemkot) Solo yang justru menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar 10 persen dari pemasukan even Sekaten.

“Hampir tiga tahun ini kami tidak pernah mendapatkan dana hibah dari Pemkot Solo. Namun nyatanya upacara adat dan even tahunan di Keraton Solo tetap berjalan lancar. Alhamdulillah, pemasukan dana dari Sekaten bisa menutup pembiayaan uba rampe selama Sekaten berlangsung,” jelas Satryo.

Menurutnya, upacara adat Keraton Solo yang berlangsung secara turun temurun harus tetap dilestarikan. “Kami tidak mau menghilangkan upacara adat keraton yang sudah ada. Tidak ada dana bantuan hibah dari pemerintah bukan halangan. Ya, memang tidak semeriah sebelumnya, namun tetap saja kami selenggarakan. Upacara adat keraton itu untuk nguri-uri budaya jawa,” paparnya.

Satryo menjelaskan selama Sekaten berlangsung, pihaknya menggandeng sejumlah instansi Pemkot Solo. Mulai dari DKP, Dishubkominfo, kepolisian dan petugas perlindungan masyarakat (linmas).


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho