Tutup Iklan
PERNIKAHAN PERI DENGAN MANUSIA : Inilah Sosok Mbah Kodok, Suami Peri Roro Setyowati
Mbah kodok Ibnu Sukodok (memakai kain ikat kepala hitam) saat diajak foto bersama warga di Alas Begal, Kedunggalar, Ngawi. (JIBI/Solopos/Aries Susanto)

Pernikahan peri dengan manusia menyedot perhatian masyarakat luas. Ingin tahu sosok suami peri penunggu Sendhang Margo dan Pangiyom ini?

Solopos.com, NGAWI – Nama Mbah Kodok mendadak dikenal luas ketika sebuah seni kejadian digelar Oktober 2014 lalu di Sekaralas, Widodaren, Ngawi. Lelaki yang mengaku tak ingat tanggal kelahirannya itu sempat berbincang-bincang santai dengan Madiun Pos di tepi Sendhang Margo, Alas Begal, Kedunggalar Ngawi, Minggu (7/6/2015).

“Kalau kelahirannya saya 1951. Tapi, tanggal lahir dan bulannya saya enggak ingat,” ujar Mbah Kodok.

Kodok tentu bukan nama sebenarnya. Lelaki kelahiran Purwosari, Solo, itu diberi nama orang tuanya Prawoto Mangun Baskoro. Namun, nama itu perlahan tak diingat orang lantaran dikenal dengan sebutan Mbah Kodok.

“Sejak kecil kegemaran saya itu mencari kodok di sekitar rumah.Para tetangga sampai bilang, tak jenengi kodok lo yen golek kodok terus [aku panggil kodok lo kalau mencari kodok terus]. Akhirnya saya dipanggil kodok sampai sekarang,” paparnya.

Nama itu belakangan ada tambahan Ibnu Sukodok. Nama tambahan ini ternyata adalah hadiah dari penyair ternama Tanah Air , WS Rendra pada 1970-an. Saat itu, Mbah Kodok masih menjadi murid Rendra di Bengkel Teater.

“Mas Willy (Willybrodus Surio Surendra/WS Rendra) ngasih nama tambahan Ibnu Sukodok. Dia sangat perhatian sama saya. Ia bahkan berulangkali mencarikan saya istri, tapi gagal terus,” paparnya.

Mbah Kodok memang pernah berulangkali akan dinikahkan dengan seorang wanita pilihan gurunya, WS Rendra. Namun, rencana itu kandas karena rarta-rata orang tua gadis itu tak setuju. Bahkan, ada yang tiba-tiba membatalkannya menjelang akad nikah.

“Orang tua calon saya saat itu mengaku tak tega anaknya menikah dengan seniman yang enggak punya pekerjaan jelas. Saya ditanya berapa gajinya, punya rumah enggak? Saya jawab enggak punya? Akhirnya dibatalkan,” kisahnya.

Lelaki yang kini lebih banyak tinggal di Wisma Taman Budaya Surakarta (TBS) Solo itu, mengaku statusnya sampai saat ini masih belum beristri, kecuali dengan Peri Setyowoati, danyang Sendhang Margo dan Pangiyom. Pernikahannya pada Oktober 2014 lalu itu bermula dari obrolan dia dengan Bramantyo Prijosusilo, seniman yang juga pernah menjadi murid WS Rendra.

“Saya bilang sama Mas Bram, kalau saya mau menikah dengan peri gimana? Saat itu, dia tertarik meski kaget juga. Manusia kok mau menikah dengan peri?” kisahnya.

Sampai suatu ketika, pernikahannnya dengan peri akhirnya digelar megah di kediaman Bramantyo di Desa Sekaralas, Widodaren, Ngawi. Pernikahan paling kontroversial itu dikemas dalam tradisi Jawa dan seni pertunjukkan kejadian (happening art). Mbah Kodok bahkan sama sekali tak menyangka, pernikahannya itu bakal menyedot ribuan pengunjung.

Kini, hasil pernikahnnya itu telah dikarunia dua putra kembar dampit. Yang laki-laki bernama Joko Samodra dan Sri Parwati untuk perempuannya. Keduanya diyakni lahir bertepatan dengan hari kesaktian Pancasila, Senin (1/6/2015).

“Sampai sekarang saya masih bisa merasakan kehadiran istri saya. Baik lewat mimpi, aroma, maupun suara,” jelasnya.

Meski pernikahan mereka sesungguhnya adalah seni pertunjukkan, namun tak sedikit warga meyakininya. Bahkan, ketika proses pernikahan itu berlangsung tak sedikit keanehan terjadi, mulai angin berhembus dari Alas Begal menuju lokasi pernikahan, terdengar suara gemerincing di jalanan, hingga pengalaman mistis para panitia.

“Sampai-sampai Mbah Prapto [Suprapto Suryodarmo, seniman tari Internasional asal Solo] merasakan merinding saat memandikan saya,” aku Mbah kodok.

KLIK dan LIKE di sini untuk update informasi Madiun Raya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho