Perjuangan Warga di Wonogiri Jualan Es Dung Dung demi Bertahan Hidup
Tugimo menjajakan es dung-dung dagangannya di Wonokarto, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Selasa (20/10/2020). (Rudi Hartono/Solopos)

Solopos.com, WONOGIRI--Tugimo menuntun sepeda doltrap tua yang mengangkut es dung-dung dagangannya membelah jalanan Wonokarto, Wonogiri, Selasa (20/10). Lelaki 48 tahun itu melangkah dengan payah.

Dagangannya berat sehingga laju sepedanya miring ke kiri. Badan Tugimo menyangganya. Sambil membunyikan alat khusus untuk menarik perhatian orang, dia terus melangkah.

Dung, dung, dung, dung. Pembeli tak kunjung datang. Sementara, lelaki yang akrab disapa Bagong itu mulai dikuasai lelah. Lalu dia berhenti di tepi pintu masuk Stadion Pringgodani kemudian duduk di area yang teduh.

Meski sedang beristirahat Tugimo tak melepas masker yang sejak sebelumnya menutup area mulut dan hidungnya. Dia mengenakan kemeja lusuh pendek sehingga kelihatan tangannya yang legam pertanda betapa keras perjuangannya memerah peruntungan di perantauan.

Orang Tua Harus Tahu, Ini Empat Fakta Tentang Pneumonia Anak

Wonogiri menjadi rumah keduanya sejak 2003 silam. Sejak saat itu warga Tegal Gaden, Trucuk, Klaten tersebut menjemput rezeki di Wonogiri sendirian. Keluarganya tinggal di Klaten. Dia menyewa kamar indekos di Wonokarto untuk beristirahat setelah tujuh jam berkeliling menjajakan es dung-dung setiap hari.

Wabah Covid-19 ini semakin menyulitkan hidupnya. Saat virus itu mulai menyebar di Indonesia, Maret lalu, Tugimo memutuskan libur tiga bulan. Selama itu pula dia yang saat itu hidup di Klaten bersama istri dan anak bungsunya sama sekali tak memiliki pendapatan.

Mereka hanya mengandalkan sedikit uang tabungan dan beras bantuan pemerintah. Setelah uang kian menipis, Tugimo memutuskan kembali bekerja di Wonogiri. Sebab, menyerah jelas bukan pilihan.

“Selama pandemi corona ini pendapatan saya turun drastis. Paling hanya memperoleh Rp200.000/hari. Itu pendapatan kotor. Bersihnya saya dapat Rp50.000-Rp60.000/hari. Saat kondisi normal saya bisa mendapat Rp350.000-Rp360.000/hari, bersihnya sekitar Rp80.000-Rp90.000/hari,” ucap Tugimo.

Dari pendapatannya itu dia hanya mampu mengirim uang Rp300.000-Rp400.000/bulan untuk istrinya selama pandemi Covid-19 ini. Uang lainnya dia gunakan untuk membayar sewa kamar indekos Rp350.000/bulan dan memenuhi kebutuhan harian. Padahal, sebelumnya dia bisa mengirimi istrinya lebih kurang Rp1 juta/bulan.

Bikin Haru, Begini Solidaritas Warga Gandekan Solo untuk Tetangga yang Menjalani Karatina

Terpaksa Berkeliling

Tugimo beranjak dari duduknya saat satu pembeli datang. Setelah es dung-dung yang dikemas dengan roti tawar diserahkan kepada pembeli, dia menerima uang Rp3.500.

Tugimo melanjutkan cerita. Setiap hari dia berkeliling wilayah se-Kelurahan Wonokarto. Dia menelusuri dari gang ke gang perkampungan dengan mengayuh sepeda buatan 1968 warisan orang tuanya.

Kadang dia menuntun sepedanya sambil terus membunyikan alat agar menghasilkan bunyi dung-dung. Selama pandemi Covid-19 dia lebih capai dibanding kondisi normal.

Pada kondisi normal dia bisa menjajakan es dung-dung di sekolah-sekolah, seperti SMKN 1 Wonogiri, SMAN 2 Wonogiri, SMK Sudirman, dan sekolah lain di Wonokarto. Pembeli dari kalangan pelajar pun lumayan banyak. Sehingga, dia tak perlu membuang lebih banyak tenaga untuk berkeliling.

“Karena pembeli sedikit saya mengurangi dagangan. Biasanya saya bikin es puter [sebutan lain es dung-dung] setremos besar penuh. Sekarang bikin hanya pakai tremos kecil, itu pun enggak penuh,” kata Tugimo.

Dia bertekad terus berjuang meski setiap hari harus bangun tidur pukul 04.00 WIB untuk membuat es dung-dung. Lelah belum usai dia harus berkeliling pukul 09.30 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Tugimo jarang libur. Sebulan dia hanya libur sekali. Dalam sebulan kadang dia tak mengambil libur saat pendapatan tak maksimal.

Seniman jadi Montir

Perjuangan serupa dilakukan pelaku seni, Heri Dwi Supomo. Lelaki 40 tahun yang akrab disapa Kethit warga Jarum, Desa Sidoharjo, Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri itu kini beralih profesi menjadi montir dan kadang makelar sepeda motor sejak Covid-19 mewabah.

Sebab, mengharapkan dipanggil untuk mengisi acara di hajatan orang sudah tak mungkin lagi. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri sejak saat itu melarang warga menggelar hajatan dalam skala besar. Kini hajatan berskala kecil boleh digelar, tetapi tak boleh diisi hiburan.

“Saat masih kondisi normal grup saya bisa tampil hingga 10 kali sebulan pas musim hajatan. Sekali tampil bisa mendapat Rp4 juta-Rp4,5 juta. Sejak pandemi corona sama sekali tak ada panggilan buat pentas,” ujar Heri yang menggeluti usaha jasa di bidang hiburan sejak 24 tahun lalu itu.

Selamat, Grandprize Simpedes Boyolali Diraih Nasabah Dari Gladagsari Dan Jembungan

Beruntung, keterampilan memperbaiki mesin sepeda motor masih dimilikinya. Dahulu dia pernah membuka bengkel sebagai usaha sampingan. Sejak pekerjaan utamanya terhenti bapak dua anak itu kembali membuka bengkel di rumahnya.

Hasilnya lumayan. Dia bisa mendapatkan penghasilan kotor minimal Rp200.000 sehari. Istrinya yang seorang penyanyi di grupnya kini berdagang kue, nasi pecel, dan sejenisnya.

“Saya sempat ingin menjual alat musik karena saat itu butuh sekali uang. Setelah dipikir-pikir saya batal menjualnya karena harga jualnya anjlok. Saya dan teman-teman pelaku seni tak mengharapkan bantuan dari pemerintah. Kami hanya pengin bisa bekerja lagi, itu saja,” tukas Heri.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom