Kategori: Solo

Perjuangan Kader Ketuk Pintu TBC Di Tengah Pandemi Covid-19: Tetap Bergerak Meski Temuan Berkurang


Solopos.com/Mariyana Ricky P.D

Solopos.com, SOLO -- Berbekal face shield, masker, dan hand sanitizer, Dyah Retno bergerak mengunjungi rumah pasien Tuberkulosis (TBC), awal Juli lalu. Kader ketuk pintu TBC Puskesmas Sibela, Mojosongo, Solo, itu sudah hampir empat bulan menghentikan aktivitas itu karena pandemi Covid-19.

Banyaknya pasien yang tak kembali menebus obat ke puskesmas membuat gerakan itu kembali bergulir. Kala itu, pasien pertama yang ia datanginya adalah seorang kepala rumah tangga. Pasien itu hanya mengonsumsi obat selama dua pekan lalu menghilang. Investigasi kontak pun belum dilakukan.

“Dia sudah telat minum obat hampir dua bulan. Akhirnya, saya datangi. Hari pertama, kedua, tidak ketemu. Baru pada hari ketiga saya bisa bertemu. Pertemuan ketiga itu pun tidak langsung membawa hasil. Bapak ini masih tidak mau lanjut minum obat. Alasannya badan sudah enak, karena memang berat badan masih 50 kg. Alasan tidak mau lanjut karena efek samping, urine merah, mual, nafsu makan hilang,” kisahnya, Kamis (26/11/2020).

Siap-Siap! Mulai 15 Desember, Semua Pendatang Masuk Kota Solo Wajib Karantina Di Benteng Vastenburg

Berkali-kali Dyah datang, namun pria berusia 40-an tahun itu masih menolak. Baru pada pertemuan ketujuh, Dyah diminta tak lagi berkunjung karena dia malu kepada tetangga sekitar. Kesempatan itu ia gunakan untuk membujuk. Dyah menyebut tak akan lagi singgah apabila dia bersedia melanjutkan obat.

Mangkir Minum Obat

“Nah, lalu saya sampaikan kalau sudah ada aturan jika pasien mangkir minum obat, saya boleh koordinasi dengan RT/RW dan kelurahan untuk memantau. Dari situ, dia mau kembali berobat dengan perjanjian istri sebagai PMO [pengawas minum obat] yang wajib lapor ke saya. Obat harus habis baru resep pekan berikutnya diberi oleh puskesmas,” ungkap Dyah.

Setelah si bapak bersedia melanjutkan pengobatan, tugas berikutnya adalah investigasi kontak. Di rumah bapak itu, Dyah menyebut ada tiga orang anak yang dua di antaranya masih balita, selain sang istri.

Sejumlah Kepala OPD Pemkot Solo Positif Covid-19, Sekda Dan Wali Kota Karantina Mandiri

Sampel dahak keempat anggota keluarga itu harus diambil untuk dicek di laboratorium. Hasilnya, anak kedua ikut terpapar TBC. Dari temuan itu, sang ayah akhirnya bersemangat untuk sembuh.

Kader ketuk pintu TBC Puskesmas Sibela, Mojosongo, Solo, Dyah Retno, melakukan investigasi kontak pasien TBC, beberapa waktu lalu. (Istimewa)

Terlebih, anak ketiganya memiliki gejala ke arah TBC yang ditandai berat badan tidak naik, meski hasilnya negatif. “Jadi anak kedua ini kemudian harus berobat dengan pengawasan salah satu RS swasta di Solo. Sedangkan anak yang ketiga ikut Pengobatan Pencegahan dengan Isoniazid [PP-INH] dengan dasar sudah ada TB dewasa dan anak di rumah yang sama. Jadi kalau dihitung, bapak tersebut pengobatannya sudah memasuki bulan kelima dan anaknya bulan keempat. Sampai November, saya masih berkunjung untuk mengecek kepatuhan,” ungkap warga RT006/RW027 Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, itu.

Dyah mengakui jumlah pasien yang ia kunjungi terlampau jauh lebih sedikit dibandingkan 2019 lalu. Jika sebelumnya ada temuan 30 pasien baru, kini sepuluh orang pun belum tercapai.

Karantina Pendatang Di Benteng Vastenburg: Mirip Saat Lebaran, Pemkot Solo Siapkan Bus Penjemput

Investigasi Kontak

Ketika awal Pandemi berlangsung, Puskesmas melarang kader berkegiatan. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, temuan kasus TBC Kota Solo hingga September 2020 baru 41,31% dari target 1668 orang.

Sementara pada 2019, dari target 1.591 orang, DKK bisa menjangkau 113% atau melampaui target. Namun, setelah evaluasi dilakukan, banyak kasus DBD, TBC maupun penyakit lain yang terabaikan yang mendorong lonjakan kasus.

Akhirnya, kunjungan kader kembali dilakukan dengan syarat menerapkan protokol kesehatan, tidak terlalu lama tatap muka, dan wajib dilakukan di luar ruangan.

Rekor Terbanyak! Positif Covid-19 Kota Solo Tambah 111 Kasus Sehari, 5 Orang Meninggal

“Mulai kunjungan ke lapangan pada Mei. Medio 2019 sampai 2020 ini, saya sudah menemukan 30-an kasus, termasuk bapak dan anak tersebut. Saya juga sempat menemukan pasien TB RO satu orang. Teknis menemukan pasien, saya dapat data dari Puskesmas ada warga yang punya gejala mengarah ke sana yang harus saya kunjungi untuk mengambil dahak dan investigasi kontak,” imbuh Dyah.

Ia mengakui kunjungan ke rumah pasien TBC tersebut gampang-gampang susah. Apalagi jika berhadapan dengan warga di lingkungan perumahan yang cenderung lebih tertutup. Mereka yang di perkampungan lebih peka dan mau saling mengingatkan.

Penolakan demi penolakan pernah ia alami. Kendati begitu, Dyah berusaha berkomunikasi dengan perangkat RT/RW setempat agar penderita TBC itu bisa ditemukan dan menerima pengobatan.

KPU Solo Mulai Salurkan Logistik Pilkada, 2.522 Kotak Disebar Ke 3 Kecamatan

Bicara Jujur

“Saat komunikasi dengan perangkat RT/RW kami enggak gamblang bilang jujur begitu, kami hanya menyebut kalau orang itu disasar program kesehatan,” papar ibu satu anak itu.

Kisah hampir sama diceritakan kader ketuk pintu TBC Puskesmas Sumber, Indri Hastuti. Selama Pandemi Covid-19, ia tak menemukan kasus baru lantaran seluruhnya ditangani langsung oleh Puskesmas. Dia hanya bertugas melakukan investigasi kontak.

“Kami hanya investigasi kontak. Puskesmas enggak ingin kami terpapar SARS CoV-2, mengingat kami enggak hanya kader TBC tapi juga merangkap kader lainnya,” ucap Indri.

Kepala Dispertan PP Karanganyar Positif Covid-19, Kantor Tutup Sampai Rabu

Data dari puskesmas yang kian sedikit membuat temuan kasus juga semakin sedikit. Dalam 10 bulan terakhir, Indri baru menjangkau 15 pasien. Padahal tahun sebelumnya ia bisa mendapati puluhan kasus untuk ditangani.

Kegiatan penjangkauan adalah mencari warga yang batuk lama dan tidak kunjung sembuh. Kader kemudian mengambil dahaknya untuk dicek di laboratorium. Hal yang sama dilakukan untuk keluarga dari pasien TBC. Mereka juga wajib dicek karena kerap berkontak dengan pasien TBC.

“Sampai akhir November, saya dan teman-teman di bawah Puskesmas Sumber sudah menginvestigasi kontak 15-an orang. Saya juga menjadi PMO dan mengingatkan untuk PHBS [perilaku hidup bersih dan sehat]. Apalagi di masa Pandemi, mereka rentan terpapar Covid-19. Ya, kami beruntung pasien yang dijangkau akhir-akhir ini taat berobat sejak awal edukasi,” ungkap Indri.

Tak Sembarangan Pasien Covid-19 Bisa Isolasi di Asrama Haji Donohudan, Begini Ketentuannya

Pendampingan

Hal berbeda ia temukan akhir tahun lalu. Ada dua pasien TBC yang enggan mengonsumsi obat hingga harus ia kunjungi hampir setiap hari. Peringatan dari keluarga pun tak digubris. Hingga April 2020 lalu, seorang di antaranya meninggal dunia. Padahal, ia didiagnosis TBC sejak pertengahan 2019. “Alhamdulillah, pasien yang satu sudah masa penyembuhan,” tandasnya.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Tenny Setyoharini, mengakui awal Pandemi Covid-19 membuat aktivitas pendampingan maupun program kader berburu penderita TBC terhenti sementara. Baru pada pertengahan tahun, kegiatan itu kembali bergulir.

“Teknisnya, kader mengecek lingkungan apakah ada warga yang batuk lama. Puskesmas dan kader kemudian mendatangi warga tersebut untuk diambil dahaknya dan diperiksa,” ucap Tenny.

Nenek-Nenek Ini Dapat Bantuan Sembako Setelah Tertangkap Mencuri Alat Mandi di Minimarket Solo, Kok Bisa?

Cara lainnya adalah mengambil data pengunjung puskesmas yang diduga memiliki ciri tertular TBC. Kader kemudian mendatangi warga itu untuk diambil dahaknya. Setelah diketahui terpapar, kader akan melakukan pendampingan minum obat.

Lalu menggelar investigasi kontak guna mengetahui potensi paparan. Jika keluarga ada yang diduga tertular, dahak mereka juga diambil lantas dikirim ke puskesmas.

“Kader ini memiliki tugas berat membantu kami mencapai target temuan. Kami berharap tahun depan, target kami bisa tercapai menemukan penderita TBC sebanyaknya dan menyembuhkan mereka sehingga bisa menekan persebaran,” tandasnya.

 

Artikel Ini Untuk Fellowship AJI Jakarta dan Stop TB Partnership Indonesia (STPI)

Share