Periuk Nasi Seniman
Tito Setyo Budi (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Esai karya Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret, Rahmanu Widayat, berjudul Perupa Berkarya Melawan Wabah, menarik untuk ditanggapi. Tulisan tersebut pada intinya menunjukkan para seniman (koreografer, musikus, perupa, desainer) ikut gumregut melawan wabah Covid-19 dengan cara masing-masing.

Sudah banyak tulisan, ulasan, terkait dengan bencana dunia yang sama sekali tak ada kaitannya dengan grup band Dewa 19 yang dipimpi Ahmad Dhani itu. Semua perlu dibaca meskipun tetap menimbulkan rasa tidak enak.

Tulisan ini juga bicara soal seniman yang berkelindan dengan wabah ini, namun mencoba melongok dari sisi lain yang acap kali luput dari perhatian publik, yakni sisi ekonomi dan sumber penghidupan mereka. Periuk nasi mereka.

Lepas dari sosoknya yang relatif lebih dikenal karena profesi sebagai penghibur, sebenarnya para seniman tak ada bedanya dengan para pedagang, petani, nelayan, yang hidup dari karya seni yang dipasarkan setiap hari.

Mereka juga adhong-adhong tetesing bun, mengharapkan turunnya rezeki dalam bingkai kalender harian karena memang bukan orang gajian. Para bakul wedang, hik, di pinggir jalan yang biasanya buka malam–sehabis Magrib hingga menjelang dini hari–kini pukul 20.00 WIB sudah dioprak-oprak aparat keamanan untuk segera tutup.

Bisa dibayangkan seberapa rezeki yang bisa dikais? Ancaman tidak balik modal sudah melela di depan mata. Aneka makanan yang kebacut dimasak tak mungkin dijual pada malam besok. Seniman bisa lebih parah dari kondisi itu.

Yang saya maksudkan di sini tentu seniman musik yang bukan selevel Didi Kempot atau Via Valen atau para pelukis yang satu lukisannya dihargai setara dengan sebuah mobil mewah.

Yang saya maksud adalah para seniman lokal, sebangsa penyanyi campursari, dalang desa, pelukis foto pinggir jalan, dan lain-lain yang namanya tak pernah disebut oleh media cetak, media elektronik, maupun media online.

Seorang penyanyi di sebuah kecamatan di Kabupaten Ngawi mengaku kepada saya tak mendapatkan job (istilah mereka untuk permintaan tanggapan) selama satu bulan membuat dia harus menjual kalung emas untuk membuka warung nasi dan minuman.

Alih-alih laris (meskipun namanya di kenal di kawasan lingkungannya), modal kalung itu dipastikan tak bakal kembali. Jika seluruh tabungan dikuras tuntas, dan kucuran rezeki tak kunjung turun dalam waktu yang bisa ditentukan, kondisi seperti apa yang hendak menimpa?

Pakar sosiologi seni yang pendapatnya menjadi acuan utama para peneliti seni dunia, Arnold Hauser, memang hebat. Dalam buku tebal The Sociology of Art (1985) ia memberikan rumusan-rumusan yang elok tentang macam-macam tabiat seni, termasuk latar belakangnya, tapi tak bicara soal bagaimana seorang seniman dari lapis sosial bawah bisa hidup di tengah gempuran wabah.

Dengan teori yang dikembangkan Hauser, bisa dijelaskan bagaimana mungkin lagu langgam Jawa yang melankolis seperti Pamitan karya Gesang luluh lantak wibawa liriknya dalam garapan musik dangdut koplo ala grup Sagita. Laris-manis pula. Ternyata tak diperoleh jawaban apa yang semestinya dilakukan para penyanyi grup itu semasa tak ada yang nanggap pada masa wabah Covid-19 ini.

Masa Paceklik

Dalam adegan gara-gara Ki Dalang Anom Suroto sering ngguyoni, setengah berkelakar setengah menyindir para peinden. Jika pada musim kemarau banyak tanggapan, para pesinden itu kebanjiran rezeki, memborong perhiasan, hingga kaki saja dilingkari gelang.

Saat paceklik, bulan Sura atau bulan puasa atau musim penghujan, satu per satu perhiasan itu bersekolah di pegadaian atau sekalian pindah permanen di toko emas. Era wabah Covid-19 ini bukan sebagaimana paceklik guyonan Ki Anom itu.

Wabah infeksi virus corona baru pada masa karantina wilayah yang dibayangi lockdown ini serupa setan yang tak diketahui kapan datang dan perginya. Semua gelap, semua meraba-raba, dengan aneka hitungan dan analisis, baik yang ilmiah maupun gugon tuhon yang tak masuk nalar.

Masa paceklik di kalangan seniman kecil yang hidup di kota-kota kecil, pelosok kecamatan dan desa, tak pernah bisa meramalkan nasib diri mereka. Apakah cukup dalam hitungan bulan atau tak keruan kapan. Mereka tak bakal membaca buku Siasat Bisnis racikan konsultan bisnis Hermawan Kartajaya.

Mereka tak membaca According to Kotler yang berisi tanya jawab seputar dunia usaha karya seorang kampiun pemasaran kelas dunia: Philip Kotler. Mereka seniman kelas bawah yang bergirang-hati saat angka-angka di kalender dinding rumah terlingkari spidol merah atau hitam sebagai tanda ada yang membutuhkan kehadiran mereka.

Mereka bukan seniman besar seperti pelawak Tarzan yang mengembangkan uang dalam aneka bisnis. Bukan Thukul Arwana yang membuat banyak rumah tempat indekos pada masa rezekinya membeludak bagai luapan Bengawan Solo.

Konon kabarnya, mereka menjadi cerdas memanfaatkan rezeki popularitas setelah menyaksikan bagaimana nasib seniman-seniman besar (penyanyi, pelawak. bintang film) yang pada eranya namanya melangit kemudian terjerembab di parit kesengsaraan pada masa tua. Miskin dan menderita.

Selain para seniman lokal itu harus belajar kepada para seniman yang namanya menasional itu juga pada saat-saat masa karantina ini semestinya ada pihak-pihak yang peduli, tak terkecuali pemerintah. Bagaimana membuat semacam jaring pengaman bagi kelangsungan hidup mereka. Semacam bank seniman atau koperasi seniman.

Pemotongan pembayaran listrik atau penundaan cicilan kendaraan tentu sangat membantu. Itu tentu bukan solusi yang final dan permanen. Toh untuk kebutuhan makan dan minum mereka mesti mengusahakan sendiri. Dengan daya upayanya sendiri.

Dahulu, pada masa awal kemerdekaan di hampir seluruh desa di Indonesia punya lumbung padi yang bisa menjadi benteng terakhir ketersediaan pangan tatkala terjadi masa paceklik. Sekarang lumbung padi itu sudah lenyap dari desa-desa. Bangunan itu sudah berubah menjadi, antara lain, sekolah untuk pendidikan anak usia dini (PAUD) atau taman-kanak-kanak.

Akan tetapi, memang, kita bukan bangsa yang senantiasa sadar sejarah. Kesalahan selalu berulang. Jika keledai enggan terperosok berkali-kali dalam lubang yang sama, bangsa yang tak peduli sejarah justru bergairah dengan lubang demi lubang. Akhirnya yang muncul adalah semangat gali lubang tutup lubang. Apa boleh buat? Itulah adatnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho