Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier bersama pemimpin negara Hungaria, Polandia, dan Republik Ceko, menaruh bunga mawar di celah tembok dalam peringatan 30 tahun jatuhnya Tembok Berlin. (Reuters/Fabrizio Bensch)

Solopos.com, SOLO – Warga Jerman memperingati 30 tahun jatuhnya Tembok Berlin, Sabtu (9/11/2019). Dalam acara tersebut, Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mengucapkan terima kasih kepada masyarakat negara Eropa yang mendukungrevolusi damai.

Meski demikian, perbedaan sistem politik masih terjadi. Presiden Frank-Walter Steinmeier juga belum bisa memastikan masa depan negaranya.

“Demokrasi liberal menjadi tantangan. Namun, tanpa keberanian dan keinginan untuk merdeka dari warga Polandia, Hungaria, Ceko, dan Slovakia, revolusi damai di Eropa Timur dan reunifikasi Jerman tidak mungkin terjadi,” terang Presiden Frank-Walter Steinmeier seperti dikutip dari Reuters, Minggu (10/11/2019).

Kanselir Jerman, Angela Merkel, juga menegaskan hal senada. Menurutnya, nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan warga Eropa harus dipertahankan.

“Nilai-nilai yang menjadi dasar Eropa, yakni kebebasan, demokrasi, persamaan, aturan hukum, menghormati hak asasi manusia, tidak bisa dilihat dengan jelas. Nilai-nilai ini harus terus diisi dengan kehidupan dan dipertahankan secara terus-menerus,” terangnya.

Sebagai informasi, Tembok Berlin yang memisahkan Jerman Timur dan Barat jatuh pada 1989. Tembok Berlin merupakan simbol Perang Dingin antara Jerman Timur yang berhaluan komunis dan Barat yang didukung negara Barat. Setahun setelah runtuh, reunifikasi Jerman terjadi.

Pada Agustus 1989, pengawal perbatasan Hungaria mengizinkan warga Jerman Timur mnyeberang ke Austria. Kebijakan inilah yang menjadi pemicu jatuhnya Tembok Berlin dan berakhirnya kekuasaan Uni Soviet di wilayah tersebut.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten