Bangkai ikan nila dan mas mengambang di permukaan keramba milik Mitra Usaha di Waduk Kedung Ombo (WKO) sebelah timur, tepatnya di kawasan Ngasinan, Ngargotirto, Sumberlawang, Sragen, Selasa (24/8/2016). (Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos)

Perikanan Boyolali, petani ikan WKO di Kemusu, Boyolali mengalami kerugian puluhan juta rupiah.

Solopos.com, BOYOLALI--Setelah ratusan ton ikan di Waduk Kedung Ombo (WKO) milik nelayan Dusun Ngasinan, Desa Ngargotirto, Sumberlawang, Sragen, mati dalam sepekan terakhir, kini musibah serupa melanda nelayan Kecamatan Kemusu, Boyolali. Meski jumlah ikan yang mati tak sebanyak di Sragen, namun nelayan rugi puluhan juta.

Seorang nelayan asal Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Budi Siswanto, mengatakan ikan yang mati berjenis nila, emas, dan patin. Ikan-ikan tersebut mati diduga karena pengaruh iklim ekstrem dalam beberapa waktu terakhir. “Dugaan kami masih seperti sebelumnya, yakni karena pengaruh angin darat yang berembus kencang selama beberapa hari terakhir,” kata Budi Siswanto kepada Solopos.com, Selasa (30/8/2016).

Kondisi inilah yang membuat lumpur-lumpur di WKO terangkat dan membuat karamba jadi keruh. Pada saat malam hari, udara cukup cukup dingin. Hal berbeda terjadi saat siang hari, di mana udara cukup panas. Akibatnya, ikan-ikan tak tahan dan mati. Sebagian mati karena terserang jamur. “Kalau air keruh, kan jadi kekurangan oksigen,” ujarnya.

Budi mengatakan, saat ini jumlah ikan yang mati sudah berkurang dibandingkan tiga hari sebelumnya. Total kerugian mencapai puluhan juta rupiah. “Tak sebanyak seperti di Ngasinan, Sragen. Sebab, kami sudah antisipasi jauh-jauh dengan cara membikin oksigen buatan. Langkahnya  dengan jalan menyalakan mesin pompa air untuk menciptakan sirkulasi air,” paparnya.

Musibah tersebut, lanjut Budi, juga terjadi pada beberapa tahun lalu. Faktor pemicunya juga sama, yakni cuaca ektrem, di mana siang hari udara terasa terik, namun malam hari sangat dingin.

Kaur Umum Desa Wonoharjo, Pujiyanto, menambahkan ikan-ikan yang mati paling banyak berada di Ngasinan, Sumberlawang, Sragen. Namun, kata dia, ikan-ikan warga Desa Wonoharjo juga ikut mati. “Sudah sepekan ini. Tahu-tahu, banyak ikan nelayan mengapung,” ujarnya.

Di Desa Wonoharjo, Kemusu, ada 100-an orang. Jumlah karamba para nelayan mencapai seribuan lebih unit dengan luas karamba rata-rata 6 meter x 6 meter. Diberitakan sebelumnya, ratusan ton ikan yang tersebar di sekitar 150 keramba di WKO mati. Kematian ratusan ton ikan itu diduga dipengaruhi perubahan iklim yang kurang bersahabat. Kebanyakan perut bangkai ikan jenis emas dan nila itu sudah buncit. Tak hanya ikan yang siap panen, bibit ikan yang baru berusia beberapa hari juga banyak ditemukan mati.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten