Setiawan Sabana/seni.co.id

Solopos.com, SOLO -- Kertas menjadi media yang berjasa bagi kehidupan sejak diketemukan hampir 20 abad yang silam. Kertas sempat menggantikan media-media lain yang juga telah berjasa bagi kebudayaan dan peradaban manusia sebelumnya.

Akal manusia tidak pernah tinggal diam dan berupaya merespons atau menelaah kritis keadaan agar terjadi kemajuan demi kemajuan pada kehidupan manusia. Perkembangan sains dan teknologi digital telah membuat kerja informasi-komunikasi kian cepat dan meluas.

Terciptalah budaya media teknologi virtual yang menandai pergeseran nilai dan makna kehidupan pada zaman sekarang atau dengan istilah populer sebagai ”zaman kiwari” atau ”zaman now”. Esai ini merupakan kajian ringkas tentang pergeseran pemakaian media kertas menuju media digital dengan segala konsekuensi bagi kehidupan keseharian hingga filosofi bahkan transendensi.

Pergeseran akan menciptakan ketidakstabilan atau percikan-percikan nilai dan makna hidup yang disruptif, sebagai suatu inovasi yang lahir dari sikap kritis terhadap keadaan sebelumnya. Keadaan tersebut berlaku dalam konteks peralihan media kertas ke media digital, dari zaman kertas ke zaman now.

Kertas merupakan benda sehari-hari yang mudah ditemui, mudah diperoleh, ada di mana-mana, jumlahnya berlimpah, dan harganya relatif murah. Benda dengan berbagai ukuran ini sangat tipis dan ringan, transparan bila terkena cahaya.

Lahir dari Daya Pikir Kritis

Kertas lahir sebagai capaian dari daya pikir yang kritis, imajinatif, dan kreatif Tsai Lun pada abad ke-2 di Tiongkok (Studley, 1977). Pada masanya kertas menjadi suatu inovasi (saintifik dan teknologis) yang hebat, menggeser medium-medium tradisional pada masa itu.

Kertas jelas berkait erat dengan aktivitas dunia pendidikan. Dalam menuntut ilmu peran kertas sangat signifikan. Tulis-menulis dikerjakan pada kertas. Pengetahuan diperoleh lewat bacaan pada lembaran-lembaran kertas dalam format buku, majalah, atau koran.

Dapat diduga tiap hari dunia pendidikan membutuhkan kertas dalam berbagai bentuk, serta dalam jumlah yang banyak sekali. Kertas sebagai sertifikat, ijazah atau buku misalnya, menjadi lembaran yang bernilai, menjadi simbol prestasi dan prestise seseorang.

Masih banyak aktivitas sektor kehidupan lain yang memerlukan kertas, seperti perdagangan, hukum, sastra, seni rupa, desain, kriya, sains, teknologi, dan sebagainya. Ringkas cerita, kehidupan kita dikepung oleh lembaran kertas dengan berbagai bentuk, format, fungsi, nilai, dan makna bagi kehidupan.

Sebagai media, kertas telah membangun ruang-ruang fisik, pikiran, imajinasi, dan budaya, juga wilayah transendensi manusia. Dalam konteks spiritualitas, yang jelas, kitab-kitab suci tampil dalam format bermedia kertas.

Dalam masyarakat dan kebudayaan tertentu kertas diperlakukan sebagai medium penghubung manusia dengan dunia leluhur, dunia gaib yang diyakini dapat dijembatani melalui kertas. Dalam renungan Soemardjo (2011), kertas bermuatan paradoks: sakral dan profan sekaligus, kertas dapat menjadi medium hadirnya daya adikodrati.

Perspektif Seni (Rupa)

Karya seni dapat terbentuk dari media (bahan dan teknik) apa saja, termasuk kertas. Dengan hanya menggunakan kertas bisa lahir sebuah karya seni yang bernilai tinggi. Contoh jenis seni yang akrab dengan kertas adalah seni gambar (drawing).

Kertas dan ekspresi gambar satu napas. Seni gambar identik dengan kertas, atau sebaliknya. Secara artistik, kualitas karya gambar berdampingan dengan kualitas alat gambar, umumnya pensil, tinta gambar, aneka jenis spidol, atau alat-alat lain yang sesuai.

Jenis seni rupa lain yang akrab dengan kertas adalah seni lukis cat air (water colour painting atau gouache). Seni lukis ini adalah jenis seni rupa yang menggunakan pigmen/cat berbasis air (waterbased paint) di bidang kertas.

Karya seni lukis cat air dapat menghadirkan atau menyerasikan renungan tematik (nilai budaya) pelukisnya dengan potensi estetik yang dapat dieksplorasi dari media (bahan dan teknik) kertas. Lewat kerja kreatifnya, seorang pelukis kemudian mengolah objek garapan (subjectmatter) dalam komposisi bentuk, garis, warna, dan tekstur.

Seni lain yang akrab dengan kertas adalah seni grafis (printmaking). Jenis seni ini memanfaatkan teknologi cetak tradisional seperti cukilan kayu (wood-cut, wood-block, wood engraving), intaglio (etsa, akuatin, drypoint, engraving), cetak datar (lithography), dan cetak saring (serigraphy, screenprint).

Karya seni grafis memanfaatkan kertas yang dijadikan alas hasil cetakan dengan teknik-teknik di muka. Kualifikasi kertas yang dipakai untuk seni grafis berbeda dengan kualifikasi kertas untuk lukisan cat air atau untuk gambar (drawing).

Kerja Kreatif

Kertas untuk seni grafis lebih dipersiapkan agar kertas tersebut sanggup menerima sifat tinta yang cenderung berbasis minyak (oil-based paint). Kualitas karya seni grafis terletak pada kemampuan pegrafis memilih, menyerasikan kualitas kertas, tinta, peralatan pengolahan klise cetak, dan mesin cetaknya.

Kerja kreatif seni grafis identik dengan prosedur yang cukup ketat antara pengetahuan (kualifikasi bahan), keterampilan (hal teknis), kreativitas (olah media dan estetik), yang diwarnai oleh imajinasi serta renungan budaya atau filosofis seorang pegrafis.

Kertas sangat mudah dilipat dan dibentuk menjadi beraneka macam bentuk kreasi yang dikenal sebagai origami atau seni melipat kertas. Origami yang berasal dari Jepang ini telah menjadi bentuk seni rupa yang memanfaatkan keunikan kertas.

Potensi kertas tidak terbatas. Kini ekspresi seni rupa kontemporer yang memanfaatkan kertas kian beragam, mulai ekspresi dua dimensi hingga tiga dimensi, dan dengan berbagai istilah, seperti patung, objek, instalasi, dan sebagainya.

Melalui kreativitas para seniman, kertas diolah menjadi benda bernilai tematik dan estetik. Banyak bentuk karya seni yang terlahir dari kertas. Keberadaan seniman telah turut mengapresiasi kertas dan mengangkat harkat sebagai karya-karya indah yang memperkaya pengalaman seni penikmatnya. Karya seni kertas pun telah turut memperindah hidup dan kehidupan.

Seiring perkembangan zaman, media atau alat komunikasi terus berkembang. Media informasi dan komunikasi mutakhir (media baru) kini kian mengandalkan teknologi digital dan komputerisasi. Saat ini kehidupan manusia sedang memasuki era atau zaman media baru (new media age).

Ruang Maya

Telepon genggam atau yang lebih dikenal dengan telepon seluler, handphone, dengan berbagai variasi fasilitas, merupakan salah satu bentuk teknologi komunikasi masa kini yang sangat populer. Sekarang alat komunikasi ini dimiliki dan dimanfaatkan oleh berbagai kalangan sosial untuk berbagai kepentingan yang dahulu dilakukan lewat kertas.

Media informasi dan komunikasi lewat komputer dengan program jaringan Internet telah menciptakan berbagai ruang maya yang mampu menyampaikan informasi secara cepat dan global. Aktivitas manusia di muka planet ini kian bergerak cepat, luas, dan sanggup memasuki lokasi-lokasi atau ruang-ruang kecil atau privat sekalipun.

E-mail, e-book, website, blog, Facebook, Twitter, Youtube, dan berbagai media sosial lainnya memungkinkan orang berkomunikasi tanpa batas. Pada era media baru ini peran kertas terkesan berkurang, terdesak oleh berbagai media yang kian berfungsi tanpa memerlukan kertas.

Banyak cerita tentang kantor pos yang kian kehilangan pamor karena aktivitas kantor pos pada masa lalu identik dengan media kertas. Banyak berita tentang buku, majalah, koran yang beredar secara online, bergeser menjadi e-book, e-magazine, atau e-newspaper. Akankah kertas hilang dari peredaran kegiatan harian manusia dan tergantikan oleh perkakas atau perangkat media baru yang kian canggih?

Bahan utama pembuatan kertas adalah kayu (pohon). Mula-mula pohon ditebang dan ditimbun. Setelah terkumpul, dimulailah proses pulping kayu (bubur kayu), kemudian dilanjutkan dengan proses bleaching agar warna bubur kayu menjadi putih.

Proses dilanjutkan ke mesin kertas hingga menjadi gulungan-gulungan kertas. Pembuatan kertas tentu memerlukan banyak batang pohon setiap kali melakukan produksi. Pohon sangat erat kaitannya dengan hutan dan lingkungan hidup. Hutan adalah suatu kawasan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam kesatuan alam lingkungan.

Perspektif Lingkungan

Industrialisasi kertas identik dengan penebangan pohon tertentu dan pabrik-pabrik besar kertas. Dampak buruk yang terjadi adalah penebangan liar, pembuangan limbah kertas, pencemaran air, dan tindakan-tindakan buruk lainnya.

Tanpa disadari semua itu dapat berdampak buruk bagi lingkungan hidup manusia. Perlahan-lahan bencana pun mulai terjadi, mirisnya, yang menjadi korban itu semua adalah manusia itu sendiri. Eksistensi kertas tergugat karena permasalahan lingkungan tersebut, karenanya diperlukan segera langkah yang bijaksana dan arif terhadap alam, terutama hutan dan semua makhluk penghuninya.

Sudah sekian lama kita hidup dalam era dan zaman kertas. Kertas telah menjadi bagian dari sistem nilai dan makna dalam kebudayaan serta peradaban dunia. Perkembangan sains dan teknologi media mutakhir telah menghasilkan media-media baru yang keberadaannya mampu menyaingi bahkan menggeser peran media kertas.

Sistem nilai dan logika kertas tergeser oleh perangkat nilai dan logika layar pada media-media baru tadi. Dalam konteks peradaban, boleh jadi kita sedang berada dalam suatu pergeseran era atau zaman, dari era atau zaman kertas ke era teknologi layar yang digital beserta sistem dan perangkat nilai yang diusung.

Sepertinya, peradaban manusia sedang menyongsong suatu era baru. Keadaaan transisional tersebut kita saksikan sedang menggeser produk-produk kebudayaan yang berbasis kertas, termasuk seni. Medan seni sedang berkembang dinamis menyesuaikan diri dengan perkembangan spirit dan fasilitas zaman (baca: teknologi).

Mengapresiasi Seni

Uraian di muka tentang berbagai perspektif kertas dalam konteks kebendaan (tangible aspect) dan nilai-nilai (intangible aspect) memperlihatkan hasil inovasi sains dan teknologi dapat dimanfaatkan oleh medan seni (art world) sehingga memberikan harkat dan martabat yang tinggi bagi kebudayaan dan peradaban manusia.

Kertas yang menjelma menjadi karya seni pada hakikatnya memadukan dimensi sains, teknologi, artistik, dan budaya tempat karya itu dibuat. Sebaliknya, karya teknologi yang mengakomodasi dan mengapresiasi seni secara komprehensif (estetis, imajinatif, dan kreatif) dapat memberikan harkat dan martabat yang tinggi pula bagi dunia sains dan teknologi.

Kebutuhan manusia untuk hidup dan berkehidupan lebih baik dan bermartabat--dari zaman ke zaman--kalau disimak secara objektif, tidak pernah bergantung pada hanya satu aktivitas keilmuan (teoretik dan praktik), tetapi selalu dalam kebersamaan aktivitas keilmuan-keilmuan lain dalam proporsinya (interdisiplin, transdisiplin, dan multidisiplin).

Praktik dan wacana atau renungan seni telah bergeser dalam bentuk dan orientasi. Seni tidak lagi melayani dirinya (seni untuk seni/art for art) tapi bergerak ekspansif ke arah pelayanan untuk kolektor seni, pengusaha (komodifikasi), penguasa (kaum politik), lingkungan hidup, penyandang kebutuhan khusus (difabel), ekonomi (industri/ekonomi kreatif), pariwisata, pendidikan, kesejarahan, filsafat, spiritualitas agama, ruang urban (kearifan urban/urban wisdom), festival (misalnya, Jember Festival), dan sebagainya.

Persoalan suku, agama, rasa, golongan, etnisitas, bencana alam, tawuran antarkelompok, polusi, kemacetan lalulintas kian mengemuka dalam keseharian kita dewasa ini. Pertanyaannya, sejauh mana seni dan dunia seni (media sosial seni) dapat menelaah kritis, berinteraksi, dan berkontribusi terhadap permasalahan realistis di muka? Selamat membaca pergeseran tanda-tanda zaman lewat kertas (zaman kertas) ke era digital alias zaman kiwari (zaman now)!


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten