Perempuan Solo Korban Perusahaan Fintech Ilegal Diperiksa Polisi
Korban perusahaan tekfin ilegal, YI (kiri), dan kuasa hukumnya dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Soloraya saat konferensi pers di Sentra Niaga (Senia) Solo Baru, Kamis (25/7/2019). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)

Solopos.com, SOLO -- Aparat Polresta Solo mulai memeriksa perempuan asal Solo yang menjadi korban perusahaan financial technologi (fintech) ilegal, YI, Senin (29/7/2019) siang.

Pemeriksaan itu untuk mengumpulkan bukti-bukti berupa nomor telepon dari perusahaan fintech ilegal yang diduga meneror, mencemarkan, dan melecehkan YI.

YI datang ke Mapolresta Solo didampingi tim pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Soloraya untuk membuat berita acara pemeriksaan (BAP) kasus pinjaman online tersebut.

Direktur LBH Soloraya, I Gede Sukadewa Putra, saat dijumpai wartawan di Mapolresta Solo, mengatakan pemeriksaan meliputi pengumpulan bukti-bukti yang digunakan untuk meneror YI kepada penyidik.

“Jumlah nomor yang digunakan meneror ada 30 nomor namun sudah kami pilah menjadi 10 nomor saja. Sebanyak 10 nomor ini fokus meminta korban menjual organ tubuh dan diri. Nomor yang digunakan selalu berganti setiap jam, bahkan ahli IT tim kami menyebut ada nomor dari Malaysia dan Republik Rakyat Tiongkok. Seluruh nomor yang digunakan diperiksa penyidik,” ujarnya.

Ia mengatakan tidak meneruskan laporan mengenai perusahaan tekfin ilegal ini ke Polda Jateng dikarenakan pemeriksaan yang sudah digelar oleh Mapolresta Solo. Sementara itu, bukti-bukti berupa suara, screenshot (tangkapan layar], yang menguatkan juga telah diserahkan ke kepolisian.

Sementara itu dari penyidik kepolisian belum ada yang bisa dimintai informasi mengenai pemeriksaan YI. Sebagaimana diinformasikan, YI yang meminjam uang lewat aplikasi fintech mendadak viral di media sosial setelah foto orang yang diduga dirinya beredar disertai keterangan yang bernada melecehkan.

Foto itu diduga disebarkan oleh pengelola perusahaan fintech di mana YI meminjam sejumlah via aplikasi. YI dianggap tak bisa melunasi utangnya dan foto itu disebar sebagai upaya penagihan.



Avatar
Editor:
Suharsih


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom