Perempuan Berjemari Kuning

Kami duduk bersisihan dipisahkan gang jalan kondektur. Sengaja kupilih letak seperti ini karena hanya dengan jarak sedekat itu wanginya tercium, aroma hangat menenangkan bercampur wewangian rempah dari jemarinya.

Lima menit berlalu sejak roda bus meninggalkan terminal. Tapi otak masih belum menemukan kalimat terbaik untuk menyapa. Sementara dia segera sibuk dengan buku dan kesunyian. Jari-jarinya pelan membalik lembaran kertas yang tidak lebih kuning dari ujung kukunya.

“Aku mencintai buku-buku bagus,” katanya suatu hari. “Aku sedih setiap membaca buku yang buruk. Merasa berdosa pada pohon-pohon.”

“Tapi kan kamu tidak menulisnya.” Aku mencoba menghibur.

Dia menggeleng, "Kamu tidak tahu."

Meski tidak dengan alasannya, aku tahu dia begitu mencintai tumbuhan. Kepada pohon-pohon di pinggir jalan dia berduka untuk setiap paku yang menancap. Dia berteman baik dengan bunga-bunga seperti perempuan umumnya. Juga mengakrabi jejamuan. Yang terakhir bahkan menjadi penghidupan. Mengolah rimpang menjadi serbuk siap seduh dan mengirimnya ke kota-kota besar. Bakul jamu ayu tur pinter, begitu dia dikenal. Meski awalnya pilihan karier itu dipertanyakan.

“Sekolah tinggi-tinggi kok cuma jadi bakul jamu?” begitu dia sering disindir.

Selalu sambil tersenyum, dia katakan, “Setiap perempuan itu calon ibu. Seorang ibu kan harus terpelajar?" katanya santun.

Sebagai yang tidak seterpelajar dirinya, aku selalu tertegun melihatnya berkata begitu. Betapa beruntungnya anak-anak kami nanti. Iya, kami. Sebab selain buku dan jamu, dia hanya dekat denganku sebagai lelaki. Setidaknya menurutku.

Alangkah indahnya jika kedekatan itu berkembang menjadikannya ibu dari anak-anakku kelak.

“Astaghfirullah!” Dia berujar kaget. Aku pun.

Bus berhenti mendadak.Supir misuh. Pengendara motor ngawur. Aku berpaling ke jendela mencari angin segar. Terlalu lama menatap pujaan hati rupanya bisa membuat dada sesak. Di luar, gerimis turun perlahan. Wajah anak-anak di posko pengungsian berkelebatan di benak. Mereka yang harus tinggal lebih lama karena rumah belum selesai dibersihkan seusai banjir yang menggenangi kampung beberapa hari lalu.

Selain bekerja di percetakan, aku bergabung dengan komunitas sukarelawan kemanusiaan. Awalnya hanya diajak berbagi nasi bungkus selepas Salat Jumat, lalu mengumpulkan bantuan setiap terjadi bencana, bahkan terlibat konser penggalangan dana untuk korban perang internasional. Beberapa teman kerja kerap mengolok bagaimana kami begitu peduli pada anak-anak di luar negeri sementara negara sendiri masih kekurangan.

Aku tidak pandai berkata-kata, selalu memilih diam sambil menyodorkan selebaran kegiatan komunitas. Ada banyak pilihan bantuan lokal hingga internasional yang bisa dia berikan selain hujatan. Lagipula di komunitas ini aku bahagia bisa mengenal teman-teman yang selalu mengingatkan dalam kebaikan meski menginsafi diri sendiri belum baik.

“Sekarang ini banyak bencana, wabah penyakit, benar-benar sudah akhir zaman. Kamu kapan mau bertobat? Tidak malu tiba-tiba meninggal tapi belum menikah?” seloroh senior kami suatu hari.

Aku memang kaum lajang minoritas di komunitas ini. Sebenarnya cukup banyak lainnya, tetapi anak-anak remaja yang masih sekolah. Usiaku baru 25 tahun, tapi menurut teman-teman sudah cukup tua untuk menyesali keterlambatan menikah. Beberapa senior bahkan mencoba menjodohkan dengan teman atau saudara mereka. Tentu kutolak baik-baik. Aku sudah memilih. Hanya ada dia di hati ini. Meski tak sepenuhnya yakin adakah aku di hatinya.

Aku terpesona padanya yang begitu tenang dengan dunianya. Dia selalu menolak diajak ke pasar malam atau festival di alun-alun. Kalaupun ada keramaian yang dikunjungi pastilah acara-acara belajar. Makanya aku mengajaknya ke kajian hari ini.

Awalnya kupikir akan ditolak. Dia memang suka belajar, tapi bukan yang membahas perasaan atau pernikahan. Entah ada ketertarikan seperti itu padanya atau tidak. Usianya lima tahun lebih tua, tapi bahkan sebagai perempuan dia tampak santai belum berkeluarga. Entah kalau dia berada di komunitas kami di mana setiap sapaan senior adalah hujatan bagi kaum lajang.

Dia cantik, tapi bukan itu satu-satunya alasanku menaruh hati. Dia kembali dari kota setelah rampung kuliah dan segera menggerakkan ibu-ibu di kampung mengelola jejamuan yang memang banyak tumbuh tak terawat. Lewat jemari kecil yang kian menguning, diolahnya jamu bubuk menjadi lebih diminati anak muda dengan kemasan modern. Hal terakhir pula yang membuat kami menjadi dekat.

Dia selalu datang ke percetakan untuk melengkapi kebutuhan usaha, mulai dari label merek hingga kemasan produk yang terus berkembang. Terkadang dia datang dengan rencana sempurna siap cetak—yang membuatnya cantik dengan kecerdasannya. Terkadang dia datang dengan ide yang tidak bisa dieksekusi hanya untuk berdebat panjang—yang membuatnya tampak lebih cantik saat marah. Terkadang dia datang tanpa bercakap dan begitu saja memasrahkan urusan desain kepada ahlinya—disebut begitu bajuku terasa sesak. Melihat kemajuan bisnisnya saat ini membuat nyaliku kian ciut meski diam-diam ada kebanggaan bisa menjadi bagian pertumbuhan itu.

Alangkah indahnya jika kami juga dapat tumbuh bersama dalam hal lainnya.

“Astaghfirullah!” Dia berujar kaget. Aku pun.

Jalan yang berkelok membuat keseimbangan hilang. Dia menutup buku. Mendadak suasana tegang.

“Sudah pernah ikut kajian pranikah?” tanyaku. Semoga bukan kalimat pembuka yang frontal.

“Belum. Sebenarnya aku tidak terlalu mengikuti tema seperti ini.” Dia tersenyum. Manisnya.

“Kenapa sekarang mau?” Masih hati-hati meski terselip harap. Mungkinkah sekarang dia sudah mulai memikirkan pernikahan? Mungkinkah dia tergerak karena aku yang mengajaknya? Apakah berarti aku mempunyai peluang?

“Jujur tema yang akan dibahas belakangan sedang mengganggu pikiranku.”

Dia memiringkan tubuhnya. Kalau sudah begini biasanya akan berbicara panjang lebar. Meski begitu tatapannya selalu terasa berjarak. Kedua mata terbuka tapi hatinya tidak. Ada rindu jauh yang tersimpan di jarak pandangnya. Aku ingin sekali melipat jarak itu seperti kata-kata penyair tapi bahkan membaca buku saja aku tak suka.

“Aku juga merasa takut akhir-akhir ini.”

Itu betul. Aku tidak menggombal hanya agar terdengar satu frekuensi dengannya. Sebenarnya mengikuti kajian pranikah seperti ini juga kali pertama bagiku. Jujur desakan senior perihal status lajang di akhir zaman sangat mengganggu. Sebagaimana manusia lain, aku takut kesepian. Bayangan meninggal di daerah rantau tanpa seorang terkasih di samping sering menjadi mimpi buruk. Namun aku juga belum merasa pantas mengajaknya menikah. Ada ketakutan-ketakutan lain yang harus diselesaikan. Dengan kondisi saat ini, sebagai lelaki aku merasa belum bisa memuliakannya secara ekonomi. Kuharap kajian hari ini menjawab ketakutan-ketakutanku itu, sekaligus meyakinkannya yang selama ini begitu jauh dalam jangkauan.

“Sebenarnya menurutku ketakutan-ketakutan ini tidak hanya hadir sebelum menikah. Di mana akan tinggal? Mau dikasih makan apa? dan pertanyaan-pertanyaan lain adalah ketakutan anak-anak peradaban sepanjang masa. Dan bagi manusia zaman sekarang—kamu menyebutnya akhir zaman—ketakutan itu semakin menjadi.”

Aku khusyuk mendengar meski sebenarnya tidak paham hubungan konsep akhir zaman yang abstrak dengan ketakutan-ketakutan pranikah yang sangat material itu. Aku hanya berusaha mengabadikan tatapannya yang perlahan tidak lagi seperti menyimpan rindu yang jauh. Tatapan yang benar-benar dihadirkan untuk orang di hadapannya. Tatapan yang menjadi isyarat mulai terbukanya pintu itu.

“Saat kamu mengirim undangan kajian, aku sedang membereskan bekas banjir sambil menonton berita wabah penyakit baru di negeri tetangga. Aku takut sekali. Bumi semakin tua, sementara manusia semakin serakah. Pohon-pohon ditebang diganti bangunan, tapi ketika banjir kita mengutuk Tuhan. Kalau seluruh bumi rusak, jangankan calon pengantin, yang sudah bosan bertengkar juga bingung akan tinggal di mana, kan?”

Aku menelan ludah mendengar cakapnya. Sungguh ganjil seorang yang berbicara tentang kerusakan alam bisa terlihat secantik itu. Tapi entah kenapa aku justru sedih.

“Kamu tahu kan, wabah yang sedang ramai dibicarakan karena keserakahan manusia. Semua dimakan tanpa mengenal batasan. Apa kita masih bisa benar-benar yakin makanan yang kita konsumsi benar-benar baik? Tidak hanya halal secara materi tapi juga tayyib dalam pengolahannya? Jika baik dan buruk hanya didasarkan pada ego manusia, ketakutan mau dikasih makan apa, lagi-lagi tidak hanya relevan bagi calon pengantin. Kamu juga berpikir begitu?”

Dia mengakhiri monolog dengan tanya mendadak. Pintu di matanya semakin terbuka, menunggu seorang di hadapannya memberanikan diri melangkah meraih gerbang. Sementara orang itu hanya mengangguk kecil.

Aku bisa apa jika bahkan dalam mimpi terliarku pun dialog pranikah semacam itu tidak pernah terjadi? Lagi-lagi aku terpana dengan pemikirannya. Membuatku semakin suka sekaligus putus asa. Bagaimana aku bisa jujur soal ketakutan payahku seputar rumah dan nafkah sementara dia justru berbicara tentang wabah manusia dan pemanasan global? Aku tidak pernah merasa segagal ini dalam memahami jalan berpikir perempuan.

Dia masih menanti penjelasan, tapi lidahku begitu kelu.

Bus memasuki jalur lurus. Dia terlihat kecewa ketika akhirnya kembali meraih buku dan mengubah posisi duduk mengarah ke depan. Kami masih bersisihan dengan hanya dipisahkan gang jalan kondektur tapi rasanya begitu berjarak.

“Kenapa suka berbicara dengan tumbuhan?” ucapnya retoris mengulang pertanyaanku saat kali pertama kutemui berbincang dengan para rimpang.

“Sebab hanya mereka yang bisa memahamiku,” katanya ringan tapi terdengar pilu. Saat itu aku hanya mengedikkan bahu. Mengingatnya saat ini membuat kegagalanku terasa lebih menyakitkan.

Bus terus berjalan mengantar kami ke tujuan yang kian dekat. Sementara tujuanku berjalan bersamanya justru menjauh. Semakin jauh. Semakin jauh.

 

Esty Dyah Imaniar

Penulis buku Rules of Love (2018) dan Wanita yang Merindukan Surga (2019)


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho