PEREKONOMIAN JATIM : Kinerja Pusat Perbelanjaan di Surabaya Melambat
Ilustrasi Tunjungan Electronic Center (TEC). (Skyscrapercity.com/Flickr-AceN)

Perekonomian Jatim melesu bersamaan dengan tren nasional dirasakan pula oleh para pengelola pusat perbelanjaan atau pertokoan.

Solopos.com, SURABAYA – Kondisi perekonomian yang lesu tahun 2015 ini dirasakan oleh sejumlah pengusaha, tak terkecuali para pengusaha pengelola pusat perbelanjaan atau pertokoan serta mal di berbagai segmen.

CEO Tunjungan Electronic Center (TEC) Surabaya, Tegoeh Arifin, mengatakan tingkat keterisian ruang pertokoan di TEC saat ini masih mencapai 60%. Bahkan, katanya, sejumlah pedagang elektronik di TEC sekarang ini bertahan untuk menghabiskan stok barang dan memilih wait and see untuk tidak mengimpor barang dagangan.

“Naiknya nilai tukar kurs dolar AS , rasanya sangat susah bagi importir dan principal untuk jualan ke pasar. Jadi mereka menunggu situasi, dan menghabiskan stok jualan saja,” katanya kepada Bisnis, Minggu (28/6/2015).

Gratiskan Service Charge
Dia menambahkan, untuk mendukung perkembangan bisnis di Surabaya, pihaknya tidak memungut service charge kepada para tenant meski secara makro, harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik naik secara berkala.

Biaya sewa ruang ritel di TEC yang dikelola PT Penta Persada Pertiwi, atau anak usaha PT Lamicitra Nusantara Tbk tersebut adalah Rp150.000/m2/bulan. “Service charge sudah include dengan biaya sewa tersebut. Kenaikan sewa akan mengikuti inflasi, jadi pengusaha elektronik bisa punya rencana dari tahun ke tahun. Kami bersyukur karena semua mall dalam kondisi minus, tapi kami enggak terlalu,” imbuh Tegoeh.

Sementara itu, anak usaha PT Lamicitra lainnya seperti PT Persada Alam Nusantara yang mengelola Pusat Grosir Surabaya (PGS) dan Jembatan Merah Plasa (JMP) tahun ini berupaya lebih fokus pada penjualan proyek pusat belanja tersebut. “Pasar memang agak melambat, dan kami berharap adanya perubahan ekonomi dan politik agar semakin membaik sehingga memberikan prospek yang menggembirakan,” ujar Direktur Lamicitra Robin Wijaya.

Di segmen menengah ke atas, seperti mal Lenmarc di Surabaya Barat yang dikelola oleh PT Bukit Darmo Property Tbk., sejak awal tahun ini perseroan rela mengubah konsep mal untuk kembali menggairahkan pasar.

Mal Ubah Konsep
Direktur Bukit Darmo, Philip Tonggoredjo mengatakan perseroan telah mengubah konsep mal Lenmarc dengan membuat beberapa zona khusus, seperti zona art center, dan zona F & B. Sejak mengubahnya, kini sudah mulai banyak tenant yang tertarik untuk mengisi ruang ritel di Lenmarc dengan total okupansi sekitar 70%.

“Memang ada peningkatan sejak kami mengubah konsep mall, dan poin kami sekarang bukan head to head dengan mal-mal yang ada di sekitarnya karena persaingan mal di Surabaya Barat ini sangat ketat, dan sekarang Lenmarc punya ciri sendiri,” jelasnya.

Harga sewa mal di Lenmarc tersebut saat ini rerata adalah Rp170.000-Rp400.000/m2/bulan, dengan service charge Rp80.000/m2/bulan. Untuk mempertahankan tenant, perseroan pun mencoba untuk tidak menaikan service charge tahun ini.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom