Tutup Iklan

Perdagangan Satwa Dilindungi Diungkap di Jogja, Pelaku Warga Semarang

Aparat Polresta Jogja membongkar perdagangan satwa dilindungi yang ditawarkan secara online oleh warga Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

 Ilustrasi satwa dilindungi, kukang. (Freepik)

SOLOPOS.COM - Ilustrasi satwa dilindungi, kukang. (Freepik)

Solopos.com, JOGJA — Aparat Polresta Jogja menggagalkan upaya perdagangan  satwa dilindungi seperti kukang jawa, binturong, buaya muara dan buaya irian. Satwa dilindungi itu ditawarkan secara online melalui media sosial Facebook oleh tersangka berinisial RD, 26, yang merupakan warga Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

Kasatreskrim Polresta Jogja, AKP Andhyka Donny Hendrawan, mengatakan pengungkapan kasus ini bermula saat timnya melakukan patroli siber di media sosial. Setelah itu, pihaknya mendapati adanya satu akun Facebook, Rodo Josy, yang mengunggah foto satwa dilindungi untuk dijual.

“Awalnya itu pada tanggal 15 Oktober 2021, kami mengadakan patroli siber di mana salah satu akun inisial RD kedapatan menjual satwa yang dilindungi,” kata AKP Andhyka dalam jumpa pers di Gembiral Loka (GL) Zoo, Jumat (22/10/2021).

Baca juga: Polda Jatim Bongkar Jaringan Perdagangan Online Satwa Dilindungi

Setelah dilakukan pelacakan, anggota Polresta Jogja mendapatkan informasi apabila keberadaan pemilik akun yang melakukan perdagangan satwa dilindungi itu merupakan warga Semarang. Petugas segera berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jogja untuk melakukan penangkapan. Sekitar pukul 22.00 WIB, petugas kepolisian dan BKSDA Jogja berhasil meringkus RD di kediamannya.

Pada penangkapan tersebut, terdapat barang bukti berupa 7 ekor kukang jawa yang dijual senilai Rp800.000 per ekor, 1 ekor binturong seharga Rp4 juta per ekor, dan 1 ekor buaya muara ukuran 40 sentimeter (cm) serta 1 ekor buaya irian ukuran 75 cm masing-masing dijual Rp1 juta.

Tersangka RD mendapatkan satwa-satwa tersebut juga dengan cara membeli secara online. Petugas masih masih melakukan pengembangan kasus, khususnya asal-usul satwa yang tersangka dapatkan.

“Dia dapat dari online juga, katanya masih sekitaran pulau Jawa dapatnya,” kata AKP Andhyka.

Baca juga: Polda Jawa Timur Bongkar Sindikat Jual Beli Satwa Dilindungi

Akibat perbuatannya, RD dijerat Pasal 40 ayat 2 juncto Pasal 21 ayat 2 UU No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, juncto Pasal 84 ayat (2) KUHP. Pasal tersebut berbunyi setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

“Ancamannya lima tahun penjara dan denda maksimal Rp100 juta,” kata AKP Andhyka.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Balai KSDA Jogja, Untung Suripto mengapresiasi tim Satreskrim Polresta Jogja yang telah membongkar perdagangan satwa dilindungi. “Perdagangan online satwa dilindungi ini sangat marak, karena sistem komunikasinya dimudahkan dan dari mana saja. Dan ini penjualnya ada di Semarang, berarti kan lintas wilayah,” kata Untung.


Berita Terkait

Espos Plus

Pembahasan RUU PDP Belum Rampung, Kominfo Fokus Sosialisasi dan Edukasi

+ PLUS Pembahasan RUU PDP Belum Rampung, Kominfo Fokus Sosialisasi dan Edukasi

Progres terbaru dari pembahasan RUU PDP adalah pembahasan format lembaga pengawas yang akan bertanggung jawab menangani perkara perlindungan data pribadi hingga kini belum final.

Berita Terkini

Sadis, 24 Penumpang Bus di Nigeria Hangus Dibakar Perusuh

Juru bicara kepolisian Negara Bagian Sokoto, Sanusi Abubakar menyebutkan ada 24 penumpang di dalamnya ketika bus itu dibakar oleh pelaku.

Suku Jawa & Melayu Cerai Gegara Penjajah Eropa?

Suku Jawa dan Melayu berasal dari rumpun yang sama, namun konon bercerai gegara peran penjajah Eropa.

Kapolres: Demi Pancasila, Turunkan Seluruh Atribut Ormas!

Dengan demikian, kata Kapolres, tidak ada kesan egosentris atau arogan antarormas yang bisa memberikan rasa tidak aman kepada warga sekitar.

Tegur Karaokean di Warung, Bidan Kena Siram Air Panas

Insiden itu terjadi ketika korban menegur pelaku yang tengah berkaraoke dengan volume kencang sehingga menimbulkan suara bising di sekitar lokasi

Mudik Tak Dilarang, Tetapi Tetap Bangun Kewaspadaan saat Nataru

Ginting menegaskan pemerintah tidak melarang mudik saat momen nataru, namun masyarakat tetap diminta waspada terhadap potensi penularan Covid-19 dengan mematuhi protokol kesehatan.

Asal-Usul Ramalan Jayabaya

Inilah asal-usul Ramalan Jayabaya yang sampai saat ini masih dipercaya sebagian masyarakat Indonesia.

+ PLUS Pembahasan RUU PDP Belum Rampung, Kominfo Fokus Sosialisasi dan Edukasi

Progres terbaru dari pembahasan RUU PDP adalah pembahasan format lembaga pengawas yang akan bertanggung jawab menangani perkara perlindungan data pribadi hingga kini belum final.

2 Juta Buruh Ancam Mogok Nasional Jika UU Cipta Kerja Jalan Terus

Sebanyak 2 juta butuh dari seratusan pabrik mengancam melakukan mogok nasional jikan pemerintah nekat menjalankan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja.

Video Viral Tentara Usir Mertua dari Rumah Dinas

Video viral memperlihatkan seorang prajurit tentara mengusir ibu mertuanya yang duduk di kursi roda dari rumah dinasnya.

Dosen UNJ Diduga Kirim Chat Mesum ke Mahasiswi

Kasus dugaan pelecehan diduga terjadi di Universitas Negeri Jakarta, di mana seorang dosen dilaporkan mengirim chat mesum kepada beberapa mahasiswa.

+ PLUS Membaca Pilpres 2024 Tanpa Jokowi

“Artinya, kalau misalnya ketiga nama ini dapat tiket [Pilpres 2024], sepertinya dengan pola sekarang berdasarkan konstitusi--mereka yang menang satu putaran langsung dilantik sebagai presiden--tidak akan tercapai."

Ahli ITB Jelaskan Penyebab Gunung Semeru Erupsi

Ahli vulkanologi ITB menjelaskan penyebab Gunung Semeru mengalami erupsi, salah satunya curah hujan tinggi.

+ PLUS Penyelesaian Kasus Pelanggaran HAM Berat Terjebak Kegelapan

Upaya penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia kategori berat makin rumit dan kompleks. Penyebab utama semua itu adalah dedikasi dan komitmen politik hukum penegakan hak asasi manusia yang lemah.

Arief Puyuono: Airlangga - Ganjar Capres Top Versi Ramalan Jayabaya

Arief Puyuono menyebut sosok Ganjar Pranowo dan Airlangga Hartarto adalah figur yang cocok menjadi presiden berdasarkan Ramalan Jayabaya.

Kasus Covid-19 Melonjak, Swiss dan Belanda Kerahkan Tentara

Pemerintah Swiss dan Belanda kembali mengerahkan 2.500 anggota tentara untuk membantu pemerintah daerah menangani pandemi virus corona.