Ilustrasi mebel untuk ekspor. (JIBI/Bisnis/Dok.)

Perdagangan di Jateng menunjukkan pertumbuhan yang menarik dibuktikan dengan naiknya nilai ekspor.

Solopos.com, SEMARANG – Perdagangan di Jawa Tengah (Jateng) mengalami pertumbuhan yang cukup memuaskan yang dibuktikan dengan naiknya nilai ekspor. Meski demikian, kenaikan nilai ekspor di Jateng itu masih kurang memuaskan karena hanya sedikit jika dibandingkan tahun lalu.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, Margo Yuwono, saat memberikan paparan terkait perkembangan ekspor-impor di Jateng sepanjang 2016 di Ruang Rapat Lantai V Gedung BPS Jateng, Senin (16/1/2016).

Dalam paparan itu diketahui bahwa nilai ekspor Jateng sepanjang 2016 adalah US$5,389,14 juta atau sekitar Rp6,9 triliun. Jumlah ini meningkat sekitar 0,27% jika dibandingkan nilai ekspor yang dicapai Jateng pada tahun 2015, yakni US$5,374,70 juta.

“Memang ada kenaikan secara keseluruhan dari nilai ekspor di Jateng sepanjang 2016 lalu. Namun, kenaikannya enggak signifikan atau sangat kecil. Seharusnya, kenaikannya bisa lebih besar,” tutur Margo saat dijumpai wartawan seusai pemaparan.

Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, lanjut Margo, ekspor di Jateng masih didominasi dengan tiga kelompok komoditas utama, yakni tekstil, kayu dan barang-barang dari kayu, serta barang hasil pabrik. Tekstil masih mendominasi ekspor Jateng ke luar negeri sekitar US$225,83 juta atau 43,37%, disusul kayu dan barang-barang dari kayu mencapai US$81,89 juta atau 17,73% dan barang hasil pabrik sekitar US$56,39 juta atau sekitar 12,24%.

“Harapan kami kedepan tidak hanya ketiga komoditas ini yang bisa menyumbang ekspor besar Jateng. Di Jateng ini kan terkenal sebagai daerah agro industri, jadi harapannya produk-produk pertanian juga bisa memberikan ekspor yang signifikan,” tutur Margo.

Kendati naik tidak terlalu signifikan, Margo yakin perdagangan di Jateng akan mengalami grafik yang cukup memuaskan. Kondisi ini tak lain karena adanya pangsa pasar baru dalam ekspor Jateng sepanjang 2016 lalu.

Jika pada tahun-tahun sebelumnya, pangsa pasar ekspor Jateng hanya didominasi lima negara, yakni Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Jerman, dan Malaysia, kini perdagangan Jateng justru mendapat tambahan pasar baru, yakni Korea. Bahkan, nilai ekspor ke Korea sepanjang 2016 lalu mampu menempati urutan kelima dengan nilai US$210,59 juta, menggeser Malaysia yang kini menghuni posisi keenam dengan nilai US$179,66 juta.

“Setahu saya Korea sangat meminati produk kayu dari Jateng, seperti gamelan. Bahkan alat musik itu kerap diletakkan masyarakat Korea di depan rumah mereka sebagai pajangan. Mungkin ketertarikan Korea ini bisa lebih digali guna mendorong nilai ekspor Jateng lebih tinggi,” terang Margo.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten