Tutup Iklan
Bandung Mawardi/Dokumen Solopos

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (9/7/2019). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi di Solo, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. 

Solopos.com, SOLO -- Poster untuk film diacarakan meriah, mengabarkan kepada publik agar kelak bersedia jadi penonton. Lihatlah poster dulu sebelum duduk melihat film dengan takzim atau mengeluh! Poster sangat penting. Poster tak sembarangan.

Poster merangsang kita melewati hari-hari menuju pemutaran dua film yang digarap dari dua novel karya Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia dan Perburuan. Di poster orang jangan berharap melihat Pram.

Di poster kita melihat dua lelaki kondang, Iqbaal Ramadhan dan Adipati Dolken. Orang digoda membangkitkan ingatan kepada tokoh-tokoh buatan Pram bernama Minke dan Hardo. Foto Pram memang tak ada. Pram itu hanya nama di poster.

Di Mal Epicentrum, Jakarta, 19 Juni 2019, Falcon Pictures meluncurkan poster film Bumi Manusia. Ada petikan informasi di Tabloid Nova edisi 24-30 Juni 2019: Yang menarik, tampilan background dari poster ini menggunakan tulisan tangan langsung Pramoedya.

Kita diingatkan kepada tulisan tangan. Selama puluhan tahun orang mengenang Pram melalui foto bersejarah. Adegan di foto adalah Pram dengan mesin ketik. Kita jarang melihat foto tangan Pram memegang pena menulis di kertas. Poster itu ingin menunjukkan ”roh” dari penulis novel.

Tulisan tangan diharapkan mujarab mengantar jutaan orang masuk ke gedung bioskop berpredikat penonton film setelah penonton poster. Kita belum memastikan kelak para penonton film adalah pembaca novel berjudul Bumi Manusia.

Di hadapan poster, orang mulai berimajinasi ihwal mutu film garapan Hanung Bramantyo itu. Pada 26 Juni 2019, ada acara peluncuran poster resmi film berjudul Perburuan. Film dengan sutradara Richard Oh itu bernuansa biru dan putih, berbeda dengan nuansa warna di poster Bumi Manusia.

Gambar di poster tak ramai. Kita cuma melihat seorang lelaki. Ia berambut agak gondrong dan berkaus lusuh. Acara untuk mengenalkan dua poster film itu disambut publik dengan turut mengedarkan poster itu di media sosial. Poster itu awalan untuk jadwal pemutaran perdana  dua film berbarengan pada 15 Agustus 2019.

Penonton Bisa Membandingkan Mutu

Konon, Falcon Pictures sengaja membarengkan penayangan dua film itu agar para penonton bisa membandingkan mutu dua film tersebut. Produser enggan mengurusi untung dan rugi. Semua demi ”merayakan bulan Pramoedya” (Jawa Pos, 27 Juni 2019).

Acara-acara itu diberitakan di koran, tabloid, dan media dalam jaringan (daring). Kita jadi teringat kesedihan orang-orang film pada masa lalu berkaitan poster. Di Majalah Tempo edisi 12 November 1988 ada berita berjudul bernada agak sedih Sebuah Kepahlawanan Tanpa Poster.

Berita mengenai nasib film berjudul Tjoet Nya’ Dhien dalam Festival Film Indonesia (FFI) 1988. Film itu disutradarai Eros Djarot dengan pemain ampuh: Slamet Rahardjo dan Christine Hakim. Selama dua tahun film itu dikerjakan dengan kekurangan dana dan sekian hambatan.

Film berhasil rampung. Berita itu heroik: Eros Djarot, Slamet Rahardjo, dan Christine Hakim sanggup tak menerima honor. Sampai akhir pekan lalu, ketika ia meraih 13 nominasi, poster pun tak ada.

Film bergelimang keharuan, dari cerita sampai ke penggarapan. Kemauan besar dan keberanian diperlukan sampai berujung ”gagal” atau ”telat” membuat poster. Kita bisa mengutip Tempo, bukan bermaksud membandingan keharuan di film Tjoet Nyai Dhien dengan penggarapan film Bumi Manusia dan Perburuan.

”Inilah film yang dibuat dengan semangat besar, sebesar semangat Tjoet Nya’ Dhien. Untuk riset saja Eros perlu waktu 10 bulan, melibatkan pakar sejarah dan pakar budaya Aceh. Wawancara dengan sanak keluarga Tjoet Nya’ Dhien dan Teuku Umar dilakukan secara intens. Untuk merancang kostum, 1.500 lembar foto dari berbagai museum di Indonesia dan Belanda dipelototi teliti.”

Kenekatan mengakibatkan dana selalu jadi sandungan. Kita mengerti pembuatan dan keampuhan film itu bukan mula-mula ditentukan poster atau pemberitaan besar di pelbagai media. Para penggarap film dirundung pelbagai masalah, belum memungkinkan membuat poster atau menjelaskan produser resmi untuk pembuatan film.

Sekian orang jadi produser di tengah jalan saat masalah dana melanda dan hampir menghentikan kerja. Pada saat situasi sulit, Eros pernah mengatakan kepada Slamet Rahardjo,”Met, seandainya sedikit saja ada pikiran komersial melintas di otakmu, saya lebih baik pulang.”

Eros Djarot dan Slamet Rahardjo bersaudara dan menekuni jalan seni. Perkara komersial memang gawat bagi mereka. Titik pencapaian adalah seni dan pemuliaan sejarah, bukan duit atau kemonceran. Kliping mengenai film bermutu tanpa poster itu masih bisa terbaca asalkan kita mau membuka lagi Majalah Tempo dan sekian majalah edisi lama.

Pemuliaan Sejarah

Kliping kadang-kadang mengingatkan ada situasi berkebalikan dari perfilman mutakhir. Bumi Manusia dan Perburuan adalah film berselera sejarah berasal dari dua buku persembahan Pram. Semula, sejarah terbaca, berlanjut ke sejarah untuk kaum penonton. Peralihan wahana memerlukan ide, dana, waktu, dan riset. Poster pun perlu.

Kini, poster itu selebrasi meriah memicu tanggapan dan ramalan untuk film-film yang bakal diputar di bioskop. Poster dianggap penting dan menjadi kewajaran di industri film yang ingin mendapat perhatian pada hari-hari menjelang pemutaran film.

Kita kembali membuka kliping di Tempo edisi 5 Februari 2006. Selingan dinamai Iqra di Majalah Tempo itu dijuduli Pramoedya, Buku dan Film. Gagasan membuat film dari buku-buku Pram mulai membuat sibuk keluarga dan penggemar sastra.

Di tulisan berjudul Giliran Pram di Layar Lebar, pembaca terkesan sudah berdebar-debar menanti bakal ada film-film berlatar sejarah menuruti dokumentasi dan imajinasi Pram di buku-buku. Saya kutip alinea yang bisa jadi pernah kit abaca baca pada masa lalu.

”Bumi Manusia mempesona banyak orang. Oliver Stone, sutradara film JFK, El Commandante, Platoon, Nixon, Wall Street, dan banyak film bagus lainnya, menurut putri Pram, Astuti, berani membeli hak memfilmkan Bumi Manusia sekitar US$1,5 juta (sekitar Rp15 miliar).”

Dulu, orang masih belum mendapat kepastian bakal bisa menonton film berdasarkan buku-buku Pram. Penantian berlangsung lama. Pada 2019, keinginan itu mewujud karena dua orang sutradara, Hanung Bramantyo dan Richard Oh. Di Tempo, terbaca Pram bangga jika film-film itu dikerjakan orang-orang Indonesia saja.

Kini, kita sudah menapaki tahap-tahap membaca buku-buku gubahan Pram, membaca dan mengkliping pelbagai berita dan kolom mengenai Pram, dan melihat poster dua film. Agustus bakal datang. Kita memerlukan duit dan siasat membuat jadwal menonton film berjudul Bumi Manusia dan Perburuan.

Kita berhak meniru Pram dengan mendokumentasikan poster dan mengkliping segala tanggapan untuk dua film itu. Kliping tersebut kelak dibaca lagi jika ada pembuatan film-film yang mengacu kepada novel atau cerita pendek gubahan Pram. Orang boleh berharapan ada persekongkolan produser, penulis skenario, dan sutradara untuk membuat film dari esai buatan Pram. Film dari esai mungkin perlu.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten