Bupati Batang Wihaji (dari kiri ke kanan), Direktur Operasional PT Kawasan Industri Wijayakusuma (Persero) Ahmad Fauzie Nur, Kepala Grup Advisory Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng Iss Savitri Hafid, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang Iswar Aminudin, Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Penanaman Modal DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah Didik Subiyantoro, menjadi pembicara dalam diskusi bertema Menakar Dampak Ekonomi Tol Trans Jawa di Jawa Tengah. (Bisnis)

Solopos.com, SEMARANG — Beroperasinya jalan tol Trans Jawa yang menghubungkan ujung timurdan ujung barat Pulau Jawa turut mendorong pertumbuhan perekonomian di Jawa Tengah. Perannya terbukti dengan masuknya investasi dan peningkatan lapangan kerja.

Harian Bisnis Indonesia Perwakilan Jateng-DIY, Kamis (12/12/2019), mendiskusikan dampak ekonomi jalan tol Trans Jawa di Jateng tersebut. Bussines Challenges 2020 dengan tema “Menakar Dampak Ekonomi Tol Trans Jawa di Jawa Tengah” dibuka Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang diwakili oleh Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya Ali Huda.

Ali Huda menyampaikan infrastruktur transportasi menjadi pendorong utama perekonomian suatu daerah. Pasalnya, fasilitas tersebut memudahkan perpindahan barang dan orang, melalui kendaraan roda empat atau lebih. “Adanya infrastruktur transportasi juga dapat mengundang investor untuk menjalankan bisnisnya di suatu daerah,” ujarnya.

Sebagai contoh, di Amerika Serikat infrastruktur yang pertama dibangun sebagai akses ke satu wilayah ialah jalan tol. Dengan demikian, perkembangan daerah tersebut akan berjalan lebih cepat karena kemudahan aksesbilitas.

Oleh karena itu, pengembangan jalan tol Trans Jawa tentunya meningkatkan perekonomian Jateng, membuka lapangan kerja, dan memberikan pendapatan bagi negara. Jalan tol juga mendukung percepatan distribusi barang, sehingga dapat menjaga harga komoditas.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka inflasi nasional pada November 2019 naik 3% year on year (yoy), sedangkan tingkat inflasi di Jateng lebih rendah, yakni 2,79% yoy. Adapun, pertumbuhan ekonomi Jateng pada kuartal III/2019 mencapai 5,66% yoy, meningkat lebih tinggi dari PDB nasional sebesar 5,02% yoy.

Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Penanaman Modal DPMPTSP Jawa Tengah Didik Subiyantoro mengatakan adanya infrastruktur tol mempercepat masuknya investasi ke Jateng. Hal ini turut mendongkrak perekonomian daerah kabupaten/kota. “Dengan adanya tol, investor semakin tertarik untuk masuk karena memudahkan konektivitas,” ujarnya.

Per September 2019, realisasi investasi di Jateng mencapai Rp47,24 triliun. Perinciannya, Penanaman Modal Asing (PMA) Rp32,27 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp14,97 triliun. Realisasi per September 2019 sudah mencapai 99,6% target investasi tahun ini sebesar Rp47,42 triliun.

Dari sisi lokasi, Kab. Jepara menjadi kabupaten favorit lokasi PMA dengan realisasi US$1,18 miliar (sekitar Rp16,63 triliun). Selanjutnya, ada Kab. Batang sebesar US$726,74 juta (Rp10,17 triliun), Kota Semarang US$97,56 juta, Kab. Brebes US$23,08 juta, dan Kab. Semarang US$20,92 juta.

Peningkatan investasi juga berimbas kepada penyerapan tenaga kerja. Per September 2019, tenaga kerja baru mencapai 71.639 orang, dengan kontribusi tenaga kerja indonesia (TKI) 71.145 orang dan tenaga kerja asing (TKA) 494 orang.

Didik menambahkan keberadaan konektivitas infrastruktur dapat mendukung target Jateng mencapai pertumbuhan ekonomi 7% pada 2023. Di sisi lain, pemerintah daerah perlu menjalankan strategi agar dampak ekonomi berkualitas dan merata bagi masyarakat.

“Jadi, dampak ekonomi tidak hanya di proyek prioritas seperti Kawasan Industri [KI] Kendal, KI Brebes, dan Kawasan Candi Borobudur, tetapi juga meluas ke daerah-daerah lain karena sudah saling terkoneksi,” paparnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber: Bisnis


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten