Perajin Gamelan Dusun Kajar, Bertahan di Zaman Elektronik
Subari dan gamelan buatannya (JIBI/Harian Jogja/Yodie Hardiyan)
Subari dan gamelan buatannya (JIBI/Harian Jogja/Yodie Hardiyan)

Tidak banyak usaha pembuatan alat musik tradisional gamelan di Gunungkidul. Salah satu yang bertahan adalah usaha milik Subari, 60, di Dusun Kajar I, Desa Karangtengah, Kecamatan Wonosari. Usaha itu mencoba bertahan di zaman alat musik yang serba elektronik.

Pada 1985, Subari memulai usaha pembuatan alat musik yang sering dipakai untuk mengiringi kesenian jatilan, doger dan reog ini. Bukan mulai dari titik nol, melainkan meneruskan usaha para simbah sejak turun temurun.

Mantan Kepala Dusun Kajar I ini mengatakan dirinya berupaya melestarikan pembuatan gamelan ini. Ada atau tidak adanya pesanan, Subari mengatakan berusaha untuk memproduksinya sebagai bagian dari upaya pelestarian.

“Tidak banyak anak muda yang mau melestarikan gamelan ini,” kata Subari kepada Harian Jogja belum lama ini.

Subari mengatakan usaha serupa tidak sedikit di Gunungkidul dulu, namun tidak banyak yang bertahan menghadapi arus zaman.

Satu paket gamelan lengkap memang tidak murah. Subari mengatakan harga bisa mencapai Rp100 juta. Pembelian tidak harus satu paket, namun bisa sepotong-potong. Harga jual bisa mencapai Rp20 juta.

“Harga tergantung bahan dan ukuran,” katanya.

Paket gamelan itu dapat terdiri dari kendang, gong, kenong, ketuk, gambung, gender, slentem, demung, saron, barung, bonang, siter, rebab, kempyang dan suling.

Subari mengatakan hasil produksinya biasa dibeli instansi pemerintahan daerah sampai perusahaan swasta (yang lalu menyumbangkannya ke sekolah-sekolah) serta hotel. Pengerjaan satu paket gamelan bisa memakan waktu dua bulan.

Pengukiran, pengecatan sampai pembentukan alat memiliki ahlinya masing-masing. Satu paket gamelan bisa dikerjakan oleh 10 orang tukang. Besi kuningan, bamu, paralon, tulang kerbau sampai kayu mahoni serta jati merupakan bahan bakunya.

Bahan baku itu mudah didapat di Desa Karangtengah, yang merupakan sentra pande besi. Gamelan, ujarnya, tidak hanya dimainkan oleh orang berusia dewasa. Subari mengatakan pihaknya dapat memproduksi gamelan mini yang dapat dimainkan oleh anak-anak.

Subari menilai alat musik tradisional tanpa listrik ini perlu dilestarikan. Sayangnya, alat musik gamelan ini seolah terengah-engah menghadapi alat musik elektronik seperti organ. “Kalah sama organ tunggal,” kata laki-laki berambut putih ini.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho