Kasnan dengan seragam "dinas" Keraton Agung Sejagat (KAS) di rumahnya, Dusun Conegaran, Desa Triharjo, Wates, Kulonprogo, Jumat (17/1/2020). (Harian Jogja-Jalu Rahman Dewantara)

Solopos.com, KULONPROGO -- Pengakuan para korban Keraton Agung Sejagat (KAS) terus bermunculan. Cerita mereka hampir mirip, yaitu telanjur mengeluarkan banyak uang dan tak mendapatkan apa-apa dari kerajaan abal-abal itu.

Demi bisa ikut Keraton Agung Sejagat, Kasnan rela mengeluarkan uang jutaan rupiah yang dia peroleh dengan cara berutang. Kini, setelah pimpinan kerajaan bodong itu ditangkap, hanya penyesalan yang didapatkan Kasnan.

"Jujur saya kapok, menyesal banget ternyata berakhir seperti ini," ujar Kasnan kepada awak media di rumahnya di Dusun Conegaran, Desa Triharjo, Kapanewon Wates, Kulonprogo, Jumat (17/1/2020).

Pria berusia 40 tahun itu bergabung dengan KAS sekitar 10 bulan lalu atau pada awal 2019. Mulanya dia diajak sejumlah kawannya untuk berkumpul di tempat Sudadi, 70, warga Desa Plumbon, Kapanewon Temon, yang terlebih dahulu menjadi anggota keraton fiktif tersebut.

Dalam pertemuan itu, Kasnan diberitahu ihwal KAS. Sepengetahuannya, kala itu KAS merupakan organisasi yang fokus untuk kegiatan sosial kemanusiaan. Tidak sedikitpun pembicaraan di KAS menyinggung soal kerajaan maupun janji-janji uang ratusan juta yang bakal diterima para anggota.

"Karena kemanusiaan, saya tertarik untuk gabung, sekalian juga buat mengisi kegiatan, tak ada itu menyinggung soal kerajaan," ujarnya.

Belakangan Kasnan baru sadar jika KAS adalah sebuah kerajaan dengan Toto Santoso sebagai pimpinannya. Hal itu dia ketahui saat mengikuti kirab di lokasi kerajaan tersebut di Desa Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, beberapa waktu lalu.

"Saya malah baru tahu ketika ikut kirab, kok jadinya malah kaya gini, ada keraton-keraton segala," ungkapnya.

Selama di KAS, Kasnan sudah menggelontorkan sejumlah uang. Pengeluaran itu mulai dari pendaftaran sebesar Rp1,5 juta, iuran, biaya operasional yang ditanggung sendiri, hingga membeli seragam "dinas" keraton yang harganya Rp2 juta.

Uang-uang itu ia peroleh dengan cara berutang. Hal itu terpaksa dilakukan karena Kasnan tak punya penghasilan tetap. Kerjanya serabutan, kadang bertani, kadang membuat ukiran batu, itupun jika ada yang memesan. "Yang seragam sampai sekarang malah belum lunas," kata Kasnan.

Kejadian ini membuat Kasnan sakit hati. Dia menyatakan tidak akan lagi pernah bergabung dengan organisasi semacam itu. Kendati demikian, Kasnan mengganggap hal ini sebagai musibah dan tidak akan menuntut si pendiri KAS, Toto Santoso, yang kini sudah ditangkap Polda Jawa Tengah.

Sumber: Bisnis/JIBI


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten