PENYAKIT MENULAR : Duh, Puluhan Desa di Kudus Endemis DBD
Ilustrasi nyamuk penyebar demam berdarah. (JIBI/Solopos/Dok.)

Penyakit menular DBD sedang merebak puluhan desa di Kudus.

Solopos.com, KUDUS - Sebanyak 89 dari 132 desa/kelurahan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menjadi kawasan endemis penyakit demam berdarah dengue (DBD).

"Puluhan desa endemis DBD tersebut, tersebar di sembilan kecamatan, di antaranya di Kecamatan Kota 13 desa, Kecamatan Jati 12 desa, dan Kecamatan Bae 10 desa," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus Maryata.nya di Kudus, Rabu (17/2/2016).

Ia menyebutkan di Kecamatan Kaliwungu, Undaan, Mejobo, Jekulo, Dawe dan Gebog masing-masing sembilan desa.

Desa yang tergolong endemis, lanjut dia, karena dalam kurun waktu 3 tahun berturut-turut terjadi kasus DBD.

Maryata menyebutkan ada pula desa yang tergolong sporadis yang dalam kurun waktu 3 tahun pernah ada, tetapi 2 tahun terakhir atau 1 tahun tidak ada kasus.

Jumlah desa yang tergolong sporadis, kata dia, berjumlah 41 desa yang tersebar di delapan kecamatan.

Kedelapan kecamatan tersebut, yakni Kecamatan Kota 11 desa, Kecamatan Jati dua desa, Kecamatan Kaliwungu, enam desa, Kecamatan Undaan tujuh desa, Kecamatan Mejobo dua desa, Kecamatan Jekulo tiga desa, Kecamatan Dawe delapan desa dan Kecamatan Gebog satu desa.

Desa yang tergolong potensial atau belum dijumpai adanya kasus DBD, kata dia, sebanyak tiga desa, yakni Desa Krandon (Kecamatan Kota), Desa Piji (Kecamatan Dawe), dan Desa Kedungsari (Kecamatan Gebog).

Adapun jumlah kasus DBD selama awal 2016, tercatat 56 kasus.

Jumlah kasus selama 2015 tercatat sebanyak 600 kasus atau mengalami penaikan dari jumlah kasus pada tahun sebelumnya sebanyak 438 kasus.

Selama 4 tahun terakhir, menurut dia, kasus tertinggi pada tahun 2015. Tahun sebelumnya, misalnya pada tahun 2013 tercatat 501 kasus dan tahun 2012 sebanyak 360 kasus Upaya pencegahan penyebaran penyakit DBD yang paling efektif, lanjut dia, berupa pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan cara pengurasan bak mandi atau penampungan air, menutup bak penampung air, dan mengubur barang bekas yang berpotensi menampung air hujan agar tidak dijadikan tempat untuk berkembang biak jentik nyamuk yang dimungkinkan membawa virus DBD.

Langkah tersebut, kata dia, dinilai sebagai langkah paling efektif dalam memberantas jentik nyamuk, mengingat upaya pengasapan hanya membasmi nyamuk dewasa.

"Untuk menggalakkan PSN harus didukung masyarakat secara menyeluruh," katanya.

Adanya apat koordinasi (rakor) penanganan dan penanggulangan DBD di Pendopo Kabupaten Kudus, Senin (15/2), diharapkan masing-masing kepala desa dan camat untuk turut serta menggerakkan warganya agar menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalnya masing-masing.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom