Nyamuk Aedes Aegypti jenis inilah yang menyebarkan penyakit chikungunya lewat gigitan pada manusia. (Dok/JIBI/Solopos)

Penyakit menular demam berdarah diperkirakan akan semakin berkembang saat pancaroba.

Solopos.com, KARANGANYAR—Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar meminta warga waspada perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti yang menyebabkan demam berdarah.

Nyamuk Aedes Aegypti memiliki salah satu ciri yang menonjol adalah tubuh dan tungkainya ditutupi sisik garis putih. Nyamuk itu membawa virus dengue yang menyebabkan penyakit demam berdarah.

Kepala DKK Karanganyar, Cucuk Heru Kusumo, menuturkan sejumlah penyakit yang sering dialami warga pada awal perubahan musim. Cucuk menjelaskan sejumlah penyakit, seperti diare, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), demam berdarah (DB), dan lain-lain akan meningkat.

“Awal perubahan musim itu wajar sejumlah penyakit akan meningkat. Tetapi, tahun ini enggak ada lonjakan kasus. Kami lebih me-manage dengan baik. Dari panas ke hujan itu diare, ISPA, DB,” kata Cucuk saat dihubungi solopos.com, Kamis (19/11/2015).

Cucuk mengingatkan warga agar waspada perubahan cuaca dan iklim seperti sekarang ini digemari nyamuk Aedes Aegypti. Hujan turun beberapa kali kemudian kembali panas itu membantu perkembangbiakan nyamuk. Dia memberi contoh kondisi di Tawangmangu yang mulai panas memberikan peluang nyamuk berkembang biak.

“Kami menggerakkan tim gerak cepat bidang kesehatan dari tingkat kecamatan sampai desa. Kami ingatkan di desa siaga dan daerah endemis untuk waspada. DB itu mengantisipasinya gampang yang susah gerakan tidak bisa dilakukan serentak dan terus menerus,” jelas dia.

Selain DB, penyakit diare dan ISPA pun akan menjadi bahaya apabila terlambat penanganan. Oleh karena itu, warga harus waspada melihat tanda-tanda penyakit. Di sisi lain, Cucuk memastikan stok obat di puskesmas di Kabupaten Karanganyar cukup. DKK Karanganyar mendapat dukungan dari Provinsi Jawa Tengah apabila terjadi kejadian luar biasa.

“ISPA kalau pada bayi ya membahayakan. Diare juga bahaya bisa dehidrasi. Sekecil apapun harus fokus. Tetapi, sejauh ini masih landai. Pendampingan masyarakat enggak boleh kendor. Tiap bulan ada evaluasi kinerja puskesmas,” tutur dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten