Kategori: Klaten

PENYAKIT LANGKA : Belasan Tahun Remaja Klaten Ini Susah Duduk dan Membungkuk


Solopos.com/Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos

Penyakit langka, warga Klaten ini sudah belasan tahun kesulitan duduk dan membungkuk karena penyakit tulang.

Solopos.com, KLATEN -- Hanung Setyaji, 14, sesekali tersenyum menyaksikan aksi kocak para pelawak melalui televisi tabung berukuran 14 inci di rumahnya, Dukuh Tuwuhan, RT 003/RW 005, Desa Pasungan, Kecamatan Ceper, Senin (30/1/2017) malam.

Malam itu, Hanung ditemani kedua orang tuanya, Wahyu Mulyono, 47, dan Sugiyanti, 41, serta adiknya, Fajar Pambudi, 12. Tak ada yang berbeda dengan kondisi tubuh Hanung.

Namun, Hanung terus berdiri selama menyaksikan acara televisi. Sementara orang tua serta adiknya menonton sembari duduk di lincak. Hanung merasa lelah serta kesakitan ketika duduk.

“Kalau duduk itu awalnya terasa sakit. Lama kelamaan juga mendingan. Tetapi juga tidak nyaman,” kata Hanung.

Aktivitas Hanung saban harinya dilakukan dengan berdiri. Setiap pulang sekolah, Hanung hanya beraktivitas di dalam rumah dengan posisi berdiri.

“Kalau pulang sekolah biasanya menonton televisi atau membaca. Jarang main keluar rumah,” katanya.

Wahyu tak menampik selama ini anaknya kesusahan untuk duduk atau membungkuk. “Setiap harinya ya seperti itu [berdiri] terus. Mau mengambil pulpen jatuh saja tidak bisa,” kata ayah Hanung tersebut.

Wahyu menjelaskan saat tidur anaknya tak pernah mengambil posisi terletang. Ia memilih tidur dengan posisi miring ke sisi kanan. Kondisi itu berpengaruh pada kepalanya.

“Kepala bagian belakang itu tulang-tulangnya agak terdorong ke dalam karena kebiasaan tidur. Saat disunat itu juga dilakukan dengan posisi berdiri. Saya sendiri melihatnya sampai menangis,” kata Wahyu.

Orang tua Hanung tak mengetahui penyebab anaknya mengalami kondisi itu. Ia menceritakan Hanung kerap berobat sejak lahir pada 2 September 2002. Sejak kecil, Hanung yang kini duduk di Kelas VIII SMPN 3 Trucuk itu tak mau digendong apalagi dipangku.

“Saat umur tiga hari, ia opname di rumah sakit. Saat itu, kami masih tinggal di Purwodadi. Sudah sering berobat ke dokter. Diagnosisnya macam-macam. Saat berobat pertama itu didiagnosis radang paru-paru. Hanung baru bisa berjalan ketika sudah memasuki usia empat tahun,” kata Wahyu.

Wahyu menuturkan kali terakhir Hanung diperiksakan ke dokter pada 2005 lalu. Setelah itu, Wahyu tak lagi menyambangi dokter guna memeriksakan putranya. “Ya kami sudah pasrah. Kami juga tidak memiliki jaminan kesehatan,” katanya.

Baru pada Senin, Wahyu didatangi petugas kesehatan dan mengantar Hanung diperiksakan ke RSUD Bagas Waras untuk mengetahui penyebab Hanung kepayahan saat duduk atau membungkuk. “Dari hasil rontgen itu katanya tulang [belakang] mengalami kelainan, sedikit membengkok,” kata Wahyu yang bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan Rp60.000/hari.

Kondisi tersebut tak menyurutkan semangat Hanung untuk sekolah. Saban pagi, ia diantar orang tuanya ke sekolah yang berjarak sekitar 5 km. “Kalau pulang diantar gurunya sampai di gang kampung. Setelah itu ia berjalan ke rumah dengan jarak sekitar 300 meter. Semangat belajarnya tinggi, semester kemarin bisa peringkat II di kelas,” katanya.

Ibunda Hanung, Sugiyanti, mengatakan saat di SD, Hanung mengikuti pelajaran dengan posisi berdiri di dalam kelas. Baru saat memasuki SMP ia mulai duduk di bangku kelas.

“Mungkin karena malu dengan teman-temannya ia memaksakan untuk duduk,” kata Sugiyanti yang bekerja sebagai pelayan di salah satu rumah makan.

Kabid Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Bagas Waras, Anggit Budiarjo, mengatakan Hanung untuk sementara dirawat jalan. Anggit menjelaskan dari keluhan awal Hanung mengalami nyeri pada bagian pinggang yang menjalar ke persendian.

“Dari diagnosis dokter spesialis ia mengalami skoliosis yang membuat tulang belakang melengkung ke samping,” katanya.

Share
Dipublikasikan oleh
Suharsih