Perlintasan kereta api di bawah flyover Palur, Karanganyar, Jumat (29/3/2019). (Solopos/Sri Sumi Handayani)

Solopos.com, KARANGANYAR -- Rencana PT Kereta Api Indonesa (KAI) menutup perlintasan kereta api (KA) di bawah flyover Palur, Karanganyar, membuat kalangan pelaku usaha di sekitarnya khawatir dengan kelangsungan usaha mereka.

Sejumlah pelaku usaha menyampaikan apabila rencana tersebut direalisasikan akan berdampak pada kelangsungan usaha. Salah satunya perbankan.

Direktur Utama PT BPR Trihasta Prasodjo, Endarlina Masniari Harahap, menuturkan nasabahnya tersebar di Karanganyar, Sragen, Solo, dan sekitarnya. Lokasi kantor PT BPR Trihasta Prasodjo di Jalan Solo-Tawangmangu Km. 6, Desa Dagen, Kecamatan Jaten, atau di sisi utara jembatan layang.

Endarlina menceritakan sejumlah nasabah dari Palur dan sekitarnya atau dari barat perlintasan kereta api mengendarai sepeda onthel saat menabung. Dia tidak bisa membayangkan apabila nasabah harus berputar atau melewati jembatan layang setelah perlintasan ditutup.

"Ya pasti berdampak [apabila perlintasan ditutup]. Nasabah saya naik onthel, jalan kaki, biasanya lewat bawah flyover. Kalau [perlintasan] ditutup apakah harus berputar atau naik ke flyover? Kami berupaya menumbuhkan minat menabung, tetapi akses jalan dibatasi. Kalau itu [perlintasan kereta api] betul ditutup, pelayanan kami terganggu. Akan seperti zona mati di wilayah Palur," tutur dia saat dihubungi Solopos.com, Senin (1/4/2019).

Hal senada disampaikan Manajer Marketing Palur Plasa Karanganyar, Iman Kurnia Jaya. Menurut Iman, mal di pintu masuk Kabupaten Karanganyar itu akan terkena imbas penutupan perlintasan kereta api di bawah flyover.

Pengunjung mal dari Kota Solo, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Sragen. Calon pengunjung paling terdampak dari Kabupaten Karanganyar.

"Pasti berdampak kepada customer dari Karanganyar. Bisa lewat bawah lalu memutas setelah perlintasan. Kalau ditutup, mereka lewat flyover lalu memutar setelah jembatan Jurug. Iya kalau mau muter, kalau enggak? Bablas sampai Solo," ujar dia.

Iman berharap stakeholder terkait mau duduk bersama membahas dan mencari solusi terbaik untuk semua pihak. Dia meminta pemerintah mempertimbangkan masak-masak agar tidak merugikan pelaku usaha.

"Jangan gegabah, banyak usaha di sekitar situ. Jangan sepihak memutuskan. Double track untuk kereta api itu bagus, cuma jangan merugikan orang lain," ungkap dia.

Salah satu tokoh masyarakat di Desa Ngringo, Guntoro, mengungkapkan penutupan perlintasan kereta api di bawah flyover akan berdampak pada pelaku usaha, seperti pasar tradisional, mal, pertokoan, usaha kecil menengah (UKM), dan lain-lain.

Guntoro menyinggung pembangunan jembatan layang masih menyisakan persoalan karena berpengaruh pada pendapatan usaha. Guntoro mengungkapkan apabila alasan penutupan berkaitan dengan keamanan, dia berharap PT KAI mengambil solusi lain.

"Belum sembuh betul, ditambah rencana penutupan perlintasan kereta api. Apakah tidak ada solusi lain? Masyarakat kecil yang terkena imbas kalau perlintasan ditutup. Palur itu segitiga emas dari Sragen, Karanganyar, Solo, dan Sukoharjo. Kalau di situ ditutup, apa mau muter-muter. Orang yang mau kulak atau jualan ke Pasar Palur harus berputar jauh," tutur dia.

Sebagaimana diinformasikan, PT KAI berencana menutup perlintasan KA di bawah flyover Palur. Alasannya, setelah double track beroperasi frekuensi perjalanan KA akan meningkat dan bisa membahayakan pengguna jalan. Selain itu, aturan mewajibkan perlintasan KA yang sudah dibangun flyover atau underpass wajib ditutup.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten