Serabi khas Solo (Istimewa-Solopos FM)

Solopos.com, SOLO—Pengusaha rumah makan dan restoran diminta memasang harga atau price list guna menghindari kenaikan harga tidak wajar di momen puasa dan Lebaran. Terlebih di momen libur Lebaran yang membuat banyak warga berburu wisata kuliner. Kabid Pengembangan Perdagangan Dinas Perdagangan (Disdag)-solo-bisa-dapat-layanan-kesehatan-gratis-meski-tak-punya-jkn-ini-dasar-aturannya" title="Warga Solo Bisa Dapat Layanan Kesehatan Gratis Meski Tak Punya JKN, Ini Dasar Aturannya"> Solo, Kristiana, mengatakan imbauan tersebut bakal diterbitkan dalam waktu dekat.

“Kalau kami lihat, masih ada pengusaha kuliner yang ingin mengambil untung lebih di momen tertentu seperti -2019-tak-ada-rest-area-di-jl.-bayangkara-dan-kerten-solo" title="Lebaran 2019, Tak Ada Rest Area di Jl. Bayangkara dan Kerten Solo">Lebaran. Kami dengan Dinas Pariwisata [Dispar] akan meminta mereka menghindari praktik tersebut. Pasang daftar harga dan wajar,” kata dia, kepada wartawan, Rabu (22/5). Apabila pascaimbauan beredar, pengusaha tersebut masih menaikkan harga dengan tidak wajar, pihaknya tak segan memberi pembinaan dan peringatan.

-kampanye-pakai-fasilitas-negara-wakil-wali-kota-semarang-diadukan-ke-bawaslu" title="Dituding Kampanye Pakai Fasilitas Negara, Wakil Wali Kota Semarang Diadukan ke Bawaslu">Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengatakan kenaikan harga yang tidak wajar akan mencoreng Kota Bengawan sebagai salah satu destinasi kuliner populer di Indonesia. Rudy, sapaan akrabnya, menyadari jika Lebaran adalah masa panen bagi pengusaha kuliner. Namun dia meminta agar mereka tidak memanfaatkan momen setahun sekali tersebut dengan semena-mena.

“Jangan sampai tahu ada tamu dari luar kota langsung menaikkan harga. Enggak boleh itu, apalagi sampai ada yang bilang warung disana kalkulatornya rusak," kata dia, belum lama ini. Hal tersebut, lanjut Rudy, akan menyebabkan rumah makan tersebut dicap tidak baik oleh pendatang. Mereka bisa menyebarkan pesan berantai tentang rumah makan itu ke media sosial atau platform lain.

“Akhirnya pemilik warung sendiri yang menanggung kerugian. Dan yang jelas juga nama Kota Solo dipertaruhkan. Nanti muncul anggapan bahwa Kota Solo memang banyak kuliner, tapi harganya ngepruk. Saya tidak mau seperti itu,” pungkas Rudy.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten