Pengunjung Museum Sangiran di Krikilan, Kalijambe, Sragen, antre memasuki kawasan wisata purbakala itu, Minggu (17/6/2018) siang. (Solopos-Kurniawan)

<p><strong>Solopos.com, SRAGEN&nbsp;</strong>-- Momentum libur panjang Lebaran 2018 dimanfaatkan masyarakat untuk berkunjung ke <a href="http://soloraya.solopos.com/read/20180609/490/921190/siap-siap-9-juni-bekas-pg-gembongan-kartasura-jadi-wisata-asyik">tempat-tempat wisata</a>, Minggu (17/6/2018). Di Sragen, salah satu tempat wisata yang ramai dikunjungi wisatawan yaitu Museum Sangiran di Krikilan, Kalijambe.</p><p>Pantauan <em>Solopos.com</em> Minggu, kantong-kantong parkir objek wisata purbakala itu dipadati kendaraan pribadi wisatawan. Kendaraan pribadi menjadi pilihan wisatawan karena tak ada angkutan umum yang melayani trayek ke Sangiran.</p><p>Salah seorang <a href="http://soloraya.solopos.com/read/20180415/493/910543/wisata-klaten-di-desa-ini-pengunjung-bisa-selfie-di-antara-bunga-refugia">wisatawan</a> asal Jakarta, Bambang Widhiyatmoko, 56, mengakui jumlah pengunjung Museum Sangiran sangat banyak hari itu. Dia yang datang bersama istrinya, Mujizah, 57, dibuat kurang nyaman dengan keramaian itu.</p><p>&ldquo;Museumnya sih bagus. Tapi akses bagi pejalan kaki mungkin perlu dibenahi karena tidak nyaman, bercampur dengan kendaraan. Dari pintu masuk depan sudah terasa. Sangat ramai. Kalau bisa dipisahkan,&rdquo; tutur dia diamini sang istri.</p><p>Bambang juga mengusulkan agar ruang pamer museum dilengkapi dengan alat naratif dengan suara. &ldquo;Pemanfaatan teknologi sudah bagus di museum. Tapi mungkin perlu ditambah alat yang bisa menjelaskan dengan suara,&rdquo; kata dia.</p><p>Sedangkan Mujizah mengaku baru kali pertama berkunjung ke Museum Sangiran. Dosen di Universitas Indonesia (UI) tersebut mengaku senang dengan benda-benda kuno dan purba, seperti koleksi di Museum Sangiran Sragen.</p><p>Tapi dia merasa kurang nyaman dengan ramainya pengunjung di museum hari itu. &ldquo;Di dalam [ruang pamer] <em>crowded</em> banget. Saya mau baca narasi tulisan koleksinya enggak sempat karena sudah terdesak pengunjung lain,&rdquo; tutur Mujizah.</p><p>Dia menyarankan agar penataan ruang museum diatur kembali dengan memberikan ruang (jarak) lebih antar koleksinya. Tujuannya agar pengunjung yang memang ingin belajar dunia purbakala bisa membaca lebih nyaman dan tenang.</p><p>&ldquo;Saya kaget saja kok ramai banget. Soalnya saya belum pernah ke sini. Sebetulnya unik-unik koleksinya. Sayang belum sempat mempelajarnya secara mendetail. Tolong agar penataan ruang pamer diatur ulang,&rdquo; saran dia.</p><p>Penanggung Jawab Objek (PJO) Wisata Museum Sangiran, Ika Carolina Dewi, mengatakan tren pengunjung museum meningkat sejak Sabtu (16/6/2018). Berdasarkan data petugas, jumlah pengunjung pada Sabtu sekitar 3.000 orang.</p><p>Jumlah itu kembali naik pada Minggu. &ldquo;Hari ini terasa lebih ramai dari kemarin [Sabtu]. Tapi memang belum kami rekap karena masih siang. Mudah-mudahan karena masa liburnya panjang ya pengunjungnya kian banyak,&rdquo; ujar dia.</p><p>Menurut Ika tak ada hiburan tambahan selama <a href="http://soloraya.solopos.com/read/20180408/489/909012/siap-siap-tiket-ka-tambahan-lebaran-2018-dijual-mulai-pekan-ini">libur Lebaran</a>. Sangiran hanya mengandalkan koleksi yang dipajang di ruang pamer. Berbeda dengan kebanyakan museum, Museum Sangiran mengadopsi kecanggihan teknologi.</p><p>&ldquo;Segmentasi pengunjung Museum Sangiran adalah keluarga. Para orang tua yang ingin menghabiskan waktu bersama anak-anak, dan mengenalkan mereka dengan jejak prasejarah. Tiket masuk kami terjangkau Rp5.000,&rdquo; imbuh dia.</p>


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten