Sejumlah eks pengikut Keraton Agung Sejagat Cabang Klaten mendengarkan pembinaan dari Polsek Prambanan dan jajaran Muspika Prambanan lainnya di Balai Desa Brajan, Prambanan, Sabtu (18/1/2020) malam. (Istimewa/Polsek Prambanan)

Solopos.com, KLATEN -- Aparat Polres Klaten sudah memeriksa sejumlah pengikut dan mantan pengikut Keraton Agung Sejagat di Prambanan, Klaten. Namun, belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka.

Mereka diperiksa berstatus saksi dan korban penipuan. Kapolres Klaten, AKBP Wiyono Eko Prasetyo, mengatakan salah satu yang diperiksa adalah warga Kebondalem Lor, Prambanan, yang pernah menjabat mahamenteri Keraton Agung Sejagat, Wiwik Untari.

“Yang kami lakukan sebatas klarifikasi ke sejumlah saksi. Para saksi itu sebagian besar berstatus korban. Di Klaten belum ada tersangka. Penyidikan kasus ini di Polda Jateng. Kami menunggu petunjuk juga dari Polda Jateng,” kata AKBP Wiyono Eko Prasetyo, saat ditemui wartawan di Mapolres Klaten, Senin (20/1/2020).

Wiyono mengatakan para saksi yang telah dimintai keterangan bernasib sama dengan para korban di Purworejo. Para saksi itu ditarik biaya Rp2 juta untuk membeli seragam, Rp300.000 untuk pengadaan kartu anggota, dan iuran Rp50.000.

Pasangan Mahasiswa Digerebek Polisi saat Indehoi di Hotel Melati

“Mahamenteri yang kami mintai klarifikasi itu statusnya sebagai saksi,” katanya.

Wiyono menegaskan polisi tetap memantau Sanggar Awan Mukti di kawasan Saren, Brajan, Prambanan, yang menjadi markas Keraton Agung Sejagat. Hal itu dilakukan agar suasana di wilayah itu tetap kondusif.

“Muspika Prambanan juga sudah mengadakan pertemuan. Kami mengimbau hal seperti ini jangan sampai terjadi lagi,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Sanggar Awan Mukti milik Sri Agung, 50, warga Saren, Brajan, Prambanan, Klaten, dijadikan pusat kegiatan pengikut Keraton Agung Sejagat Purworejo. Sanggar tersebut disebut-sebut juga sebagai Keraton Agung Sejagat Cabang Klaten.

Keraton Agung Sejagat Disebut Ada di Wonogiri, Ini Jawaban Kesbangpol

Para pengikut keraton berasal dari Prambanan, Jogonalan, dan Wedi. Di kompleks sanggar terdapat batu prasasti yang didatangkan khusus dari Gunung Merapi. Hingga sekarang, batu prasasti itu masih diberi garis polisi.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten