Tutup Iklan

Penghapusan Ujian Nasional

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (26/12/2019). Esai ini karya Budiyono, guru besar Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah budiyono@staff.uns.ac.id.

Penghapusan Ujian Nasional

SOLOPOS.COM - Budiyono/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Harian Solopos edisi Kamis Legi, 12 Desember 2019, memuat berita yang sangat menarik berjudul Penghapusan UN Mulai 2021. Ujian nasional (UN) akan dihapus pada 2021 dan akan diganti asesmen kompetensi minimal dan survei karakter (AKMSK).

AKMSK digelar di tengah jenjang, bukan di ujung jenjang seperti UN yang berlaku sekarang ini. Artinya, AKMSK akan digelar di kelas IV SD, kelas IX SMP, dan kelas XI SMA. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pelaksaaan AKMSK di tengah jenjang memungkinkan pendidik (guru) memiliki waktu memperbaiki kualitas siswa sebelum lulus dalam suatu jenjang.

Perbaikan berdasarkan hasil asesmen tersebut tidak dapat dilakukan bila hasilnya baru diketahui pada akhir jenjang. Alasan lain mengapa AKMSK dilakukan di tengah jenjang adalah agar tidak ada lagi ujian akhir yang membuat siswa dan orang tua siswa stres.

Penyusunan AKMSK akan dilakukan dengan bantuan organisasi dalam maupun luar negeri, misalnya Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan atau OECD dan Bank Dunia. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan AKMSK bukan dan tidak bisa dipakai sebagai alat seleksi untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Kita patut menghargai ide tersebut. Barangkali ide tersebut merupakan ide cemerlang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Ada beberapa catatan yang perlu direnungkan terkait dengan ide Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut.

Pertama, tentang penyusunan dan pelaksanaan AKMSK. Walaupun tidak secara eksplisit dikatakan bahwa asesmen ini merupakan suatu benchmarking yang dapat memetakan kualitas pendidikan dan pembelajaran di Indonesia, dengan melihat bahwa AKMSK akan disusun bersama-sama dengan OECD dan Bank Dunia, dapat diduga bahwa AKMSK akan disusun secara nasional dan digunakan untuk seluruh sekolah di Indonesia. Ini dapat dipakai untuk memetakan kualitas pendidikan di Indonesia.

Perbaikan

Jadi, dari sisi ini, salah satu tujuan AKMSK sama dengan salah satu tujuan pelaksanakan UN, yaitu untuk memetakan kualitas pendidikan di Indonesia. Dari sisi anggaran, biaya yang dikeluarkan untuk menyusun AKMSK diduga akan sama besar dengan biaya penyusunan UN. Biaya bisa saja lebih besar karena harus membiayai konsultan-konsultan dari OECD dan Bank Dunia.

Kedua, tentang fungsi perbaikan kualitas siswa. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan hasil AKMSK dapat dipakai oleh guru untuk memperbaiki kualitas siswa. Ini artinya, AKMSK difungsikan sebagai alat untuk memperoleh bukti-bukti empiris mengenai ketidaktahuan, kebingungan, dan/atau miskonsepsi yang dialami siswa dan berdasarkan bukti-bukti empiris tersebut pendidik memberikan perbaikan untuk mengatasinya.

Ini berarti AMMSK mempunyai fungsi formatif, bukan sumatif. Dalam literatur asesmen yang baru dikenal tiga jenis asesmen, yaitu assessment of learning (AoL), assessment for learning (AfL) dan assessment as learning (AaL). Dalam pelaksanaan AfL, pendidik memberikan asesmen kepada siswa bukan untuk memberikan nilai kepada siswa, tetapi untuk mengetahui ketidaktahuan, kebingungan,  dan/atau miskonsepsi siswa.

Berdasarkan bukti empiris tersebut pendidik memberikan balikan dan/atau arahan kepada siswa bagaimana cara memperbaiki. Pada pelaksanaan AfL, pendidik dapat melakukan pembelajaran kembali untuk mengatasi kesalahan siswa. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, AfL ini harus dilakukan pendidik sepanjang waktu.

Semakin banyak pendidik melakukan AfL, semakin meningkat kualitas siswa. Dengan demikian, seharusnya pendidik tidak harus menunggu hasil AKMSK untuk melakukan perbaikan, tetapi melaksanakan asesmen sendiri dan berdasar hasil asesmen itu pendidik memperbaiki kualitas siswa.

Meminta para pendidik memperbaiki kualitas siswa hanya setelah AKMSK tentu bukan hal yang bijaksana. Pendidik harus memperbaiki kualitas siswa secara terus-menerus dengan, antara lain, melaksanakan AfL, tanpa menunggu AKMSK.

Ketiga, tentang seleksi masuk ke jenjang berikutnya. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, AKMSK bukan alat seleksi ke jenjang berikutnya. Ia juga tidak mengharapkan ada ujian akhir sekolah. Di sisi lain, pada pelaksanaan sistem zonasi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memperluas kuota siswa berprestasi menjadi 30%.

Pertanyaannya adalah tolok ukur apa yang dipakai untuk menentukan bahwa seorang siswa berprestasi? Ketika tidak ada UN, salah satu tolok ukur siswa berprestasi adalah nilai rapor. Menggunakan nilai rapor sebagai tolok ukur siswa berprestasi tentu bukan langkah yang bijaksana karena tidak ada standar yang sama pada nilai rapor. Bisa saja siswa yang mempunyai nilai 6 dari suatu sekolahan lebih pandai daripada siswa lain yang mempunyai nilai 8 tetapi dari sekolahan lain.

Menghilangan Stres

Misalnya diadakan tes masuk ke jenjang berikutnya, ini juga bukan hal yang bijaksana karena tes masuk ini kalau tidak dilaksanakan secara profesional akan menimbulkan hal-hal yang justru kontraproduktif. Untuk menentukan siswa berprestasi atau tidak, dalam rangka seleksi masuk jenjang berikutnya, tampaknya nilai UN masih merupakan tolok ukur yang baik (di samping prestasi-prestasi lain, seperti prestasi olahraga, kesenian, dan lain sebagainya).

Keempat, tentang stres yang dialami siswa ketika menghadapi ujian akhir. Ujian yang apa pun, pada tingkat mana pun, pada usia berapa pun, ketika hasil ujian dipakai untuk menentukan keberhasilan peserta ujian pastilah akan menimbulkan stres bagi peserta ujian. Tidak ada ujian yang tidak menimbulkan stres.

Menghilangkan stres siswa yang menghadapi ujian akhir dengan menghilangkan ujian akhir sama seperti menghilangkan tikus di gudang dengan membakar gudangnya. Ada banyak cara untuk mengelola stres yang dihadapi siswa ketika akan menghadapi ujian akhir.

Mempersiapkan baik-baik siswa untuk menghadapi ujian akhir adalah salah satu cara memperkecil stres siswa.  Menanamkan kepada siswa suatu pengertian bahwa gagal dalam ujian akhir bukanlah hal yang hina adalah cara lain untuk memperkecil stres siswa.

Mengadakan doa bersama sebelum ujian akhir adalah cara lain untuk memperkecil stres siswa. Dengan kata lain, banyak cara untuk memperkecil stres siswa menghadapi ujian akhir tanpa harus menghilangkan ujian akhir itu sendiri.

Seperti yang dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, kebijakan menghapus UN bakal menemui tantangan. Diharapkan tantangan dan/atau ekses negatif penghapusan UN dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan tidak justru memundurkan kualitas pendidikan kita, seperti yang ditakutkan sebagian tokoh pendidikan kita.

Berita Terkait

Berita Terkini

Resiliensi Sektor informal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 4 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Nandito, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyan Surakarta dan aktif di Lingkar Studi Sasadara di Kleco, Kota Solo.

Mitos Kekinian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 5 Mei 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute.

Narasi Tunggal Soal Mudik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat. 7 Mei 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Hadiah Lebaran dari Mas Edi

Buat saya, di tengah pandemi seperti saat ini, orang-orang seperti Mas Edi inilah bantalan kuat bagi ketahanan ekonomi Indonesia.

Wajah Pendidikan Kita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 3 Mei 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Musnahkan Kebebalan Kawanan!

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 30 April 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Menolak Jalan Impunitas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 29 April 2021. Esai ini karya St, Tri Guntur Naryawa, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Wantok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 28 April 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Rumah Tempat Debat dan Mufakat

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 26 April 2021. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncel Bilik Literasi.

Pelajaran Dari Gawok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 23 April 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Sinergi Mencegah Perkawinan Anak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Retno Winarni, guru Bahasa Indonesia di SMAN Kerjo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Bisnis Monyet Tanaman Hias

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 20 April 2021. Esai ini karya Nadia Aliya Azki, mahasiswa Program Studi Manajamen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(Andai) Demokrasi Tanpa Oligarki

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 19 April 2021. Esai ini karya Siti Farida, Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah.

Perlawanan Perempuan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Singkong Goreng dan Segelas Wine

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 16 April 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI)

Punden-Punden Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 15 April 2021. Esai ini karya Albertus Rusputranto P.A., dosen di Institut Seni Indonesia Surakarta.

Membaca Perempuan Kini

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 24 April 2021. Esai ini karya Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Bukan Cuma Kebaya dan Sanggul

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 22 April 2021. Esai ini karya Elly Jauharah Asriani, guru Matematika di MTsN 7 Klaten, Jawa Tengah.

Menunggu Musikus Jadi Kaya Raya

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 17 April 2021. Esai ini karya Tito Setyo Budi, doktor Kajian Musik, wartawan, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Kabupaten Sragen.

UUD 1945 dan the Living Constitution

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 13 April 2021. Esai ini karya Salma Abiyya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Menyikapi Waktu Subuh Yang Berbeda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 12 April 2021. Esai ini karya Muh. Nursalim, Ketua Komisi Kajian Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sragen.

Investasi Sosial Wakaf Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 9 April 2021. Esai ini karya Wawan Sugiyarto, analis Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan dan peraih gelar akademis PhD di Queensland University of Technology, Brisbane, Australia.

Dihantui Masa Lalu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 14 April 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

Teror dan Agama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 6 April 2021. Esai ini karya Arif Yudistira, tuan rumah Pondok Filsafat Solo.

Berolahraga di Atas Bus Berjajar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 5 April 2021. Esai ini karya Agus Kristiyanto, Guru Besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret.

Cerita dari Bontang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 7 April 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.

Mencegah Terorisme Lagi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 3 April 2021. Esai ini karya Soleh Amini Yahman, psikolog dan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Catur dan Uang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 1 April 2021. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Film sebagai Sumber Sejarah Alternatif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 31 Maret 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Harapan Kota Solo Bebas dari Sampah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 29 Maret 2021. Esai ini karya Mochamad Syamsiro, Direktur Center for Waste Management and Bioenergy dan dosen di Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra Yogyakarta.

Lupakan Saja Swasembada Gula

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 24 Maret 2021. Esai ini karya Jojo, kandidat Doktor Ilmu Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor atau IPB University.

Tema dan Kontroversi Lama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 27 Maret 2021. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi.

Sisi Lain Proyek Mercusuar Presiden Joko Widodo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 27 Maret 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Filantropi Ruwahan Era Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 25 Maret 2021. Esai ini karya Muh. Fajar Shodiq, dosen Sejarah di Fakultas Adab dan Bahasa Institut Agama Islam Negeri Surakarta.

Pekerjaan Rumah Mas Wali

Soloraya akan menjadi megapolitan baru. Apalagi bila Mas Wali dapat memimpin langkah sinergi dan kolaborasi dengan pemerintahan lainnya di kawasan Soloraya.

Youtube Lebih daripada Televisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 20 Maret 2021. Esai ini karya Imam Subkhan, pengelola studio dan pembuat konten yang tinggal di Karanganyar.

Aspek Pajak dalam Zakat ASN

Rencana pemerintah untuk memotong gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) sebesar 2,5% untuk pungutan zakat kembali naik ke permukaan.

Prospek Cerah Budi Daya Porang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 16 Maret 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universita Sebelas Maret.

Irasionalitas Impor Beras

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Maret 2021. Esai ini karya Haris Zaky Mubarak, peneliti sejarah dan Direktur Jaringan Studi Indonesia.

Rekayasa Sosial dan Ubah Laku

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 3 Maret 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Rumah Versus Sekolah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 19 Maret 2021. Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015), tertarik dengan tema-tema filsafat pendidikan, filsafat agama, dan ekonomi politik.

Pencurian Artefak Bersejarah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 18 Maret 2021. Esai ini karya Christianto Dedy Setyawan, guru Sejarah di SMA Regina Pacis Solo dan anggota staf Litbang Soeracarta Heritage Society.

Toleransi Bukan Sekadar Kata-Kata

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Maret 2021. Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Solopos Institute dan Pemimpin Proyek Internalisasi Literasi Keberagaman Melalui Jurnalisme di SMA/SMK di Soloraya yang dikelola Solopos Institute.

Jebakan Wacana Tiga Periode

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Maret 2021. Esai ini karya Ronny P. Sasmita, analis senior di Indonesia Strategic and Economic Action Institution.

Prospek Cerah Budi Daya Porang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 16 Maret 2021. Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu Teknologi Pangan dan peneliti di Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universitas Sebelas Maret.

Irasionalitas Impor Sejuta Ton Beras

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Maret 2021. Esai ini karya Haris Zaky Mubarak, peneliti sejarah dan Direktur Jaringan Studi Indonesia.

Penguatan Demokrasi di Daerah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 13 Maret 2021. Esai ini karya M. Dwi Sugiarto yang tertarik dengan tema-tema demokrasi dan pemilihan umum, pernah menjadi anggota Panitia Pengawas Kecamatan Teras pada pemilihan kepala daerah Kabupaten Boyolali 2020.

Pendidikan Nonformal yang Terlupakan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 9 Maret 2021. Esai ini karya Muhammad Ivan, Sarjana Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Jakarta dan analis kebijakan di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Macet Itu Menyenangkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 12 Maret 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia atau GrupJaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Prioritas Pembangunan Desa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 6 Maret 2021. Esai ini karya Mulyanto, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret dan Ketua Bidang Kajian dan Publikasi ISEI Solo.

”Ular Besi” Vorstenlanden

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 3 Maret 20201. Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan pelaju KRL dan Prameks Solo-Jogja.

UNS di Sepuluh Besar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 10 Maret 2021. Esai ini karya Tundjung W. Sutirto, dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret Solo.

AHY versus Moeldoko

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 8 Maret 2021. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Perpisahan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 10 Maret 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos.

Pengadaan Tanah untuk Tol Solo-Jogja

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 2 Maret 2021. Esai ini karya Himawan Pambudi, sosiologi perdesaan yang bekerja sebagai pekerja sosial di Yayasan Satunama dan warga yang tinggal di Kabupaten Klaten dan terdampak pembangunan tol Solo-Jogja.

Media Massa dan Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 1 Maret 2021. Esai ini karya Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Green Wasathiyyah Campus

Green Wasathiyyah Campus adalah kepedulian terhadap sustainability/keberlanjutan, bagaimana manusia tidak hanya sekadar memikirkan cara bertahan hidup di masa sekarang tetapi juga berpikir untuk kehidupan jangka panjang.

Subsidi Agrobisnis Pangan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 22 Februari 2021. Esai ini karya Agus Wariyanto, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah.

Orang Kaya Baru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 23 Februari 2021. Esai ini karya Yohanes Bara, mahasiswa Magister Manajemen Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan pengelola Tobemore Learning Center di Cangkringan, Sleman, DIY.

Clubhouse dan Kesan Pertama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 26 Februari 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Menerka Pesta Demokrasi 2024

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 25 Februari 2021. Esai ini karya Nursahid Agung Wijaya, Kepala Subbagian Keuangan Umum dan Logistik Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Wonogiri.

Keruntuhan Imajinasi Publik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 27 Februari 2021. Esai ini karya Abdul Jalil, jurnalis Solopos dan mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret.

Buzzer, Politik, dan Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 20 Februari 2021. Esai ini karya Dwi Munthaha, peneliti di Bhuminara Institute dan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta.

The Chinese Way

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 19 Februari 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Sinetron New Normal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 25 Februari 2021. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

Jurnalisme Mesin Pencari

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 8 Februari 2021. Esai ini karya Djoko Subinarto, bloger dan kolumnis.

Mengabaikan Kompetensi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 17 Februari 2021. Esai ini karya Edy Purwo Saputro, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Mengkritik sebagai Kultur

Gagasan ini dimuat Harian Solopos esisi Selasa, 16 Februari 2021. Esai ini karya Damar Tri Afrianto, dosen di Institut Seni dan Budaya Indonesia Sulawesi Selatan.

Larry King dan Komunikasi Efektif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 15 Februari 2021. Esai ini karya Satrio Wahono, alumnus Magister Filsafat Universitas Indonesia dan dosen di Universitas Pancasila.

Alat Uji PCR Masih Jauh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 5 Februari 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, jurnalis Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Bonus Demografi di Tengah Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 30 Januari 2021. Esai ini karya Sri Hartanti Sulistyaningsih, Statistisi Ahli Muda Badan Pusat Statistik Kabupaten Boyolali.

Akeh Apike

Tentang berfikir positif, ketimbang larut pada racun pikiran negatif. Tentang menebar harapan, ketimbang menabur virus ketakutan, apalagi kecemasan.

Menertawakan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 3 Februari 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Cetak Biru Pemajuan Kesenian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 6 Februari 2021. Esai ini karya B.R.M. Bambang Irawan, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret dan Ketua Dewan Kesenian Kota Solo periode 2017-2020.

Meneguhkan Komitmen Kebangsaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 1 Februari 2021. Esai ini karya Ajie Najmuddin, Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama Kota Solo.

Politisasi Kesehatan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 20 Januari 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Transformasi Jangan Pergi Kala Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 29 Januari 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Kekuatan (Doa) Perempuan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 27 Januari 2021. Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, lahir di Kota Solo.

Dekonstruksi Makna Bencana

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 26 Januari 2021. Esai ini karya Anicetus Windarto, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Realino Sanata Dharma Yogyakarta.

Rejuvenate

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 27 Januari 2021. Esai ini karya Ichwan Prasetyo, Jurnalis Solopos.

Apakah Anda Punya Waktu?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 25 Januari 2021. Esai ini karya Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Memberdayakan Batik Solo Trans

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 13 Januari 2021. Esai ini karya Djoko Setijowarno, dosen di Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Katolik Soegijapranata dan Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia.

Stadion Serbaguna Manahan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 12 Januari 2021. Esai ini karya Agus Kristiyanto, guru besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga di Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret dan anggota tim ahli Sport Development Index.

Oposisi Simbolis Petani

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 9 Januari 2021. Esai inikarya Tri Rahayu, jurnalis Solopos.

PSBB Setelah Empat Kali Revisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 8 Januari 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Wilayah Bebas dari Korupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 5 Januari 2021. Esai ini karya Raden Hary Sutrasno, pengawas di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Klaten dan alumnus Magister Hukum Universitas Gadjah Mada.

Park Seo-joon dan Boga Indonesia

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 6 Januari 2021. Esai ini karya Setyaningsing, esais dan penulis buku Kitab Cerita (2019) dan Kaum Novel (2020), penikmat es kacang merah.

Dilema Iklan Pemerintah Daerah di Media Massa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 4 Januari 2021. Esai ini karya Abdul Jalil, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret.

Wajah Jurnalisme Masa Depan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 2 Januari 2021. Esai ini karya Diah Ayu Candraningrum, dosen Komunikasi Digital di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara, Jakarta, dan mahasiswa Program Doktor Studi Ilmu Komunikasi Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Jakarta.

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 30 Desember 2020. Esai ini karya Mochamad Syamsiro, Direktur Center for Waste Management and Bioenergy dan dosen Jurusan Teknik Universitas Janabdara Yogyakarta.

Game Theory Perombakan Kabinet

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 29 Desember 2020. Esai ini karya Dwi Munthaha, peneliti di Bhuminara Institute dan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta.

Herry Priyono dan Manusia Ekonomi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 28 Desember 2020. Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo.

Menanti Kinerja Wali Kota Rasa Presiden

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 22 Desember 2020. Esai ini karya Nurmadi H. Sumarta, mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan dan dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

Natal dan Regulasi Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 26 Desember 2020. Esai ini karya Aloys Budi Purnomo, Pastor Kepala Campus Ministry Unika Soegijopranoto Semarang.

Kampus Hijau untuk Siapa?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 19 Desember 2020. Esai ini karya Suryanto, dosen di Fakultas Ekonomi dan Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Sebelas Maret.

Sejarah Terapan dan Sejarawan Solutif

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 16 Desember 2020. Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret.

Ibu dalam Sejarah dan Tulisan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 23 Desember 2020. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi.

Kapan Keluar dari Resesi Ekonomi?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 14 Desember 2020. Esai ini karya B.R.M. Bambang Irawan, mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

Korupsi Dua Menteri dan Kebangkitan KPK

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 12 Desember 2020. Esai ini karya Mohammad Jamin, dosen Sosiologi Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.