Model memperlihatkan produk ponsel pintar terbaru Huawei Nova 3i dalam peluncurannya, di Jakarta, Selasa (31/7/2018)./JIBI-Felix Jody Kinarwan

Solopos.com, JAKARTA – Jutaan pemilik smartphone (ponsel pintar) Huawei di seluruh dunia tiba-tiba tertarik terkait isu perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS). Bukan apa-apa, ini lantaran terkait dengan kepentingan orang banyak.

Pekan lalu, Kamis (16/5/2019), Presiden AS Donald Trump memberlakukan larangan terhadap Huawei untuk memperoleh komponen dan teknologi dari perusahaan-perusahaan AS tanpa persetujuan pemerintah AS.

Selain menekan Huawei, larangan ini pada saat yang bersamaan juga mempengaruhi banyak perusahaan di AS karena tidak dapat bekerja sama dengan raksasa teknologi asal China itu.

Google adalah salah satu di antara perusahaan-perusahaan yang menangguhkan bisnisnya dengan Huawei. Anak perusahaan Alphabet Inc. ini menghentikan akses Huawei ke teknologi Androidnya, kecuali yang tersedia sebagai teknologi open source.

Ke depannya, Google akan berhenti menyediakan akses, bantuan teknis, dan kolaborasi atas aplikasi dan layanan milik Google untuk Huawei. Aplikasi populer Google seperti Gmail, Youtube, dan Chrome yang saat ini tersedia dalam perangkat pintar produksi Huawei tidak akan ada lagi pada peranti lunak gawai Huawei di masa depan.

Pada Senin (20/5/2019), pemerintah AS kemudian memberikan kelonggaran dengan memperbolehkan Huawei untuk membeli barang-barang AS selama 90 hari atau sampai 19 Agustus.

Tetap saja, setelah itu, ponsel-ponsel Huawei tidak akan mendapatkan akses terhadap update perangkat lunak Google seperti kebanyakan ponsel top lainnya yang menggunakan sistem operasi Android perusahaan asal AS tersebut.

Meski relatif tidak begitu populer di AS, tetapi ponsel-ponsel besutan Huawei banyak digunakan hampir di mana pun. Bagi jutaan orang, ponsel Huawei menjadi alternatif murah namun berkualitas atas ponsel-ponsel berharga mahal semacam Iphone produksi Apple.

Ganjalan terhadap Huawei di AS memang tidak akan berdampak di Tanah Airnya sendiri. Tapi, menurut Counterpoint Research, hampir separuh dari jumlah ponsel Huawei justru ludes terjual di luar China.

“Saya sangat khawatir. Saya pemilik [Huawei] P30 Pro yang saya beli sebulan lalu. Saya tidak tahu apakah akan mendapatkan update [Google]. Banyak orang sangat mengkhawatirkan tentang hal itu,” tulis Ania K dari Polandia di Twitter.

Seorang juru bicara Google mengatakan perusahaan akan terus memberikan update perangkat lunak dan patch keamanan untuk model ponsel Huawei telah yang ada selama 90 hari ke depan.

“Meski kami mematuhi semua persyaratan pemerintah AS, layanan seperti Google Play & keamanan dari Google Play Protect akan tetap berfungsi pada ponsel Huawei yang sudah Anda miliki,” tulis unit Android Google di Twitter.

Semua ponsel Huawei yang dikembangkan dan disertifikasi oleh Google sebelum 16 Mei masih akan mendapatkan akses ke Google Play app store serta aplikasi dan layanan pre-loaded lainnya.

Sementara itu, update dari Google akan berlanjut karena ini adalah transaksi antara Google dan end user, bukan Google dan Huawei.

Namun, Google tidak akan diizinkan untuk bekerja sama dengan Huawei terkait bug perangkat lunak dan perbaikan teknis lainnya untuk versi Android Google yang akan datang. Artinya, Huawei harus melakukan hal ini sendiri, menggunakan versi open-source Android.

Google juga tidak akan memberikan support untuk ponsel-ponsel Huawei yang diluncurkan setelah 16 Mei, karena akan memerlukan transaksi baru antara Google dan Huawei.

Pada Selasa (21/5/2019), tim pemasaran Huawei Technologies Co. menyampaikan pernyataan di media sosial guna meyakinkan para pelanggan bahwa ponsel yang mereka miliki akan tetap aman dan berfungsi.

“Huawei akan terus memberikan update keamanan dan layanan purna jual untuk semua produk smartphone dan tablet Huawei maupun Honor yang ada. Ini mencakup produk-produk yang telah dijual atau masih tersedia secara global,” tulis perusahaan itu di Twitter kepada para penggunanya di Nigeria.

Beberapa pelanggan Huawei bertanya di media sosial apakah mereka dapat mengembalikan ponsel mereka. Sebagian yang lain mengatakan akan tetap menjadi pelanggan bahkan mendukung Huawei menghadapi apa yang mereka anggap sebagai sebuah bentuk serangan terhadap perusahaan asing oleh Presiden Trump.

“Kalian bisa melakukannya, Huawei. Perjuangan kalian akan berbuahkan hasil,” tulis Boon Leo, seorang pengguna Huawei dari Malaysia di halaman Facebook perusahaan.

Huawei saat ini dikabarkan tengah mengembangkan sistem operasi selulernya sendiri dan akan mempertimbangkan untuk menyaingi Android dari Google.

“Saya tidak meninggalkan ponsel Huawei, jadi ayolah buat perangkat lunak dan OS kalian sendiri. Secepatnya,” tulis pengguna lain dari Kenya di Twitter.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten