Pengelola Tak Mau Gegabah Buka Tempat Wisata di Wonogiri
Para pedagang diberi pembinaan dan motivasi agar tetap semangat seusai bekerja bakti di tempat wisata Pasar Doplang, Desa Pandan, Kecamatan Slogogohimo, Wonogiri, belum lama ini. Tempat wisata kuliner tradisional itu ditutup sementara hingga batas waktu yang belum diketahui. (istimewa/Abdul Wahib Ahmadi)

Solopos.com, WONOGIRI — Sejumlah tempat wisata di Wonogiri tak akan langsung dibuka, meski Pemerintah Kabupaten ke depan sudah mengizinkan buka. Pengelola akan mempertimbangkan risiko penularan Covid-19 di kecamatan terlebih dahulu, sebelum memutuskan membuka tempat wisata.

Angin Kencang Bikin Pohon di Sidoharjo Sragen Tumbang, Pengendara Motor Asal Blora Jadi Korban

Seperti diketahui, Pemerintah Kabupaten atau Pemkab Wonogiri berencana membolehkan pengelola membuka tempat wisata. Hal tersebut sudah dibahas Satuan Percepatan Penanganan Covid-19 Wonogiri, belum lama ini. Saat itu pembahasan sudah mengerucut pada kesepakatan untuk mengizinkan tempat wisata dibuka. Keputusan akhir akan diambil melalui rapat Satgas, awal pekan ini.

Pengelola Wisata Pasar Doplang Slogohimo, Abdul Wahid Ahmadi, kepada Solopos.com, Minggu (22/11), menyampaikan jika Pemkab sudah mengizinkan tempat wisata dibuka pihaknya tak akan gegabah. Pengelola akan melihat risiko penularan Covid-19 di Slogohimo terlebih dahulu.

Oleh karena itu pengelola akan berkoordinasi dengan Satgas Slogohimo. Apabila penularan Covid-19 di Slogohimo mengkhawatirkan sehingga pembukaan tempat wisata dinilai belum memungkinkan, pengelola akan mematuhinya. Dia berharap Slogohimo termasuk kecamatan yang aman.

Tambah 33 Pasien Baru Sehari, Total Kasus Covid-19 di Klaten Jadi 1.531

“Tentu kami tak akan mengesampingkan peranan Satgas tingkat kecamatan. Justru sejak awal kami selalu berkoordinasi,” kata Abdul.

Dia melanjutkan, apabila izin Pemkab keluar sebelum 9 Desember mendatang, tempat wisata yang menyuguhkan berbagai penganan tradisional itu tetap belum akan dibuka, meski Satgas memberi lampu hijau.

Tak Ingin Keramaian

Pengelola memilih akan membuka pasar yang “mengharamkan” plastik tersebut setelah 9 Desember atau pemungutan suara pilkada. Sebab, pengelola tak ingin keramaian pengunjung dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk kepentingan politik.

“Lebih baik kami membuka setelah pilkada agar tidak ada beban apa pun. Pasar Doplang harus steril dari kegiatan politik. Biarkan usaha wisata berjalan tanpa dicampuri urusan politik,” imbuh Abdul.

Terpisah, pengelola Wisata Dam Gajah, Sidoharjo, Agus Setiyono, menyampaikan hal senada. Meski nanti Pemkab membolehkan tempat wisata dibuka, pengelola tidak akan langsung membuka Dam Gajah. Pengelola akan berkoordinasi dengan Satas Sidoharjo terlebih dahulu. Terlebih, saat ini Sidoharjo berada di zona merah atau kecamatan dengan risiko penularan Covid-19 tinggi. Hal itu menyusul melonjaknya kasus terkonfirmasi positif Covid-19 dari klaster Pasar Sidoharjo.

2 Pegawai Positif Covid-19, Kampus ISI Solo Lockdown

“Saya sering berkoordinasi dengan pengelola tempat wisata lain di Sidoharjo membahas persiapan pembukaan operasional usaha wisata. Intinya, kami akan menyesuaikan situasi dan kondisi terlebih dahulu sebelum memutuskan membuka,” ujar Agus.

Dia mengaku sudah menyiapkan agenda kegiatan yang menarik di Wisata Dam Gajah. Agenda itu seperti balap grass track atau motor trail yang diyakini bakal menyedot perhatian masyarakat.

Meski sekarang kegiatan semacam itu yang menonjol di Wisata Dam Gajah, tetapi pengelola tak akan meninggalkan konsep lama, yakni rekreasi air dan kuliner. Bahkan, pengelola akan mengganti selter pedagang dengan gasebo.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom