PENGANIAYAAN WONOGIRI : Diduga Oknum Polisi Aniaya Siswa SMP
Ilustrasi topi polisi (Dok. Solopos.com)
Ilustrasi topi polisi (Dok. Solopos.com)

Solopos.com, WONOGIRI -- Oknum polisi di Wonogiri diduga melakukan penganiayaan pada siswa SMP. Akibat penganiayaan ini, warga sempat akan melakukan aksi balasan terhadap oknum polisi tersebut. Namun, hal itu urung terjadi setelah ada imbauan tokoh desa.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Rabu (23/10/2013), siswa SMP berinisial Cr itu diduga dipukul dan ditendang oleh oknum polisi berinisial Yd. Peristiwa itu terjadi, Selasa (22/10/2013) sekitar pukul 16.00 WIB. Korban diduga dipukul bagian pipi dan ditendang tulang kering kaki.

Kakek korban bernama D menceritakan, menjelang petang atau sekitar pukul 17.00 WIB dirinya diminta datang ke sekitar Lapangan Gemawang, Kecamatan Girimarto Wonogiri.

"Saat saya datang, kunci sepeda motor (miliki Cr) dikasihkan ke Cr. Oknum polisi Yd melanjutkan perjalanan pulang ke rumah di Girimarto," ujarnya.

Singkat cerita, sepeninggal oknum polisi, korban dan teman-temannya bercerita jk Cr dipukul tiga kali.

"Pipi terlihat memar. Cr segera pulang dan tidur. Hari ini (Rabu) Cr sudah sekolah lagi walau tadi pagi sempat merasakan pusing."

Dijelaskannya, Cr bersama lima temannya, Selasa sore bermaksud bermain sepakbola. Karena gerimis, ujarnya, Cr dan teman-teman berteduh ke gubuk dekat lapangan.

"Sepeda motor dibawa. Sesampai di gubuk lewat oknum polisi. Cr dinilai menghalangi jalan dengan roda sepeda motor bagian depan dinaikkan. Kunci sepeda motor diambil dan sepeda motor mau dibawa tetapi dihalang-halangi."

Akhirnya Cr diminta menelepon mantan Sekdes Gemawang. Kedatangan D diharapkan bisa mendidik cucunya.

"Semalam (Selasa) warga sudah berkumpul ingin geruduk rumah Yd tetapi dihalang-halangi tokoh masyarakat. Kami tidak melaporkan ke polisi namun berharap kejadian itu tak terulang. Warga juga berencana menghadang Yd tetap tidak dilakukan."

Kapolres Wonogiri, AKBP Tanti Septiani ditemui di mapolres menyatakan akan melakukan pengecekan. Perwira melati dua itu menegaskan, paradigma polisi dalam mengingatkan seseorang telah berbeda.

"Polisi adalah pangayom dan pelindung masyarakat bukan menakuti rakyat. Etika sopan santun lebih diutamakan dalam menangani permasalahan sosial di masyarakat. Polisi lebih humanis," ujarnya.

Ditegaskannya dirinya tidak segan-segan menindak anggotanya yang melanggar disiplin.

"Tidak diperbolehkan seorang anggota polisi berbuat kasar terhadap masyarakat."



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom