PENGANIAYAAN SRAGEN : Cari Kayu Bakar di Hutan, 2 Warga Sambirejo Disiksa dan Dianiaya
Yulianto, 26 (kanan), dan Agus Siswanto, 32, warga Dukuh Bayanan RT 013, Desa Jambeyan, Sambirejo, Sragen, menjadi korban penganiayaan saat mencari kayu bakar di hutan. Foto diambil Kamis (29/12/2016). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)

Penganiayaan Sragen, dua warga Sambirejo menjadi korban penganiayaan saat mencari kayu bakar di hutan.

Solopos.com, SOLO -- Yulianto, 26, dan Agus Siswanto, 32, warga Dukuh Bayanan RT 013, Desa Jambeyan, Kecamatan Sambirejo, Sragen,  menjadi korban penyiksaan dan penganiayaan saat mencari kayu bakar di Kebun Karet Blok Sambi wilayah Afdeling Kepoh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, Rabu (28/12/2016) siang.

Mereka ditodong menggunakan senjata laras panjang, tangan mereka diikat, dan dipukul sebelum akhirnya disuruh berguling-guling dengan tangan terikat sampai jatuh ke jurang sedalam kurang lebih 10 meter. Belum jelas siapa yang melakukan penganiayaan tersebut.

Menurut penuturan Yulianto, pelaku penganiayaan itu terdiri atas empat laki-laki berpakaian mirip petugas keamanan dan membawa senjata laras panjang serta bersepatu bot besar. “Saya baru memotong satu ranting sebesar tangan saya. Setelah mendengar suara tembakan itu spontan saya lari karena takut. Tapi saya tertangkap bersama Agus. Bedil [senjata] laras panjang dipukulkan ke pilingan [bagian kepala] sebelah kiri. Saya pun tidak sadar,” kata Yulianto, saat berbincang dengan Solopos.com di rumahnya, Kamis (29/12/2016).

Keduanya akhirnya bisa pulang dengan selamat, Rabu malam. Warga yang mengetahui kejadian itu menjadi berang. Para tokoh masyarakat dan warga dari berbagai desa di sekitar Jambeyan berdatangan ke rumah Yulianto.

Mereka tersinggung dengan ulah aparat keamanan hutan karet itu. Mereka berniat mencari empat petugas keamanan itu. Kapolsek Sambirejo, AKP Sudira, sempat datang ke rumah Yulianto, Kamis siang. Kapolsek hanya sekilas melihat kondisi Yulianto dan Agus seraya berjabat tangan warga lainnya di ruangan itu.

Sudira lalu memanggil Sunarji, Koordinator Forum Peduli Kebenaran dan Keadilan Sambirejo (FPKKS), untuk dimintai keterangan. Sunarji mengisahkan peristiwa yang dialami Yulianto dan Agus.

“Pokoknya akan saya buat besar kasus ini. Kami tersinggung dengan perbuatan aparat terhadap warga kami. Mereka itu tidak mencerminkan aparat penegak hukum tetapi menjadi centeng PTPN IX. Mereka menggunakan hukum rimba dan kami pun siap meladeni dengan hukum rimba. Mereka arogan. Saya belum laporan ke polisi karena kami tidak percaya dengan polisi,” ujar Sunarji.

Kapolsek Sambirejo AKP Sudira tak banyak berkomentar tentang kasus itu. Dia mengatakan tim keamanan itu memang diminta menjaga kebun karet PTPN IX. “Tetap kami tindak lanjuti tetapi kami masih menunggu sikap dari PTPN IX. Dari PTPN katanya masih menunggu agar situasi mereda,” ujar Sudira saat ditemui Solopos.com di depan rumah Yulianto.

Kapolres Sragen AKBP Cahyo Widiarso mengatakan kasus itu belum dilaporkan ke Polres Sragen. Dia mengatakan yang memukul dua warga itu siapa juga belum jelas. Dia tak berani memastikan pemukulnya itu polisi atau bukan karena belum ada laporan.

“Kepada warga kalau merasa dirugikan ya silakan melapor ke pihak terkait. Kalau kami masih menunggu laporan dari PTPN IX atau warga. Sebenarnya kalau memasuki pekarangan orang lain tanpa izin itu sudah melanggar aturan,” tuturnya.

Sementara itu, perwakilan pejabat PTPN IX Batu Jamus, Kerjo, Karanganyar, Adam, saat dimintai konfirmasi terkait kasus pemukulan di wilayah kabun karet Afdeling Kepoh enggan berkomentar. Ia meminta Solopos.com menghubungi pejabat PTPN IX di Afdeling Kepoh, Ulik.

“Saya tidak tahu persis kejadiannya. Silakan hubungi Pak Ulik saja ya. Beliau yang bertanggung jawab di Afdeling Kepoh,” ujar Adam. Sementara administratur PTPN IX tidak ada di tempat saat hendak dimintai konfirmasi.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom