Pengamat Transportasi Nilai Kecelakaan Maut Bumiayu Bukan Murni Salah Sopir
Truk bermuatan beras dengan pelat nomor B 9374 WTY menabrak sembilan mobil dan sepeda motor di jalur selatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jateng, Senin (10/12/2018). (Antara-Kutnadi)

Semarangpos.com, SEMARANG — Pengamat transportasi dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, menilai kecelakaan maut di Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah (Jateng), Senin (10/12/2018), tak bisa dilimpahkan sepenuhnya kesalahannya kepada sopir truk, Wasroni, 35, warga Desa Karangdowo, Kabupaten Tegal, Jateng.

Djoko menilai ada beberapa faktor yang membuat kecelakaan maut di Fly Over (FO) Kretek, Paguyangan, itu sulit dihindari. Salah satunya adalah kondisi infrastruktur jalan yang belum sesuai dengan apa yang direkomendasikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Informasi dari KNKT menyatakan pekerjaan yang harus dilaksanakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat [PUPR] belum sesuai dengan rekomendasinya. Jadi kalau mau disalahkan, jangan hanya sopir tapi juga pemilik barang [muatan truk] dan juga penyelenggara negara,” ujar Djoko dalam keterangan resmi kepada Semarangpos.com, Selasa (11/12/2018).

Djoko menyebutkan sejak diresmikan tahun 2017, FO Kretek sudah menelan banyak korban. Dari data yang diperolehnya, tercatat ada 45 korban jiwa dan 150-an orang luka berat akibat kecelakaan di lokasi tersebut.

Ada sejumlah FO yang dibangun akibat solusi [kemacetan] Brexit 2016, tetapi malah membawa petaka. Kecelakaan di perlintasan sebidang tuntas dan justru beralih di jalan raya,” imbuh Djoko.

Sementara itu, Ketua KNKT, Suryanto, mengaku saat ini telah menerjunkan timnya untuk menyelidiki penyebab kecelakaan maut di Bumiayu yang menewaskan lima korban itu dan tujuh orang lainnya mengalami luka-luka.

Sudah, kami sudah kirimkan tim investigasi. Kami akan selidiki faktor apa yang menyebabkan kecelakaan itu, mungkin dari efektifitas jalur penyelamat, apakah desain pembangunannya salah, dan juga dari sisi sarana [truk] kenapa rem bisa blong, apa karena masalah teknis seperti overload [kapasitas],” terang Suryanto saat dihubungi Semarangpos.com, Selasa petang.

Suryanto membenarkan KNKT sudah memberikan beberapa rekomendasi prasarana kepada pemerintah untuk mengantisipasi kecelakaan di jalur tanjakan dan turun FO Kretek. Salah satunya, yakni pembangunan jalur penyelamat berupa tanjakan untuk truk yang mengalami kerusakan berupa rem blog saat melintasi turunan.

Kami rekomenasi dua jalur tanjakan, satunya sudah dibikin di halaman milik Dishub di Bumiayu, satunya di sekitar fly over. Tapi yang itu [di sekitar FO] tanahnya milik warga dan baru dianggarkan tahun depan,” imbuh Suryanto.

Kecelakaan maut di Bumiayu, Brebes, terjadi akibat sopir truk tak bisa mengendalikan kendaraan saat melitasi turunan FO Kretek. Ada sembilan kendaraan yang ditabrak truk itu, enam di antaranya merupakan sepeda motor dan tiga lainnya merupakan mobil. Dugaan sementara, kecelakaan itu disebabkan rem truk blong sehingga tak bisa dikendalikan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom