Pengamat: Pilkada Sukoharjo Akan Jadi Pertarungan Pemilih Loyalis Vs Swing Voters
Ilustrasi kampanye pilkada. (Freepik)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Pemilihan kepala daerah atau Pilkada Sukoharjo diprediksi bakal menjadi ajang pertarungan antara pemilih loyalis melawan swing voters. Keduanya smaa-sama kuat.

Pemilih loyalis merupakan kekuatan pasangan Etik Suryani-Agus Santosa atau EA. Sedangkan swing voters menjadi modal pasangan Joko “Paloma” Santosa-Wiwaha Aji Santosa atau Joswi dalam mendulang suara terbanyak.

Pengamat politik dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Agus Riewanto, menyampaikan prediksi tersebut saat wawancara dengan Solopos.com, Rabu (21/10/2020).

Nyalon Wakil Bupati Klaten Lewat Partai Lain, Harjanta Dipecat dari Keanggotaan PDIP

Panelis dalam debat publik putaran pertama akhir pekan lalu itu mengatakan EA memiliki kekuatan pemilih loyalis dari wilayah perdesaan yang jadi modal dalam pertarungan Pilkada Sukoharjo 2020.

Salah satu karakter pemilih loyalis adalah fanatisme terhadap partai politik (parpol) tertentu dalam hajatan demokrasi lima tahunan.

“Pengamatan saya, pasangan EA cenderung bergerak mengoptimalkan efek sosial dan ekonomi secara pragmatis saat pandemi Covid-19. Banyak masyarakat perdesaan setelah menerima bantuan cenderung loyal. Ini kelebihan pasangan EA karena Bu Etik merupakan istri Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya,” katanya, Rabu.

Perkembangan Covid-19 Solo: Muncul 8 Kasus Baru, Meninggal Tambah 1 Orang

Jaringan Birokrasi

Pasangan EA juga menguasai jaringan birokrasi pemerintah mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan hingga desa/kelurahan.

Kekuatan birokrasi bisa menjadi salah satu faktor kunci untuk menarik simpati masyarakat dalam pemungutan suara pada 9 Desember.

Sementara swing voters yang menjadi modal Joswi pada pertarungan Pilkada Sukoharjo 2020 merupakan pemilih rasional dengan tingkat pendidikan menengah ke atas, mapan, dan tinggal dalam wilayah perkotaan.

Anggota DPR Dari Jateng Ini Khawatir Pembelajaran Daring Bikin Kualitas Generasi Muda Turun

Sebagian swing voters merupakan pemilih pemula dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Swing voters merupakan kaum paling kritis dan cenderung mencermati program kerja secara seksama pasangan calon.

“Nah, swing voters ini cenderung memilih pasangan Joswi. Salah satunya isu dinasti politik. Bagi swing voters terutama pemilih pemula, isu dinasti politik kurang baik dalam pembangunan demokrasi,” ujarnya.

Dosen Fakultas Hukum UNS Solo ini menyebut di atas kertas, pasangan EA masih mengungguli pasangan Joswi dalam pertarungan Pilkada Sukoharjo 2020.

Cawawali Solo Teguh Prakosa Sempat Kampanye Di Rumah Keluarga Wanita Terbakar Dalam Mobil Sukoharjo

Suara NU

Namun, Joswi bisa membalikkan keadaan apabila bisa menggaet mayoritas swing voters dari wilayah perkotaan. Wilayah itu yaknni Kartasura, Grogol, dan Sukoharjo.

Agus juga menganalisis peran organisasi kemasyarakatan (ormas) dalam mendongkrak suara saat pencoblosan.

“Suara warga Nahdlatul Ulama [NU] Sukoharjo bakal menentukan dan berandil besar dalam memenangkan pasangan calon. Ini yang akan masyarakat tunggu selama bergulirnya masa kampanye hingga 5 Desember,” paparnya.

Didatangi Gibran Cawali Solo Lewat Blusukan Online, Warga Sumber Sambat Jalan Rusak

Sementara itu, seorang warga asal Kelurahan Combongan, Kecamatan Sukoharjo, Anang Wahyu Setyawan, mengaku belum menentukan pilihan pasangan calon dalam pilkada. Ia ingin mencermati secara detail program kerja kedua pasangan calon.

Anang tak ingin terjebak dalam pusaran politik transaksional dalam memilih calon pemimpin masa depan.

“Saya ingin menggunakan idealisme dalam menentukan pilihan pasangan calon. Satu surat suara sangat berharga bagi pasangan calon. Jadi harus benar-benar menentukan pilihan secara rasional,” katanya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom