Pengalaman Kelam Erupsi Merapi 2006 Bikin Warga Klaten Tetap Bertahan di Pengungsian
Taufiq Sidik Prakoso Pengungsi menikmati hidangan yang disajikan dari dapur umum di tempat evakuasi sementara (TES) Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, Senin (18/1/2021). (Solopos.com/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Mitro alias Ngatimin, duduk santai di kursi plastik depan gedung kantor Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten. Gedung itu menjadi tempat evakuasi sementara (TES) bagi warga dari kawasan rawan bencana (KRB) III erupsi Gunung Merapi di Balerante.

Kakek berumur 75 tahun tersebut mengenakan topi ketu dengan sebatang rokok terselip pada daun telinga, berkaos merah, bercelana pendek, dan bertelanjang kaki. Tatapan Mitro tertuju pada lalu lalang truk galian C yang melintas di depan kantor desa.

Mitro merupakan warga Dukuh Sambungrejo, salah satu perkampungan di Balerante yang masuk kawasan rawan bencana (KRB) III. Sudah lebih dari dua bulan, Mitro bersama kelompok rentan lainnya di KRB III mengungsi menyusul level status Merapi ditingkatkan BPPTKG dari waspada ke siaga sejak 5 November 2020.

Aktivitas Warga Lereng Merapi Masih Biasa, Tapi Tetap Waspada

Pun rong lapan luwih [sudah dua lapan lebih, satu lapan 35 hari],” kata Mitro saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (18/1/2021).

Aktivitas duduk santai di depan TES menjadi keseharian Mitro sejak mengungsi. Mitro juga kerap menyambangi warung atau warga di sekitar kantor desa. Aktivitas itu dia lakukan untuk memupus rasa jenuh di pengungsian. “Teng mriki kegiatane namung dolan dugi warung ngandap mriko [di sini kegiatannya hanya bermain sampai warung],” tutur Mitro.

Seorang pengungsi melintas di depan tempat evakuasi sementara (TES) Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, Senin (18/1/2021). (Solopos.com/Taufiq Sidik Prakoso)

Mitro mengaku sekali dalam sepekan ikut anaknya pulang ke rumah. Hal itu dia lakukan untuk bersih-bersih rumah sambil menunggu anaknya mencari rumput untuk pakan dua sapi yang juga sudah diungsikan ke kandang komunal tak jauh dari TES. Ketika sore tiba, Mitro bersama anaknya bergegas menuju ke TES.

Merapi Luncurkan Awan Panas Sejauh 1 Kilometer ke Kali Krasak

Mitro mengaku sudah rindu tidur di rumah dan beraktivitas normal. Sebelum mengungsi, keseharian Mitro diisi dengan kegiatan berkebun maupun beternak. “Pun kangen nandur bonggol. Nggih namung teng sekitar griya,” kata dia.

Memori Kelam

Namun, Mitro memilih saat ini mengurungkan keinginannya berkebun. Mitro juga mengaku tak terbesit untuk nekat pulang ke rumahnya selama belum ada instruksi dari pemerintah desa. Salah satu alasannya adalah pengalaman kelam erupsi Merapi 2006 silam.

Hal senada disampaikan Yanto, 50, pengungsi asal Dukuh Sukorejo, Desa Balerante. Dia mengakui arah bahaya erupsi Merapi saat ini lebih cenderung ke arah barat atau ke Magelang alias kecil kemungkinan menuju ke Klaten. “Inginnya itu juga segera pulang karena di sini sudah jenuh. Namun, terpaksa masih bertahan karena situasi Merapi saat ini. Kami tetap bertahan mengikuti imbauan dari pemerintah. Kalau naik belum ada imbauan pemerintah tidak berani,” kata Yanto.

Aktivitas Merapi Turun, Warga KRB III Klaten Diminta Tetap Bertahan di Pengungsian

Yanto mengatakan untuk menghilangkan rasa jenuh saban pagi dia pulang ke rumah mencari rumput pakan ternak. Ketika siang, Yanto kembali ke TES. Dua sapi milik Yanto kini juga sudah diungsikan di kandang komunal tak jauh dari TES. Hal itu juga dilakukan sebagian pengungsi lainnya. Sementara, kelompok ibu-ibu pengungsi sibuk di dapur umum menyiapkan makanan untuk pengungsi lainnya.

Salah satu pengungsi dari Dukuh Sambungrejo, Jemingan, 29, juga menyatakan menunggu instruksi dari pemerintah. Dia mengaku sudah mendengar kabar ihwal potensi bahaya erupsi saat ini cenderung mengarah ke barat atau kecil kemungkinan mengarah ke Klaten.

Jemingan menjelaskan berpijak pada pengalaman erupsi 2006 lalu keluarganya mengungsi di wilayah Manisrenggo menyusul status Merapi masih Siaga. Selang tiga bulan mengungsi, warga diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing. Namun, belum genap sehari di rumah mereka harus kembali mengungsi seiring peningkatan aktivitas vulkanik Merapi.

Anak-anak pengungsi bermain di sekitar tempat evakuasi sementara (TES) Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, Senin (18/1/2021). (Solopos.com/Taufiq Sidik Prakoso)

“Waktu itu saya masih SD. Dulu itu di rumah baru lima jam disuruh turun lagi. Belum lama turun kemudian ada erupsi. Saya pribadi selaku pengungsi dan sukarelawan sebenarnya juga takut ketika kondisi masih seperti ini tetapi diminta pulang. Khawatirnya seperti 2006. Kalau saya sendiri selama status belum diturunkan, lebih baik di pengungsian dulu,” kata dia.

Harus Sabar

Koordinator Pengungsian Balerante, Jainu, mengatakan sebagian pengungsi terutama kelompok rentan seperti lansia dan ibu menyusui untuk sementara masih bertahan di pengungsian meski aktivitas vulkanik Merapi cenderung menurun. “Sesuai kondisi perkembangan aktivitas vulkanik Merapi yang disampaikan BPBD, memang aktivitas Merapi cenderung menurun dari berbagai data di BPPTKG. Hanya, BPBD meminta kelompok rentan tetap berada di TES,” kata Jainu.

Erupsi Merapi, Pengungsi Balerante Klaten Tunggu Instruksi Pemerintah

Ia mengaku banyak menerima pertanyaan dari pengungsi ihwal kapan warga bakal pulang ke rumah masing-masing. Namun, dia tak bosan meminta para pengungsi bersabar terlebih dahulu sembari melihat perkembangan aktivitas Merapi. “Harapannya ya status Merapi segera menurun. Sehingga ketika pulang itu ya benar-benar nyaman tidur di rumah,” kata Jainu.

Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Sip Anwar, sebelumnya menjelaskan ada penurunan aktivitas Merapi. Namun, level bahaya erupsi masih berada pada level siaga. Lantaran hal itu, BPBD memilih belum mengizinkan pengungsi kembali ke rumah masing-masing. “Dari BPPTKG itu menyampaikan sewaktu-waktu aktivitas Merapi bisa berubah. Karena Merapi itu sulit diprediksi. Makanya, kami mengambil prinsip kehati-hatian. Masyarakat kami mohon bersabar dulu terutama kelompok rentan,” jelas Sip Anwar.

Kawasan Rawan Bencana

Di Klaten, KRB III erupsi Merapi tersebar di tiga desa Kecamatan Kemalang yakni Desa Balerante, Sidorejo, dan Tegalmulyo. Warga terutama kelompok rentan yang tinggal di KRB III sudah mengungsi ke TES di desa masing-masing sejak status Merapi ditingkatkan ke level siaga pada November 2020. Dari tiga desa yang terdapat KRB, warga di dua desa yakni Tegalmulyo dan Balerante, Kecamatan Kemalang sudah mengungsi ke TES. Sementara, warga di KRB III Sidorejo masih bertahan di rumah masing-masing. Pada Senin (17/1/2021) malam, ada 79 pengungsi di TES Tegalmulyo dan 227 pengungsi serta 114 sapi di TES Balerante.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom