Kategori: Jateng

Pengakuan Pengguna SKD Palsu PPDB Jateng: Kadesnya Saudara, Pak!


Solopos.com/Alif Nazzala Rizqi/Bisnis

Solopos.com, SEMARANG -- Ancaman Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, menyeret pengguna Surat Keterangan Domisili atau SKD palsu ke ranah hukum untuk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), berbuah manis. Banyak dari orang tua siswa yang mencabut SKD saat pendaftaran berlangsung.

Dari laporan panitia PPDB, pada Rabu (24/6/2020) ada 1.007 pendaftar yang menggunakan SKD mencabut berkasnya. Mereka yang mencabut berkas diduga menggunakan SKD dengan data yang tidak benar.

Covid-19 di Grobogan Tambah 2 Kasus, 16 Kecamatan Zona Merah

"Sampai hari ini sudah banyak [ peserta PPDB Jateng ] Pak yang mencabut berkas SKD [ palsu ]. Sementara ada 1.007 pendaftar yang menggunakan SKD yang cabut berkas untuk mendaftar kembali dengan data yang benar," kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng Jumeri, Rabu (24/6/2020).

Ganjar bahkan sempat menelepon salah satu orang tua siswa yang mencabut berkas SKD itu. Kepada Ganjar, orang tua calon siswa berinisial S membenarkan bahwa SKD yang digunakan adalah palsu.

Salah Tulis Salatiga Jadi Salahtiga, Penghargaan Kemendagri Direvisi

"Anak saya ingin sekolah di SMAN 2 Pati pak, sementara rumah saya jauh. Saya ditangisi anak, jadi bingung. Anak saya coba pakai jalur prestasi, tapi kegeser. Akhirnya saya berusaha mencari itu [ SKD palsu untuk PPDB Jateng ]," kata S kepada Ganjar.

S menerangkan untuk memperoleh SKD itu, dirinya meminta tolong kepala desa di sekolah yang akan dituju. Kebetulan, kepala desa tersebut masih memiliki hubungan saudara dengan S. "Masih saudara, jadi gampang pak. Gratis lagi," imbuhnya.

2 Jenazah di Surabaya Tertukar, Dimakamkan dengan Protokol Covid-19

Diperingatkan Panitia

Namun S akhirnya sadar bahwa apa yang dilakukannya itu salah. Setelah diperingatkan oleh panitia PPDB Jateng sekolah dan membaca berita, dia memutuskan untuk mencabut berkas SKD palsu anaknya.

"Saya cabut karena takut pak, selain itu memang sudah diingatkan pihak panitia. Saya juga menyadari, bahwa saya salah, jadi saya cabut," terangnya.

Diduga Pakai SKD Palsu, 1.007 Calon Siswa Cabut Berkas PPDB Jateng

Bukannya memarahi, Ganjar justru mengucapkan terimakasih kepada S yang mau sadar dan jujur untuk mencabut berkas SKD nya. Ia berharap, S tetap mendukung proses belajar anaknya dengan penuh kejujuran. Dalam PPDB Jateng ini, dia meminta tak ada data palsu termasuk SKD.

"Maturnuwun panjenengan jujur [terimakasih Anda sudah jujur], njenengan mbantu luar biasa. Salam buat ananda ya," ucap Ganjar.

Jumlah Tes Swab di Kota Semarang Diklaim Lampaui Standar WHO

Segera Cabut

Ganjar menerangkan, ada banyak temuan saat dirinya sidak ke kantor Disdikbud Jateng hari ini. Di antaranya terkait sertifikat lomba, zonasi dan SKD.

"Ternyata setelah pak Kepala Dinas membuat statemen dan saya juga, kami upload alhamdulillah ada mulai kesadaran orang menarik SKD. Bahwa hipotesis kami yang menduga ada banyak pemalsuan SKD ada benarnya, bahwa mereka mengada-ada. Buktinya sekarang banyak yang mencabut," kata Ganjar tentang SKD palsu di PPDB Jateng itu.

Bappenas Akui Kemiskinan Baru karena Covid-19, Tapi Hanya 2 Jutaan

Kepada masyarakat yang menggunakan SKD palsu dan dengan sadar mencabutnya, Ganjar mengucapkan terima kasih. Mereka dengan sadar menyatakan bahwa SKD yang digunakan Aspal, asli tapi palsu karena waktu dan periodenya tidak benar.

"Terimakasih yang sudah mencabut, tapi yang belum saya peringatkan. Ujungnya kalau tidak sesuai tetap kami coret, kasihan yang lain," tegasnya.

Demo PA 212 Tuntut MPR Turunkan Jokowi: Kami Bukan Makar Loh

Ganjar juga memerintahkan seluruh Kepala Sekolah di Jateng untuk melakukan klarifikasi dan verifikasi data, termasuk kemungkinan SKD palsu. Kalau ada yang tidak benar, pihaknya meminta tidak ragu untuk mencoret.

"Mari kita edukasi anak-anak kita ini untuk jujur. Kami masih memberi kesempatan untuk mencabut dan mendaftar kembali, tapi jangan gunakan SKD yang datanya tidak benar," katanya.

Share
Dipublikasikan oleh
Adib Muttaqin Asfar