Penerimaan Zakat di Jateng Capai Rp4,2 M per Bulan
Ilustrasi pemberian zakat fitrah. (Solopos-Nicolous Irawan)

Semarangpos.com, SEMARANG — Penerimaan zakat di Jawa Tengah (Jateng) yang dikoordinasikan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jateng mengalami peningkatan dua kali lipat sepanjang tahun 2019 ini. Jika sebelumnya Baznas Jateng hanya mampu mengumpulkan zakat sekitar Rp2,7 miliar per bulan, kini penerimaannya mencapai Rp4,7 miliar per bulan.

Meningkatnya penerimaan zakat di Baznas Jateng itu kemungkinan besar dipengaruhi adanya Surat Edaran (SE) Gubernur Jateng tentang potongan langsung dari gaji aparatur sipil negara (ASN) sebesar 2,5%. Dengan lonjakan itu, Baznas Jateng pun bertekad meningkatkan kontribusi dalam penurunan kemiskinan.

“Yang semula per bulan penerimaan hanya Rp2,7 miliar, setelah ada SE dari Pak Gubernur kini yang diterima Baznas bisa mencapai Rp4,2 miliar,” ujar Ketua Baznas Jateng, K.H. Achmad Daroji, saat peluncuran Lapak Pedagang Kuliner Mustahik Binaan Baznas Jateng di Jl. Jolotundo, Kota Semarang, Sabtu (4/5/2019).

Surat edaran tersebut dikeluarkan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, setelah menerima laporan dari Baznas terkait penerimaan serta pemanfaatan zakat sepanjang 2018. Sepanjang 2018, Baznas Jateng menerima saluran zakat dari ASN Jateng mencapai Rp31,7 miliar. Dengan meningkatnya penerimaan, pemanfaatannya pun dilakukan secara modern.

"Pemanfaatan untuk sektor produktif sebesar 40% dan sektor tidak produktif mencapai 60%. Untuk sektor produktif alhamdulillah semua bisa untuk produksi, misalnya pinjaman tanpa bunga, Baznas Micro Finance. Sektor tidak produktif kita manfaatkan untuk pembangunan rumah tidak layak huni (RTLH)," katanya.

Baznas Micro Finance, lanjut Daroji, ditujukan pada mereka yang punya usaha kecil yang ingin menambah modal. Tapi mereka tidak dilepas begitu saja, tetap diberi pengawasan dan pendampingan. Selanjutnya Baznas melakukan evaluasi.

"Seperti saat ini, ada 16 lapak pedagang kecil kerjasama dengan MAJT. Ini tekad kami untuk ngeroyok mengatasi kemiskinan di Jawa Tengah," katanya.

Dengan sistem yang diterapkan dalam pengelolaan zakat tersebut, Jawa Tengah bahkan dijadikan role model pengumpulan dan pengelolaan zakat secara nasional. Gubernur Jateng mengatakan pemanfaatan Zakat tersebut sangat membantu untuk mensejahterakan masyarakat.

"Baznas sangat berkontribusi penuh dalam penurunan kemiskinan. Baznas adalah solusi. Kita menyelesaikan dengan banyak sumber untuk menyelesaikan persoalan-persoalan di masyarakat. APBD sudah pasti, tapi Baznas dan filantropis punya kekuatan luar biasa," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom