Suwarmin/Dokumen Solopos

Solopos.com, SOLO -- Bulan lalu, tepatnya Minggu (22/9/2019) malam, Malaysia Airlines terbang perdana dari Solo ke Kuala Lumpur. Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Zainal Abidin Bakar, kepada media mengatakan pembukaan rute Solo-Kuala Lumpur adalah natural.

Menurut dia, investasi Malaysia di Jawa Tengah mencapai US$320 juta, 700 warga Malaysia belajar di Jawa Tengah, dan wisatawan Malaysia merupakan yang terbanyak di Jateng, yakni 66.000 orang.

Penerbangan Solo-Kuala Lumpur itu sekaligus menjadi tengara bahwa Malaysia serius menggarap pasar Soloraya dan Jawa Tengah. Rupanya Kedutaan Besar Malaysia menilai Jawa Tengah sebagai salah satu potensi pariwisata di Indonesia.

Zainal Abidin mengatakan saat ini banyak sekali warga Indonesia melancong ke negerinya. Kebanyakan mereka berwisata, berbelanja atau berobat [Bisnis.com, Sabtu (21/9/2019)]. Selama sepekan pada 20-26 September lalu, Zainal menggandeng Malaysia Tourism mempromosikan Visit Malaysia 2020 di Jogja, Solo, dan Semarang (Joglosemar). Malaysia mematok target 30 juta pelancong asing tahun depan.

Agenda di Jogja, Solo, dan Semarang (Joglosemar) itu diharapkan bisa menghubungkan bisnis travel agent Jawa Tengah dengan Malaysia. Diharapkan juga akan bermunculan produk-produk lain untuk perkembangan pariwisata di kedua belah pihak.

Pariwisata hanyalah bungkus pemanis agenda Malaysia ke kawasan Joglosemar. Mereka juga berjualan properti dalam kemasan Malaysia My Second Home. Mereka juga menjual paket berobat di sejumlah rumah sakit di Malaysia yang diklaim lebih murah daripada rumah sakit di Singapura.

Berbagai platform promosi digeber. Mulai dari iklan online, media cetak, hingga talk show radio. Malaysia memang serius menggarap pasar Soloraya. Pasar rumah sakit salah satunya. Teman saya bercerita, tak sedikit warga Solo yang biasanya berobat ke Singapura sekarang pindah berobat ke Malaysia. Lebih murah, kualitas tidak kalah.

Yang Bisa Ditawarkan dari Solo

Masih ada lagi. Sebuah grup konsultan kehumasan yang berbasis di Kuala Lumpur juga menyambangi Solo. Mereka ingin tahu apa saja yang bisa disajikan di Solo untuk ditawarkan kepada orang-orang Malaysia. Para konsultan itu menyempatkan jalan-jalan ke berbagai sudut Kota Solo.

Mereka ke Pasar Klewer, Kampung Batik Kauman, Kampung Batik Laweyan, Keraton Solo, Pura Mangkunegaran, tak lupa makan thengkleng. Mereka terkesan pada batik Solo karena bagus-bagus dan murah. Tentang thengkleng dan aneka kuliner Solo, mereka mengakui kelezatannya.

Tentang keraton, mereka menggelengkan kepala. Mereka masih kebingungan, paket apa yang akan mereka tawarkan kepada rekanan mereka di Malaysia. Konsultan kehumasan itu mempunyai target ganda. Membantu perusahaan-perusahaan Malaysia berjualan di Soloraya, sekaligus mencari celah destinasi pariwisata di Soloraya yang bisa disodorkan kepada agen-agen perjalanan di Malaysia.

Setelah Malaysia Airlines menerbangi Solo-Kuala Lumpur, pasar umrah pun mereka dapatkan. Biro umrah banyak yang menggeser penerbangan menyesuaikan dengan penerbangan Malaysia Airlines. Artinya pakai umrah Solo-kuala Lumpur-Jedah laris manis.

Kata teman yang mengelola biro perjalanan, penerbangan Malaysia Airlines Solo-Kuala Lumpur pada 6 November 2019 semua ludes terjual. Semuanya jemaah umrah. Sampai saat ini Malaysia pintar menggarap dua pasar yang relatif matang: umrah dan rumah sakit.

Jalur penerbangan Solo-Kuala Lumpur ini sebenarnya bisa menjadi batu loncatan untuk menjajakan Soloraya ke pasar internasional. Bukan hanya menjual Soloraya, namun juga menjual Jawa Tengah. Bandara Adi Soemarmo akan menjadi bandara terpenting di Jawa Tengah sekaligus pintu gerbang lalu lintas internasional.

Kabarnya, pengelola bandara juga menjajaki jalur penerbangan Solo-Singapura. Soloraya memang memerlukan jalur internasional melalui Solo. Ini akan menjadi langkah lanjutan dari koneksitas moda transportasi di Soloraya dengan bandara sebagai pusatnya.

Kereta Bandara

Sebentar lagi jalur kereta bandara yang menghubungkan Stasiun Solo Balapan dan Stasiun Bandara Adi Soemarmo beroperasi. Jalur yang menghubungkan bandara ke tol Trans-Jawa juga segera diaktifkan. Penerbangan internasional melalui Solo sebenarnya organik dan natural.

Rabu pekan lalu, saya menjajal terminal Bandara Adi Soemarmo yang masih gres alias baru. Meski tergesa-gesa karena mengejar penerbangan ke Jakarta, saya bisa melihat penampakan baru bandara Adi Soemarmo lebih gagah, lebih mewah, lebih besar.

Jalur dari pemeriksaan penumpang ke ruang tunggu yang melingkar, lounge memanjang yang belum terisi tenant, dan pendingin ruangan yang hidup sepanjang jalur itu. Sayang, bandara megah itu masih sepi. Mungkin karena tengah pekan. Mungkin juga karena sedang tidak ada jemaah umrah.

Malaysia serius menggarap pasar Soloraya. Bagaimana dengan kita? Sementara ini ada kipasan angin segar Solo menjadi bagian dari Jogja-Solo-Semarang sebagai “Bali baru”, namun sebagian besar pengelola pariwisata Soloraya masih bergerak sendiri-sendiri.

Pemerintah daerah masih sibuk mengurus pemilihan kepala daerah sehingga agenda promosi wisata belum menjadi agenda utama. Kalau toh melakukan promosi, biro perjalanan asing yang diundang ke Soloraya sering kali selalu sama dari waktu ke waktu.

Keraton masih sibuk bertengkar sendiri. Event budaya masih jago kandang, belum mampu mengundang pelancong asing. Koneksitas moda transportasi yang berbasis bandara belum membuat koneksitas para penguasa daerah di Soloraya. Jangankan berjualan destinasi bersama-sama, sekadar duduk bersama mengembangkan pasar wisata pun rasanya sangat sulit dilakukan.

Belajar dari Banyuwangi

Soloraya mungkin perlu belajar dari Banyuwangi. Daerah yang dulu dikenal sebagai Blambangan itu beberapa tahun belakangan ini menggelar promosi gila-gilaan. Hasilnya sangat terasa. Setidaknya banyak wisatawan Nusantara dan asing penasaran dengan destinasi di Tanah Osing itu.

Mirza Ananda dari Batari Tour and Travel bercerita rata-rata setiap bulan dia bisa menjual 100 paket wisata ke Banyuwangi. “Hanya karena penasaran, di sana ada apa. Penasaran karena iklan destinasinya yang macam-macam. Padahal, sebenarnya di sana juga belaum terlalu ready sebenarnya. Tapi, ya itu tadi, karena [Banyuwangi] sedang trending di media sosial dan branding di mana-mana, banyak yang penasaran,” kata Mirza.

Sebenarnya Soloraya punya potensi luar biasa. Wisata budaya, pusat kuliner, pusat batik, dan paduan pemandangan alam di Soloraya hanya memerlukan polesan akhir untuk menjadikan sebagai destinasi wisata yang menawan.

Era digital yang hyper-connected membuat pengelola destinasi wisata bisa membidik pasar internasional melalui fasilitas media sosial atau jejaring digital lainnya. Pendek kata, kita bisa “menjemput” pelancong asing melalui media sosial dan jejaring mobil. Kampus semestinya juga turun ke gelanggang membantu mengisi kekosongan kreativitas pengelolaan destinasi ini.

Percuma kita punya infrastrukktur memadai. Bandara mewah, tol yang megah, jalur kereta yang terkoneksi ke bandara dan seterusnya, hanya akan menjadi infrastruktur eksklusif jika kita tidak mampu memanfaatkan, atau kita hanya ingin saling menyalahkan dan membiarkan negara lain mengambil uang belanja masyarakat kita


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten